Nasional MUKTAMAR KE-35 NU

Nyai Shinta Nuriyah Wahid Soroti Pentingnya Peran Perempuan dalam Perjuangan NU

NU Online  ·  Jumat, 28 Agustus 2026 | 14:05 WIB

Nyai Shinta Nuriyah Wahid Soroti Pentingnya Peran Perempuan dalam Perjuangan NU

Nyai Hj Shinta Nuriyah Wahid dalam acara Mubes Warga NU di MASS Seblak, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang, pada Jumat (28/8/2026). (Foto: NU Online/Achmad Subakti)

Jombang, NU Online
Istri Presiden ke-4 Republik Indonesia KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Nyai Hj. Shinta Nuriyah Wahid menegaskan pentingnya memperkuat peran perempuan, khususnya ibu, dalam kehidupan Nahdlatul Ulama (NU) dan pembangunan bangsa.


Hal tersebut disampaikanya dalam Musyawarah Besar (Mubes) Warga NU 2026 di halaman MA Salafiyah Syafi'iyah Seblak, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, Jumat (28/8/2026).


Nyai Shinta mengatakan, perempuan memiliki peran besar dalam kehidupan keluarga hingga bangsa. Namun, menurutnya, peran tersebut belum selalu mendapatkan ruang yang layak dalam berbagai kegiatan dan pengambilan keputusan.


Ia mencontohkan pengalaman dalam pembukaan Muktamar ke-35 NU di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang. Dalam agenda tersebut, menurut Sinta, doa untuk kelancaran kegiatan dimintakan kepada para ulama laki-laki, sementara tidak ada perempuan yang diminta memberikan doa.


“Saya merasa kecewa kemarin dalam pembukaan Muktamar NU yang ke-35 yang digelar di Pondok Pesantren Tambakberas, Jombang. Pada waktu acara pembukaan, semua para alim, para ulama diminta untuk membacakan doa bagi semuanya. Lantas ibunya di mana? Padahal yang paling mustajabah adalah doa dari ibu,” ujarnya.


Menurutnya, doa dan restu ibu memiliki posisi penting dalam kehidupan seseorang. Ia mengingatkan bahwa seorang anak dalam berbagai keadaan akan membutuhkan doa dari ibunya.


“Doa ibu adalah doa yang paling mustajabah,” tegasnya.


Ia kemudian mengutip ungkapan Annisa'u 'imadul bilad, yang bermakna perempuan merupakan salah satu penyangga kehidupan bangsa. Menurutnya, kualitas kehidupan perempuan turut berpengaruh terhadap kehidupan keluarga, masyarakat, dan negara.


“Kalau perempuan adalah tiang negara, kalau perempuannya tidak baik, maka negaranya tidak baik. Kalau perempuannya baik, maka negaranya akan baik,” katanya.


Karena itu, ia berharap perjuangan mengenai perempuan menjadi salah satu perhatian dalam perjalanan NU memasuki abad kedua. Menurutnya, Mubes Warga NU tidak semestinya hanya membicarakan persoalan internal organisasi, tetapi juga berbagai persoalan sosial yang menyangkut kehidupan masyarakat.


“Saya sekarang menginginkan agar tidak hanya itu, tapi peranan dan kehidupan wanita harus juga diperjuangkan oleh kaum Nahdliyin dan Nahdliyah,” tuturnya.


Ia menilai Mubes Warga NU 2026 memiliki arti penting karena menjadi forum warga NU setelah memasuki abad kedua. Momentum tersebut, kata dia, dapat digunakan untuk menyusun arah perjuangan NU dalam menghadapi berbagai perubahan yang berlangsung cepat di tengah masyarakat.


Ia mengingatkan bahwa sejarah Indonesia mencatat banyak perempuan yang berperan dalam perjuangan bangsa. Sinta menyebut Cut Nyak Dhien dan RA Kartini sebagai contoh tokoh perempuan yang memberikan kontribusi besar bagi Indonesia.


“Bagaimana perjuangan Cut Nyak Dhien dalam membela bangsa dan negara? Bagaimana Ibu Kartini, tanpa perjuangan Ibu Kartini kita tidak bisa membaca dan menulis. Dan masih banyak tokoh-tokoh perempuan yang memperjuangkan itu semua,” ujarnya.


Menurut Nyai Shinta, perhatian terhadap perempuan bukan sekadar persoalan kesetaraan ruang dalam organisasi, tetapi bagian dari upaya membangun bangsa. 


"Saya berharap Mubes Warga NU dapat melahirkan gagasan yang mampu memperkuat peran perempuan sekaligus menjawab berbagai tantangan masyarakat pada masa mendatang," pungkasnya.


Kontributor: Achmad Subakti

Gabung di WhatsApp Channel NU Online untuk info dan inspirasi terbaru!
Gabung Sekarang