Menristek: Ilmu Pengetahuan Butuh Agama untuk Penyeimbang
NU Online · Kamis, 5 November 2015 | 18:02 WIB
Jakarta, NU Online
Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi Muhammad Nasir mengatakan ilmu pengetahuan harus selalu menyertakan agama karena mengajarkan kebaikan dan etika, sehingga menjadi penyeimbang dalam perkembangan sains dari masa ke masa.Â
<>
"Orang dididik dengan baik maka harus ditunjang dengan etika. Etika atau agama ini yang akan melengkapi," kata Nasir di Jakarta, Kamis.
Menurut dia, ilmu pengetahuan harus bersanding dengan agama. Dengan kata lain, jangan sampai kemajuan tidak dibarengi dengan etika. Karena jika sains berdiri sendiri maka akan menuju pada atheisme atau paham tidak mengenal Tuhan.
Menteri mencontohkan teknologi kloning memerlukan kajian agama. "Misalnya kloning dengan subjek manusia tentu perlu kajian agama. Belum lagi dengan kloning yang merekayasa sperma dan sel telur itu dibolehkan tidak jika menggunakan yang bukan dari suami istri," kata Menristekdikti.
Sains, kata Nasir, harus sedini mungkin diintegrasikan dengan pendidikan di Indonesia. Dalam konteks lingkungan kerja Kemenristekdikti, dia mengatakan perlu kerja sama dengan beberapa unsur keagamaan di Indonesia termasuk Kementerian Agama guna mengintegrasikan supaya sains tidak keluar dari bingkai agama.
"Di sinilah perlunya sinergitas di antara kementerian dan lembaga negara," kata dia. (Antara/Mukafi Niam)
Terpopuler
1
Khutbah Jumat: Nuzulul Qur’an dan Spirit Membaca untuk Peradaban
2
Khubah Jumat: Separuh Ramadhan Telah Berlalu, Saatnya Muhasabah Diri
3
Mulai Malam Ini, Dianjurkan Baca Qunut pada Rakaat Terakhir Shalat Witir
4
Khutbah Jumat: Refleksi Puasa, Sudahkah Meningkatkan Kepedulian Sosial?
5
Antrean BBM Mengular di Medan, Harga Naik dan Stok Langka
6
Khutbah Bahasa Jawa: Ramadhan, Wekdal Sahe kangge Ngathahake Maos Al-Quran
Terkini
Lihat Semua