Nasional

Mustasyar PBNU Abu Mudi Ungkap Besarnya Keutamaan Majelis Taklim

NU Online  ·  Rabu, 15 April 2026 | 16:30 WIB

Mustasyar PBNU Abu Mudi Ungkap Besarnya Keutamaan Majelis Taklim

Syekh Hasanoel Basri atau Abu Mudi dalam sebuah pengajian. (Foto: tangkapan layar)

Bireuen, NU Online

Mustasyar PBNU Syekh H Hasanoel Basri HG (Abu Mudi) mengungkap besarnya keutamaan majelis taklim dalam pengajian rutin Tastafi, pada Rabu (15/4/2026).


Ia menegaskan bahwa majelis taklim memiliki nilai yang sangat tinggi dalam kehidupan umat Islam.


Abu Mudi menyampaikan bahwa jika manusia benar-benar mengetahui keutamaan orang yang menghadiri majelis taklim, maka mereka akan berlomba-lomba untuk hadir.


“Kalau orang tahu kelebihan orang yang datang ke majelis taklim, pasti mereka akan berebut hadir,” ujarnya.


Menurutnya, keutamaan tersebut tidak hanya terletak pada ilmu yang diperoleh, tetapi juga pada keberkahan, rahmat, serta ketenangan yang Allah turunkan kepada orang-orang yang berada di dalam majelis tersebut.


Di tengah perkembangan zaman dan arus digitalisasi, Abu Mudi mengakui bahwa pengajian kini dapat diakses melalui berbagai platform, seperti Youtube dan radio. Hal ini menjadi solusi bagi masyarakat yang berada jauh dan tidak memungkinkan hadir secara langsung.


Ia mencontohkan, ada masyarakat dari daerah terpencil yang tidak bisa hadir ke lokasi pengajian, tetapi tetap berupaya mencari tempat yang dapat menangkap siaran pengajian agar tetap memperoleh manfaat ilmu.


“Ada yang jauh, tidak bisa hadir, tapi mereka cari tempat supaya bisa dengar pengajian,” katanya.


Meski demikian, Abu Mudi menegaskan bahwa menghadiri majelis taklim secara langsung tetap memiliki keutamaan yang lebih besar. Hal ini sejalan dengan penyampaian moderator dalam pengajian tersebut yang menganjurkan jamaah untuk hadir langsung.


“Sebagaimana disebutkan moderator, alangkah bagusnya pengajian itu dihadiri langsung dalam majelisnya,” ujar Abu Mudi.


Menurutnya, kehadiran secara langsung menghadirkan adab, kedekatan dengan guru, serta suasana rohani yang tidak sepenuhnya dapat tergantikan oleh media daring.


Selain itu, Abu Mudi menegaskan komitmennya dalam berdakwah tanpa bergantung pada jumlah jamaah. Ia tetap menjalankan amanah untuk mengajar sebagaimana pesan gurunya, Allahyarham Abon Aziz Al-Manthiqi.


“Saya tidak terpengaruh pengajian itu sedikit atau banyak jamaah. Tugas saya tetap taklim,” tegasnya.


Ia juga mengutip amanah yang pernah disampaikan kepada sahabatnya, bahwa tugasnya adalah terus mengajar, bahkan dalam kondisi sendiri.


Beut seumeubeut, walaupun seorang diri,” ungkapnya.


Pengajian Tastafi ini terus menjadi salah satu pusat penguatan tradisi keilmuan Ahlussunnah wal Jamaah di Aceh. Konsistensi jamaah, baik yang hadir langsung maupun yang mengikuti melalui siaran daring, menunjukkan bahwa majelis ilmu tetap memiliki posisi penting di tengah masyarakat.


Abu Mudi mengajak umat Islam untuk tidak meninggalkan majelis taklim, karena di sanalah terdapat jalan memperoleh ilmu, keberkahan, serta kedekatan kepada Allah.

Gabung di WhatsApp Channel NU Online untuk info dan inspirasi terbaru!
Gabung Sekarang