Perkembangan teknologi digital terus beranjak maju seiring mengalirnya waktu. Hal ini di berbagai negara mengikis tradisi lokal yang tumbuh dan berkembang di masa sebelumnya. Pencegahan dari hal tersebut tentu saja perlu dilakukan sehingga kekhawatiran tidak akan menjadi sebuah kenyataan.
Membaca manuskrip menjadi salah satu jalan dalam upaya menjaga manusia tidak tercerabut dari akar budaya dan tradisinya.
“Saya ingin mengajak masyarakat Indonesia, sobat Ngariksa khususnya, langsung interaktif mengalami membaca manuskrip yang kalau bukan bidangnya itu pasti tidak akan ngalamin,” kata Oman Fathurahman, guru besar filologi Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, saat Ngaji Manuskrip Kuno Nusantara (Ngariksa) di Ciputat, Tangerang Selatan, Banten, Jumat (6/12) malam.
Secara substantif, dengan hal tersebut, bangsa Indonesia akan sadar dengan kepemilikan akan kekayaan khazanah literaturnya. “Saya berharap tidak kehilangan identitas jati diri kita sebagai bangsa yang memiliki khazanah luar biasa banyak,” ujar alumnus Pesantren Cipasung, Tasikmalaya, Jawa Barat itu.
Terlebih visi pemerintahan Indonesia saat ini adalah Indonesia Maju. Kemajuan ini, harapnya, tidak sekadar dilihat dari transformasi digitalnya, tetapi juga nilai-nilai tradisi dan kebudayaannya tetap terjaga.
Hal itulah yang dilakukan olehnya dengan mengaji manuskrip menggunakan metode digital dan disiarkan langsung melalui berbagai saluran media sosial.
Jepang, katanya, bisa menjadi contoh dalam hal ini. Meskipun teknologinya berkembang begitu pesat, tetapi tradisionalitasnya tetap terjaga dengan baik di saat negara-negara lain mengalami krisis identitas akibat kemajuan teknologinya.
“Saya khawatir, di Korea di beberapa negara lain yang IT nya sangat maju, itu sebetulnya ada krisis identitas juga dalam beberapa hal. Masyarakat semakin tidak tahu dirinya siapa saking sudah tergantikan robotik. Kita bisa mencontoh Jepang IT-nya maju, tetapi nilai tradisional tetap dijaga,” pungkasnya.
Pewarta: Syakir NF
Editor: Muchlishon
Terpopuler
1
Pemerintah Tetapkan Idul Adha 1447 H Jatuh 27 Mei 2026
2
Tim Hisab Rukyat: Hilal Awal Dzulhijjah 1447 H Penuhi Kriteria MABIMS, Idul Adha Diperkirakan 27 Mei 2026
3
Hilal Terlihat, PBNU: Idul Adha 1447 H Rabu, 27 Mei 2026
4
Menhan Sebut Seluruh Kabupaten di Jawa Akan Dikawal Batalyon Teritorial pada 2026
5
Tiga Jurnalis Indonesia Bersama Aktivis Ditangkap Israel, Dewan Pers Minta Pemerintah Bertindak
6
Ambruknya Rupiah Dinilai Tekan Rakyat Kecil, DPR Soroti Harga Kebutuhan Pokok
Terkini
Lihat Semua