Pesan Mursyid Naqsyabandiyah tentang Gelombang Kompetisi Kehidupan
NU Online · Selasa, 29 Januari 2019 | 17:01 WIB
Ciamis, NU Online
Mursyid Tarekat Naqsyabandiyah Khalidiyah KH Irfa'i Nachrowi An-Naqsyabandy selalu memiliki pandangan tersendiri terhadap situasi yang tengah terjadi di masyarakat, misalnya tentang perbincangan publik di media sosial. Kepada salah seorang putranya, Ayatullah Atabik Janka Dausat, beliau berpesan tentang bagaimana caranya menghadapi gelombang kompetisi kehidupan.
KH Irfa'i Nachrowi An-Naqsyabandy mengatakan, Allah telah menciptakan setiap umat memiliki sir'ah (aturan atau undang-undangnya) dan minhajnya (cara berpikir, metodologi) dan Allah telah menciptakan setiap umat ada kiblatnya.
Menurut Dewan Khas Pengurus Besar Majelis Dzikir Hubbul Wathon (MDHW) ini, pemimpin umat adalah kiblat ruhani bagi umatnya dan Allah tetapkan setiap golongan akan bangga dengan golongannya.
“Maka setiap seruan atau pernyataan setiap pemimpin itu pasti kebaikan, kemajuan bagi umatnya. Maka dari itu, mestinya umat (organisasi) yang lain itu tidak perlu tersinggung. Setiap pemimpin umat (pemimpin organisasi) pasti akan menyerukan seperti itu, hingga terealisasilah fastabiqul khairat (berlomba-lomba dalam kebaikan) yang dikehendaki oleh Allah SWT,” jelasnya, Selasa, (29/1).
Pengasuh Pondok Pesantren Kasepuhan Qasrul Arifin Atas Angin, Kampung Sarok, Ciamis, Jawa Barat ini kemudian mengutip firman Allah: Innamal mukminuna ikhwatun fa aslihu baina akhawaikum.
“Tidak lain orang-orang beriman itu adalah saudara, maka tidak ada tugas yang lebih penting kecuali aslihu baina akhawaikum (damaikanlah di antara saudaramu, red.). Mari kita memohon kepada Allah dengan taufik dan hidayahnya agar kita diberikan kedewasaan untuk menghadapi gelombang kompetisi kehidupan yang semakin dahsyat agar kita bisa tetap dalam porsi kemuliaan yang dianugerahkan kepada kita,” jelasnya lagi.
Ia lalu mengutip ayat lain, kuntum khaira umatin ukhrijat lin nasi wa ta'muruna bil ma'ruf wa tanhauna anil munkar. Artinya: kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk umat manusia, yang menyuruh untuk berbuat ma'ruf dan mencegah dari kemunkaran.
“Dengan terealisasinya Firman Allah: fastabiqul khairat, kita akan menyaksikan sejuk dan indahnya bumi Nusantara berhias pelangi dari perwujudan Islam sebagai rahmatan lil alamin,” pungkasnya. (Hakim Muzayyan/Abdullah Alawi)
Terpopuler
1
Pemadaman Listrik dan Pergeseran Tanggung Jawab Negara atas Barang Publik
2
Muktamar Ilmu Pengetahuan 2026 di UIN Sunan Kudus Perkuat Konsolidasi Ilmuwan NU untuk Transformasi Sosial
3
Gempa Magnetudo 5,6 Guncang Pacitan, Terasa hingga Yogyakarta
4
Muktamar Ilmu Pengetahuan IV Dorong Lahirnya Gagasan Strategis untuk Bangsa
5
Mulai 1 Juli 2026, Kemenhaj Alihkan Seluruh Penerbangan Umrah dan Haji Khusus ke Terminal 2F
6
5 Calon Manajer KDMP Meninggal, Bukti Pelatihan Militer bagi Sipil Tidak Relevan
Terkini
Lihat Semua