Psikolog Bagikan Tips Merespons Pertanyaan 'Kapan Nikah' saat Silaturahim Lebaran
NU Online · Jumat, 20 Maret 2026 | 15:00 WIB
Ahmad Solkan
Kontributor
Jakarta, NU Online
Pertanyaan yang muncul saat momen silaturahim Idul Fitri atau Lebaran, jika ditanggapi dengan tepat, dapat mempererat hubungan dan menghadirkan suasana kekeluargaan. Termasuk pertanyaan yang kerap dianggap mengganggu privasi, seperti soal pernikahan, pasangan, anak, hingga komentar fisik.
Akademisi Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, Lu’luatul Chizanah, memberikan alternatif cara merespons pertanyaan-pertanyaan tersebut. Menurutnya, penting bagi masyarakat, khususnya generasi muda, untuk menyiapkan respons yang tepat, alih-alih langsung melabelinya sebagai pertanyaan toksik.
“Respons yang tepat adalah yang bersifat asertif dan tidak menyerang orang lain. Ketimbang menjawab dengan ‘bukan urusanmu’ atau ungkapan sejenis, kita bisa menyampaikan pertanyaan retoris, misalnya, ‘wah iya, ada saran?’,” ujarnya saat diwawancarai NU Online, Jumat (20/3/2026).
Menurutnya, respons tersebut dapat menjadi cara untuk menilai keseriusan atau kepedulian pihak yang bertanya, termasuk apakah mereka siap memberikan solusi atau sekadar basa-basi.
“Terakhir, jangan lupa berikan senyuman paling elegan yang bisa kita tampilkan,” tambahnya.
Luluk menjelaskan, pertanyaan yang menyentuh ranah privasi sebenarnya merupakan bagian dari budaya kebersamaan yang kuat dalam masyarakat Indonesia. Kerap kali, pertanyaan tersebut digunakan sebagai pembuka percakapan untuk menciptakan keakraban.
“Namun, seiring pergeseran nilai sosial, pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadi kurang relevan dalam konteks kehidupan saat ini,” paparnya.
Dampak terhadap kesehatan mental
Luluk menambahkan, seseorang dapat merasa terintimidasi atau tidak nyaman saat menerima pertanyaan pribadi jika tidak memiliki kesiapan mental dan respons yang memadai.
“Ketika seseorang tidak siap menghadapi pertanyaan tersebut, dapat muncul perasaan terintimidasi. Apalagi jika disampaikan di hadapan banyak orang, hal itu bisa menimbulkan rasa dipermalukan,” jelasnya.
Ia juga mengingatkan bahwa dampak tersebut bisa lebih berat bagi individu dengan kerentanan psikologis, seperti mereka yang memiliki harga diri rendah, gangguan kecemasan, atau persoalan mental lainnya.
“Jika tidak diatasi dengan baik, kondisi ini dapat mendorong penghindaran sosial, yakni keengganan untuk bersosialisasi karena dianggap berisiko secara psikologis,” pungkasnya.
Terpopuler
1
PBNU Terima Kasih kepada Ploso, Minta Doa Kiai Huda untuk Munas-Konbes 2026
2
Rupiah Tembus Rp18.000 per Dolar AS, Gubernur BI Siapkan Dua Langkah Penguatan
3
Imbas Rupiah Melemah, Menkeu Sebut Pedagang Tahu dan Tempe Mulai Tertekan
4
Kasus Suap Izin Tinggal WNA, Citra Indonesia Tercoreng di Mata Dunia
5
NU Abad Kedua: Masihkah Kita Berani Berpikir Melampaui Diri Sendiri?
6
Kiai Azaim Harap Kekerasan di Pesantren Masuk Materi Munas-Konbes hingga Muktamar ke-35 NU
Terkini
Lihat Semua