Nasional

Kualitas Literasi Menurun Tergerus Medsos dan Lingkungan, Pegiat Ungkap Solusi

NU Online  ·  Senin, 13 April 2026 | 15:00 WIB

Kualitas Literasi Menurun Tergerus Medsos dan Lingkungan, Pegiat Ungkap Solusi

Gabungan komunitas literasi urun rembuk perihal gerakan pemberdayaan literasi di Kabupaten Rembang, Jawa Tengah. (Foto: dok istimewa/Dian)

Jakarta, NU Online

Hingga saat ini, minat baca masyarakat, khususnya di daerah, masih dalam tahap berproses dan berkembang. Karena itu, kondisi tersebut tidak bisa serta-merta diberi label tertentu.


Ketua Forum Taman Bacaan Masyarakat (TBM), Opik, menilai kebiasaan literasi masyarakat memiliki akar kuat dalam budaya tutur. Dalam budaya ini, pengetahuan dan nilai lebih banyak disampaikan melalui cerita, percakapan, dan interaksi sosial.


Ketika era digital hadir dengan sangat cepat, masyarakat langsung berhadapan dengan beragam informasi baru tanpa melalui proses transisi yang memadai menuju budaya baca yang kuat.


“Di daerah-daerah yang memiliki ruang baca aktif, bahan bacaan yang relevan, serta pendamping yang menggerakkan kegiatan literasi, kita bisa melihat antusiasme masyarakat, terutama anak-anak, yang cukup tinggi terhadap kegiatan membaca,” ujar Opik kepada NU Online, Senin (13/4/2026).


Sebaliknya, di wilayah dengan akses terbatas dan tanpa fasilitator, membaca belum tumbuh menjadi kebiasaan alami.


“Jadi, saya melihat kondisi saat ini sangat bergantung pada ekosistem literasi yang dibangun. Ketika akses terbuka dan fasilitator hadir secara aktif, budaya baca memiliki peluang besar untuk tumbuh, bahkan berakar dari kebiasaan tutur yang sudah lebih dulu hidup di masyarakat,” lanjutnya.


Ia menambahkan, istilah rendahnya minat baca sebenarnya lebih tepat dipahami sebagai belum kuatnya ekosistem literasi. Salah satu faktor utamanya adalah ketidaksesuaian pendekatan literasi dengan budaya masyarakat yang sejak awal berbasis tutur.


“Masyarakat terbiasa belajar melalui cerita dan interaksi, tetapi pendekatan membaca yang dihadirkan sering kali terlalu tekstual dan kurang menjembatani kebiasaan tersebut,” jelasnya.


Selain itu, perkembangan digital yang sangat cepat juga memengaruhi cara masyarakat mengakses informasi. Tanpa pendampingan literasi, masyarakat cenderung menjadi konsumen informasi instan, bukan pembaca yang mendalam.


Pengaruh lingkungan keluarga dan pendidikan juga sangat besar, bahkan menjadi fondasi utama dalam membentuk budaya membaca. Di keluarga, anak pertama kali mengenal bahasa, cerita, dan cara memahami dunia.


“Ketika pembelajaran dikemas melalui diskusi, membaca ekspresif, atau kegiatan yang mengaitkan bacaan dengan kehidupan peserta didik, maka membaca menjadi lebih hidup dan relevan,” tegas Opik.


Eksistensi Literasi dan Pengaruh Media Sosial

Menurut Opik, perkembangan media sosial membawa dampak besar terhadap kebiasaan membaca, dan sifatnya tidak tunggal.


Di satu sisi, media sosial mendorong pola membaca yang cepat, singkat, dan berpindah-pindah. Informasi dikonsumsi dalam potongan pendek, sehingga kebiasaan membaca mendalam berkurang, terutama pada generasi muda yang akrab dengan dunia digital.


Di sisi lain, media sosial juga membuka akses luas terhadap sumber pengetahuan. “Banyak orang yang sebelumnya sulit mendapatkan bahan bacaan, kini bisa mengakses informasi dengan lebih mudah melalui gawai mereka,” jelasnya.


Menurutnya, kunci utama terletak pada pendampingan. Tanpa fasilitator, media sosial cenderung menjadikan masyarakat sebagai konsumen informasi pasif. Namun, dengan pendampingan di sekolah, keluarga, maupun komunitas seperti TBM, media sosial justru dapat menjadi pintu masuk untuk menumbuhkan minat baca.


Sementara itu, pegiat literasi D. Satya Wicaksana menilai minat baca masyarakat masih tergolong rendah dan menjadi persoalan yang terjadi hampir di seluruh daerah di Indonesia. Meski demikian, ia melihat adanya harapan dan potensi yang cukup besar.


“Ketika akses terhadap buku yang menarik dan sesuai usia tersedia, serta ada kegiatan yang mendorong interaksi dengan buku, masyarakat, terutama anak-anak, kerap menunjukkan ketertarikan yang baik,” ungkap Satya.


Menurutnya, minat baca sebenarnya ada, tetapi perlu difasilitasi dan dibimbing secara berkelanjutan. Peran orang tua menjadi kunci utama dalam menanamkan kebiasaan membaca sejak dini.


Beberapa faktor yang memengaruhi rendahnya minat baca antara lain keterbatasan akses bahan bacaan berkualitas, kurangnya pembiasaan membaca sejak dini, dominasi gawai dan hiburan digital, serta belum meratanya ruang membaca yang hidup dan menarik.


“Keluarga adalah tempat pertama anak mengenal buku. Jika orang tua membiasakan membaca atau menyediakan waktu membaca bersama, anak akan melihat membaca sebagai kegiatan yang menyenangkan, bukan kewajiban,” pungkasnya.


Selain keluarga, sekolah juga memiliki peran penting melalui perpustakaan aktif, kegiatan literasi, dan dukungan guru. Berdasarkan pengalaman komunitas literasi, anak-anak yang mendapat dukungan dari keluarga dan sekolah cenderung memiliki minat baca yang lebih kuat dan bertahan lama.


Media sosial pun memiliki dua sisi. Di satu sisi, ia dapat menurunkan minat membaca buku panjang karena masyarakat terbiasa dengan konten singkat. Namun di sisi lain, media sosial juga dapat menjadi sarana efektif untuk mempromosikan budaya membaca, seperti melalui rekomendasi buku, kutipan inspiratif, dan kegiatan literasi komunitas.

Gabung di WhatsApp Channel NU Online untuk info dan inspirasi terbaru!
Gabung Sekarang