KH Miftachul Akhyar: Doa itu Sari Patinya Ibadah
NU Online · Kamis, 8 Juni 2023 | 18:00 WIB
Malik Ibnu Zaman
Kontributor
Jakarta, NU Online
Rais 'Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Miftachul Akhyar menjelaskan bahwa meminta kepada Allah merupakan ajaran agama yang dikenal dengan nama ad-du'a, dalam sebuah hadits disebutkan bahwa doa merupakan sari patinya ibadah.
"Bahkan dalam sebuah hadits disebutkan mukhul ibadah, doa itu sumsumnya ibadah, sari patinya ibadah, intisarinya ibadah," ujarnya pada Ngaji Syarah Al-Hikam Pertemuan ke-36 yang diakses oleh NU Online di Channel YouTube Multimedia KH Miftachul Akhyar, Kamis (8/6/2023).
Ia menjelaskan bahwa doa itu hanya kepada Allah, sebab namanya ibadah hanya kepada Allah, di mana ibadah melahirkan rendah hati disertai kebutuhan hanya kepada Allah.
Namun, Kiai Miftach menjelaskan bahwa orang yang berada di maqom muhyidin al-arifin sudah tidak perlu doa. Sebab semua janji Allah sudah ditentukan. Doa minta dan tidak minta pasti akan sampai, tidak akan pernah batal apa yang sudah ditentukan oleh Allah.
"Hanya saja untuk kita ya doa ini merupakan hal yang pokok dan penting di kehidupan, doa itu tetap dilakukan. Perintah Allah merupakan badul asbab, sebagian sebab-sebab yang sudah ditentukan oleh Allah dalam kehidupan di dunia ini, kita hidup di dunia nggak bisa lepas dari sebab dan musabab, istilahnya hukum kausalitas," jelasnya.
Pengasuh Pondok Pesantren Miftachus Sunnah Surabaya tersebut menjelaskan bahwa Allah sudah menjadikan semuanya ada sebabnya. Maka, ucap Kiai Miftach, manusia tidak boleh lepas dari aturan, tidak boleh lepas dari hukum kausalitas yaitu harus melakukan apa-apa yang sudah ditentukan oleh Allah dengan hukum sebab musabab.
"Allah menciptakan aturan ini kuasa, tidak menciptakan aturan ini kuasa, tetapi Allah menghendaki agar kita hidup itu sudah menjadi sunnatullah. Allah memang kuasa, tetapi Allah sudah mentakdirkan hidup di dunia ini ada aturan, ada tata tertib, ada doa," ungkapnya.
Ia menegaskan bahwa karena doa itu merupakan perintah Allah dan tata kramanya seoarang yang butuh (faqir), maka harusnya manusia menunjukkan kefaqiran hanya kepada Allah, sebab Allah itu muatsir.
"Allah dzat yang mutlak, Allah perintah doa, bahkan Rasulullah saw menjelaskan kalau meminta harus dengan penuh keyakinan di samping juga menampakan kefakiran kita. Kita ini memang faqir, nggak punya apa-apa. Maka agar doa kita disebut doa yang shohih, mulai sekarang diubahlah harus ada tata krama. Karena doa ini perintah Allah, harus tata krama kepada Allah, yaitu menampakkan lemah kita, dhoif kita, kita nggak punya apa-apa," tutur Kiai Miftach.
Kontributor: Malik Ibnu Zaman
Editor: Fathoni Ahmad
Terpopuler
1
Pemerintah Tetapkan Idul Adha 1447 H Jatuh 27 Mei 2026
2
Tim Hisab Rukyat: Hilal Awal Dzulhijjah 1447 H Penuhi Kriteria MABIMS, Idul Adha Diperkirakan 27 Mei 2026
3
Hilal Terlihat, PBNU: Idul Adha 1447 H Rabu, 27 Mei 2026
4
Menhan Sebut Seluruh Kabupaten di Jawa Akan Dikawal Batalyon Teritorial pada 2026
5
Tiga Jurnalis Indonesia Bersama Aktivis Ditangkap Israel, Dewan Pers Minta Pemerintah Bertindak
6
Ambruknya Rupiah Dinilai Tekan Rakyat Kecil, DPR Soroti Harga Kebutuhan Pokok
Terkini
Lihat Semua