Nasional

Muslimat NU dan Kemenko Perekonomian Kolaborasi Perluas Lapangan Kerja

NU Online  ·  Selasa, 21 April 2026 | 20:30 WIB

Muslimat NU dan Kemenko Perekonomian Kolaborasi Perluas Lapangan Kerja

Muslimat NU menggelar FGD bersama Kemenko Perekonomian RI di Kantor PP Muslimat NU, Jakarta Selatan, Selasa (21/4/2026). (Foto: dok Herlyn)

Jakarta, NU Online

Pimpinan Pusat (PP) Muslimat Nahdlatul Ulama (NU) Bidang Ketenagakerjaan dan Pelatihan menggelar focus group discussion (FGD) bersama mitra Kementerian Koordinator (Kemenko) Perekonomian RI di Kantor PP Muslimat NU, Jakarta Selatan, Selasa (21/4/2026).


Forum kolaborasi ini bertujuan memperluas kesempatan kerja sekaligus menekan angka pengangguran yang masih menjadi tantangan.


Ketua Bidang Ketenagakerjaan dan Pelatihan PP Muslimat NU, Hj. Ariza Agustina, menyebut Muslimat NU memiliki potensi besar dari sisi sumber daya perempuan yang belum sepenuhnya terserap ke pasar kerja.


“Kami ingin meningkatkan partisipasi angkatan kerja perempuan dengan mencari mitra untuk kolaborasi dan sinergi. Alhamdulillah, Kemenko Perekonomian memfasilitasi pertemuan ini dengan berbagai mitra,” ujar Ariza kepada NU Online.


Dalam forum tersebut, sejumlah pihak turut terlibat, di antaranya Koperasi Merah Putih Nasional Pesantren, APERNU (Advokasi Pemberdayaan Nusantara), pelaku usaha/UMKM seperti PT Djago, NU Kita, PT Globalindo Agro Perkasa, serta PT Harsa.


Pertemuan ini menjadi ruang untuk bertukar informasi sekaligus menjajaki peluang kerja sama konkret.


Ariza menjelaskan, salah satu bentuk kolaborasi yang mulai mengemuka adalah business matching antarpelaku usaha. Misalnya, pembahasan terkait kebutuhan bahan baku seperti gula rafinasi yang masih terbatas, sehingga diperlukan alternatif untuk mendukung keberlanjutan produksi, khususnya di sektor makanan dan minuman.


“Ini contoh business matching yang baik. Harapannya, Kemenko Perekonomian dapat terus mendukung terbentuknya kerja sama yang saling menguntungkan,” katanya.


Menurutnya, kolaborasi semacam ini semakin penting di tengah krisis global yang berdampak pada rantai pasok. Karena itu, penguatan kerja sama dalam negeri menjadi langkah strategis untuk menjaga ketersediaan barang dan stabilitas harga.


Selain itu, Muslimat NU juga mengoptimalkan program Balai Latihan Kerja (BLK) sebagai upaya peningkatan kapasitas tenaga kerja perempuan. Pengembangan yang dijajaki antara lain produksi herbal serta penguatan unit usaha seperti outlet jamu.


Peluang kerja sama juga terbuka di sektor lain, seperti pengembangan produk kopi dan susu melalui program BLK Barista. Ariza berharap mitra yang terlibat dapat berkontribusi dalam peningkatan kualitas layanan, termasuk tampilan dan fasilitas outlet melalui program tanggung jawab sosial perusahaan (corporate social responsibility/CSR).


“Masih dalam tahap penjajakan, tetapi sudah ada beberapa titik temu untuk dilanjutkan ke kerja sama yang lebih konkret,” ujarnya.


Asisten Deputi Peningkatan Inklusi Keuangan Kemenko Perekonomian RI, Erdiriyo, menambahkan bahwa Muslimat NU merupakan mitra strategis, khususnya dalam lingkup Dewan Nasional Keuangan Inklusif.


“Melalui FGD ini, kami membuka peluang kolaborasi untuk memperluas lapangan kerja, salah satunya dengan melakukan pemetaan kebutuhan pelatihan,” kata Erdiriyo.


Ke depan, kata dia, pelatihan akan dikembangkan di berbagai sektor, termasuk pertanian untuk mendukung ketahanan pangan melalui kerja sama dengan perusahaan nasional.


“Beberapa komoditas akan dikembangkan, misalnya untuk mendukung industri jamu. Hasilnya nanti bisa ditampung atau dibeli oleh perusahaan,” ujarnya.


Selain itu, pelatihan juga menyasar sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), termasuk pemanfaatan limbah menjadi produk bernilai tambah.


Kemenko Perekonomian juga akan melibatkan berbagai pemangku kepentingan dalam pelatihan berbasis digital, seperti pemasaran digital dan pengembangan produk, termasuk inovasi produk herbal seperti black garlic.


“Muslimat tidak hanya didorong sebagai konsumen, tetapi juga sebagai pelaku ekonomi yang berdaya melalui berbagai program pemberdayaan, termasuk skema business to business (B2B) matching,” jelasnya.


Sementara itu, Ketua Umum APERNU, Arif Setiyawiyoga, menilai Muslimat NU memiliki kekuatan besar dengan basis massa yang luas, sehingga berpotensi menjadi salah satu organisasi perempuan terbesar, tidak hanya di Indonesia tetapi juga di dunia.


“Dengan fondasi yang kuat, pemberdayaan berkelanjutan akan membuka peluang besar bagi Muslimat NU untuk berperan signifikan dalam perekonomian, khususnya bagi pelaku usaha perempuan,” katanya.


Ke depan, ia menilai diperlukan pelatihan berbasis topik yang terstruktur, mulai dari penguatan mental (mental building), desain produk, pengembangan merek (brand development), hingga aspek penting seperti akuntansi dan perpajakan.

Gabung di WhatsApp Channel NU Online untuk info dan inspirasi terbaru!
Gabung Sekarang