Menggugat Budaya Spill Aib, Quraish Shihab Ingatkan Bahaya Penyakit Prasangka
NU Online · Senin, 23 Februari 2026 | 18:00 WIB
Rikhul Jannah
Kontributor
Jakarta, NU Online
Gempuran budaya media sosial kerap merayakan pengungkapan aib atau cancel culture. Pendiri Pusat Studi Al-Qur’an (PSQ) sekaligus Pakar Tafsir Prof M Quraish Shihab mengingatkan bahaya penyakit prasangka psikologi manusia yang bermula dari hati lalu mewujud dalam tindakan investigatif yang destruktif.
Menurutnya, batasan antara waspada dan curiga kini kian kabur. “Banyak orang merasa memiliki hak untuk menghakimi sesama hanya berdasarkan informasi yang belum mencapai derajat keyakinan penuh atau haqqul yaqin,” ujar Prof Quraish dalam Pengajian Tafsir Al-Misbah: Hidup Bersama Al-Quran yang bertajuk Berbaik Sangka Diantara Curiga dalam akun YouTube Pusat Studi Al-Qur’an pada Senin (23/2/2026).
Ia menjelaskan bahwa dalam agama Islam, terdapat tingkatan persepsi manusia yang harus dipahami agar tidak terjerumus dalam dosa sosial. Mulai dari waham (dugaan tak berdasar) hingga dzon (prasangka yang memiliki dasar namun belum pasti).
Masalahnya, lanjut Prof Quraish, masyarakat saat ini sering kali bertindak jauh melampaui fakta yang ada.
"Hindarilah banyak dzon (dugaan), karena banyak sangkaan itu yang tidak benar. Jangan cari tahu kesalahan orang. Kalau mencari tahu saja dilarang, apalagi membuka kesalahan orang," tegas Prof Quraish.
Ia menambahkan bahwa jika seseorang terus-menerus disibukkan dengan aib orang lain, mereka akan kehilangan waktu untuk memperbaiki diri sendiri.
Prasangka pada diri sendiri
Selain hubungan antarmanusia, Prof Quraish juga menyoroti aspek psikologis mengenai cara individu memandang dirinya.
Ia mengungkapkan bahwa kecenderungan orang yang terlalu keras menghakimi diri sendiri hingga kehilangan harapan. Baginya, berburuk sangka pada diri sendiri adalah bentuk ketidakpercayaan pada rahmat Tuhan.
"Agama melarang Anda putus asa. Betapapun sulitnya keadaan Anda, betapapun buruknya penilaian Anda terhadap diri Anda, itu bisa diperbaiki atas bantuan Tuhan," ujarnya.
Prof Quraish juga mengingatkan bahwa kualitas masyarakat diukur dari sejauh mana mereka bisa saling menutupi aib.
“Jika psikologi masyarakat sudah terlalu rusak, kewaspadaan memang diperlukan, namun tidak boleh menjadi alasan untuk kehilangan kesopanan dan etika dasar dalam berinteraksi,” katanya.
Terpopuler
1
PBNU Rilis Twibbon Hari Santri 2026, Unduh Linknya di Sini
2
KH Syukron Makmum dan Daarul Rahman-nya
3
Ketum GP Ansor: Keteladanan KH Abbas Buntet Layak Diabadikan sebagai Pahlawan Nasional
4
Akhir Perang AS-Israel Versus Iran
5
Masyarakat Sipil Gelar Aksi di Tugu Proklamasi dan Tugu Tani Besok, Soroti Dua Tahun Pemerintahan Prabowo-Gibran
6
Karhutla Belum Reda, Rais Aam PBNU Ajak Masyarakat Terus Berdoa agar Musibah Segera Berakhir
Terkini
Lihat Semua