Kiai Musthofa Aqiel: Tebar Kasih Sayang Tanpa Pandang Bulu
NU Online · Ahad, 18 Juli 2021 | 12:30 WIB
KH Musthofa Aqiel Siroj saat berbicara dalam Pembacaan Sholawat Nariyah dan Doa untuk Keselamatan Bangsa dari Wabah Hari ke-22, Sabtu (17/7) malam. (Foto: Tangkapan layar YouTube TVNU)
Nila Zuhriah
Kontributor
Jakarta, NU Online
Bangsa yang kuat adalah bangsa yang mampu mengganti rasa benci menjadi rasa saling menyayangi, saling menghargai, berbuat baik, dan adil tanpa pandang bulu, baik ras, suku, kelompok, etnis, maupun agama. Khususnya ketika menghadapi situasi sulit semacam pandemi Covid-19.
Rais Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Musthofa Aqiel Siroj mengatakan hal tersebut ketika didaulat menyampaikan taushiyah dalam Pembacaan Sholawat Nariyah dan Doa untuk Keselamatan Bangsa dari Wabah Hari ke-22, Sabtu (17/7) malam.
“Sepanjang mereka tidak memusuhi kalian, maka tebarkan kasih sayang. Ini dalam rangka menerapkan ukhuwah, kebersamaan, kebangsaan. Ini luar biasa teladan Nabi Muhammad SAW ketika mendirikan negara Madinah,” kata Kiai Musthofa Aqiel.
Suatu ketika, lanjut dia, dikisahkan bahwa seorang Yahudi Madinah dituduh sahabat mencuri. Rasulullah SAW hampir percaya hingga akhirnya Jibril turun membawa wahyu, yakni surat an-Nisa ayat 112. Kemudian, Nabi membacakan ayat itu kepada para sahabat.
“Ketika Nabi Muhammad membacakan ayat tersebut kepada para sahabat, ini berarti Nabi Muhammad membela orang Yahudi. Inilah yang dinamakan ‘adalah. Meski tidak seagama, namun karena benar maka harus tetap dibela,” terangnya.
Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Banten KH Bunyamin Hafidz dalam sambutannya menjelaskan bahwa Allah mencintai amalan-amalan yang dilakukan secara kontinu meskipun sedikit.
“Seperti nariyahan yang kita lakukan malam ini, tidak banyak tapi dilakukan secara rutin oleh orang banyak,” kata Kiai Bunyamin.
Bersabar dan bersyukur
Tak lupa, ia juga mengingatkan masyarakat untuk terus bersabar dan bersyukur dan jangan sampai kehilangan keyakinan dan kepercayaan kepada Allah SWT, meski sedang dalam keadaan sulit.
“Yakin, kontinu, sabar dan ikhlas. Jika ikhlas dalam beribadah, meskipun belum dikabulkan saat ini, nanti di akhirat akan dihitung sebagai amal saleh,” tandas Kiai Bunyamin.
Hal senada juga disampaikan oleh Wakil Ketua PWNU Banten KH Sukron Makmun dalam acara yang sama. “Kita harus punya sense of belonging, rasa memiliki yang tinggi satu sama lain, tanpa pandang bulu,” tambahnya.
Pemandu Acara Ahmad Rozali dalam prolognya mengatakan, usaha lahiriyah dengan menerapkan protokol kesehatan, juga perlu diimbangi dengan usaha bathiniyah melalui doa dan ibadah lainnya.
“Kedua hal tersebut dilakukan untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT dan juga agar hajat kita semua atas keselamatan Bangsa Indonesia dikabulkan,” ujarnya.
Pantauan NU Online, Wakil Ketua Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) KH Misbahul Munir memimpin pembacaan Shalawat Nariyah. Rangkaian acara yang berjalan khidmat itu ditutup pembacaan doa oleh Rais Syuriyah PWNU Banten KH TB Abdul Hakim.
Kontributor: Nila Zuhriah
Editor: Musthofa Asrori
Terpopuler
1
PBNU Terima Kasih kepada Ploso, Minta Doa Kiai Huda untuk Munas-Konbes 2026
2
Rupiah Tembus Rp18.000 per Dolar AS, Gubernur BI Siapkan Dua Langkah Penguatan
3
Imbas Rupiah Melemah, Menkeu Sebut Pedagang Tahu dan Tempe Mulai Tertekan
4
Kasus Suap Izin Tinggal WNA, Citra Indonesia Tercoreng di Mata Dunia
5
NU Abad Kedua: Masihkah Kita Berani Berpikir Melampaui Diri Sendiri?
6
Kiai Azaim Harap Kekerasan di Pesantren Masuk Materi Munas-Konbes hingga Muktamar ke-35 NU
Terkini
Lihat Semua