Kepala BLA Jakarta: Program Pemerintah Perlu Dievaluasi melalui Riset
NU Online · Senin, 10 Agustus 2020 | 08:30 WIB
Kepala BLA Jakarta Nurudin Sulaiman berbicara dalam penyusunan policy brief hasil riset. (Foto: NU Online/Musthofa Asrori)
Muhammad Syakir NF
Penulis
Jakarta, NU Online
Beragam program, kegiatan, dan kebijakan pemerintah yang telah dilaksanakan dan diputuskan perlu dievaluasi sebagai bentuk perbaikan. Riset terhadap fenomena yang terjadi di masyarakat menjadi satu langkah evaluasi tersebut.
Kepala Balai Litbang Agama (BLA) Jakarta Nurudin Sulaiman mengatakan hal tersebut saat membuka resmi kegiatan penyusunan final Policy Brief ‘Penelitian Tradisi Keagamaan dalam Manuskrip’ di kawasan Senen, Jakarta, Senin (10/8).
“Penelitian yang dilakukan oleh kementerian dan lembaga negara diarahkan pada rumusan kebijakan yang terbagi menjadi dua,” kata Doktor administrasi publik jebolan Universitas Indonesia ini.
Pertama, kata dia, rumusan kebijakan dalam bentuk policy brief. Penelitian ini dilakukan guna mengevaluasi program dan kegiatan yang telah dilaksanakan oleh kementerian dan lembaga. Hal ini juga berarti bahwa sebelumnya sudah ada regulasinya.
Policy brief ini, menurut dia, merupakan alternatif kebijakan. Jika melihat kebijakan sudah tepat, maka perlu dipertahankan dan dikembangkan. Kalau kegiatan yang sudah ada kurang tepat, maka perlu adanya perbaikan. Sementara jika program yang telah dijalankan tidak tepat, maka perlu dihapuskan.
Di samping itu, policy brief juga harus memunculkan lembaga atau instansi yang menjadi pemangku kebijakannya. Dengan begitu, lanjutnya, mereka dapat langsung mengimplementasikannya.
"Poin utama penelitian ketika dibaca bisa diimplementasikan dengan adanya policy brief," papar Nurudin.
Sebab, pemerintah atau negara melalui lembaga dan kementerian yang disebut dalam policy brief tersebut memiliki otoritas untuk mengeluarkan program atau kebijakannya.
Adapun jenis kedua, naskah akademik, dibuat untuk mendorong lahirnya sebuah regulasi. "Telaah strategis yang sifatnya baru, mendorong regulasi," kata pria asal Banyuwangi Jawa Timur ini.
Lebih lanjut, Nurudin menegaskan bahwa penelitian juga sangat penting dari persiapannya. Bukan saja dari pengumpulan data dan pembuatan hasil akhirnya. Sebab, seringkali kelemahan penelitian terletak pada rumusan masalahnya.
Kegiatan ini selain dihadiri oleh para peneliti BLA Jakarta, hadir juga ahli di bidangnya yang mengkritisi hasil policy brief tersebut, yakni peneliti Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Dadi Darmadi dan Ketua Umum Masyarakat Pernaskahan Nusantara (Manassa) Pusat sekaligus Kepala Laboratorium Filologi Universitas Indonesia Munawar Holil.
Pewarta: Syakir NF
Editor: Musthofa Asrori
Terpopuler
1
Pengumuman Hasil Seleksi Berkas Beasiswa Al-Azhar Mesir 2026, Cek Daftar Namanya di Sini
2
Muktamar Ilmu Pengetahuan 2026 di UIN Sunan Kudus Perkuat Konsolidasi Ilmuwan NU untuk Transformasi Sosial
3
Pemadaman Listrik dan Pergeseran Tanggung Jawab Negara atas Barang Publik
4
Prediksi Cuaca 26 Juni-2 Juli 2026: Kemarau Makin Terasa, Dinamika Atmosfer Picu Hujan di Sebagian Daerah
5
Gempa Magnetudo 5,6 Guncang Pacitan, Terasa hingga Yogyakarta
6
Festival Adat Budaya Nusantara, Lebih dari 100 Raja dan Sultan Sedunia Bakal Kumpul di Salatiga
Terkini
Lihat Semua