Nasional MUKTAMAR KE-35 NU

PDNU Soroti Ketertinggalan NU dalam Bangun Ekosistem Kesehatan

NU Online  ·  Sabtu, 29 Agustus 2026 | 22:00 WIB

PDNU Soroti Ketertinggalan NU dalam Bangun Ekosistem Kesehatan

Halaqah Nasional PDNU bertema “Merumuskan Strategi Pembangunan Kesehatan dalam Menghadapi Transformasi Sistem Kesehatan Nasional, Perkembangan Teknologi dan Tantangan Global” yang digelar di STIKES Bahrul Ulum, Jombang, Jawa Timur, Sabtu (28/8/2026).

Jombang, NU Online

Perhimpunan Dokter Nahdlatul Ulama (PDNU) menyoroti pentingnya penguatan ekosistem kesehatan Nahdlatul Ulama (NU) di tengah transformasi sistem kesehatan nasional, perkembangan teknologi, dan tantangan global.


Hal tersebut mengemuka dalam Halaqah Nasional PDNU bertema “Merumuskan Strategi Pembangunan Kesehatan dalam Menghadapi Transformasi Sistem Kesehatan Nasional, Perkembangan Teknologi dan Tantangan Global” yang digelar di STIKES Bahrul Ulum, Jombang, Jawa Timur, Sabtu (28/8/2026).


Ketua PP PDNU dr Muhammad S Niam mengatakan, penguatan sektor kesehatan sejatinya telah menjadi salah satu agenda penting NU sejak Muktamar Ke-33 NU di Jombang pada 2015. Saat itu, warga Nahdliyin mulai memiliki kesadaran bahwa kesehatan merupakan salah satu dari tiga program utama jam’iyah NU, bersama pendidikan dan perekonomian.


Namun, menurutnya, kesadaran tersebut belum sepenuhnya diikuti dengan pembangunan sistem kesehatan yang kuat dan terintegrasi.


“Ketika Muktamar 2015 di Jombang, ada kesadaran warga jam’iyah NU bahwa kesehatan harus menjadi program. Tiga program utama adalah pendidikan, perekonomian, dan kesehatan,” ujarnya.


Ia menilai, sejak kesadaran tersebut muncul hingga kini, pembangunan sektor kesehatan NU belum bergerak secara signifikan. Karena itu, PDNU mendorong agar momentum saat ini menjadi titik kebangkitan layanan kesehatan Nahdliyin.


“Kita ingin membuat layanan kesehatan. Saat kita bangkit, layanan kesehatan harus diperhatikan,” katanya.


Sembilan ketertinggalan

Dalam halaqah tersebut, PDNU juga membandingkan perkembangan sistem kesehatan NU dengan Muhammadiyah. Niam menyebut Muhammadiyah telah lebih dahulu membangun layanan kesehatan secara sistematis melalui jaringan rumah sakit dan layanan kesehatan yang berkembang sejak era PKU pada awal abad ke-20.


Sementara NU, lanjutnya, baru secara lebih serius menyadari pentingnya pembangunan sektor kesehatan pada Muktamar 2015. Ia memetakan sedikitnya sembilan persoalan yang menjadi tantangan NU dalam membangun ekosistem kesehatan.


Pertama, dari sisi kelembagaan dan sumber daya, NU masih menghadapi persoalan jumlah serta integrasi rumah sakit. Kedua, sistem kesehatan NU dinilai belum terintegrasi dengan baik. Ketiga, terdapat ketertinggalan dalam pendidikan kedokteran dan pengembangan sumber daya manusia kesehatan.


Adapun pada aspek rantai pasokan, tata kelola, dan teknologi, NU menghadapi persoalan berupa lemahnya industri farmasi dan jaringan apotek. Selain itu, manajemen dan tata kelola layanan kesehatan masih perlu diperkuat, termasuk dalam hal digitalisasi dan pemanfaatan teknologi kesehatan.


“Yang pertama tentang kelembagaan dan sumber daya. Jumlah dan integrasi rumah sakit masih menjadi persoalan. Kemudian sistem kesehatan yang terintegrasi, pendidikan kedokteran dan SDM kesehatan,” jelasnya.


Selanjutnya, persoalan juga berada pada aspek pendanaan. Menurut Niam, pendanaan kesehatan NU belum terkonsolidasi dengan baik.


Persoalan lainnya adalah fokus historis NU yang selama ini lebih banyak diarahkan pada pendidikan agama dan pelayanan sosial tradisional. Kondisi tersebut membuat pembangunan sektor kesehatan belum mendapatkan perhatian yang sebanding.


Meski menghadapi berbagai ketertinggalan, Niam menegaskan bahwa persoalan utama NU bukan terletak pada keterbatasan sumber daya manusia. Menurutnya, NU memiliki banyak dokter, profesor, ahli kesehatan, pengusaha, hingga tenaga medis yang memiliki kapasitas untuk mengembangkan layanan kesehatan.


“NU sebenarnya tidak kekurangan dokter, profesor, ahli kesehatan, pengusaha maupun tenaga medis. Kelemahan utamanya adalah potensi besar, tetapi sistem integrasinya lemah,” tegasnya.


Karena itu, ia mendorong adanya strategi bersama untuk mengintegrasikan seluruh potensi tersebut dalam sebuah ekosistem kesehatan NU yang lebih kuat, profesional, dan berkelanjutan.


Kontributor: Nazlal Firdaus Kurniawan 

Gabung di WhatsApp Channel NU Online untuk info dan inspirasi terbaru!
Gabung Sekarang