Rais Aam PBNU Tekankan Pentingnya Dalil dan Tafakkur untuk Menaikkan Derajat Keimanan
NU Online · Sabtu, 10 Mei 2025 | 11:45 WIB
Tangkapan layar video Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar mengisi pengajian Kitab Syarh Al-Hikam di Pondok Pesantren Miftachus Sunnah, Surabaya pada Jumat (9/5/2025) siang.
Achmad Risky Arwani Maulidi
Kontributor
Jakarta, NU Online
Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar menekankan pentingnya umat Islam beriman menggunakan dalil dan tafakkur untuk menaikkan derajat keimanan sekaligus mencapai taraf makrifat. Ajakan ini secara khusus diperuntukkan bagi orang Islam yang lahir dari keturunan Islam.
Pandangan tersebut Kiai Miftach sampaikan saat mengkaji Kitab Syarh Al-Hikam di Pondok Pesantren Miftachus Sunnah, Surabaya pada Jumat (9/5/2025) siang.
Dalil dan tafakkur, papar Kiai Miftach, menjadi penunjang bagi seorang Muslim untuk menambah derajat keimanan dan mencapai taraf makrifat. Jika dua hal itu diabaikan, taraf keimanan seseorang akan mengalami stagnan.
"Ada orang iman itu karena keturunan. Bapaknya, emaknya Muslim, Mu'min, akhirnya anak cucunya ikut Muslim, Mu'min itu biasanya buahnya tidak begitu besar. Karena tidak menggunakan akalnya atau tidak tafakur, hanya karena islamnya Islam turunan," ujarnya dalam tayangan YouTube Multimedia KH. Miftachul Akhyar diakses pada Sabtu (10/5/2025).
Kiai asal Surabaya itu mengibaratkan bahwa proses peningkatan iman seperti seseorang yang merawat tanaman. Tanaman akan berkembang dan menghasilkan buah yang berkualitas jika pemiliknya mau menyiram, memberikan pupuk atau memberikan obat-obatan.Â
"Walaupun umpama tidak diberi itu, ya tumbuh. Tapi jangan harap hasilnya memuaskan. Jangan harap hasilnya memuaskan," tegasnya.
Intensitas perawatan tersebut menjadi alasan mengapa seorang yang baru masuk Islam (muallaf) terkadang memiliki iman yang lebih kokoh dibanding orang Islam keturunan. Baginya, hal itu dilandasi oleh adanya etos mencari kebenaran melalui dalil maupun kontemplasi.
"Mereka masuk Islam masih baru, masih mu'alaf, tapi digunakan akal-akalnya kokoh dan terus naik. Bahkan, bisa melewati orang-orang yang lebih dulu beriman atau orang-orang yang imannya adalah iman keturunan," jelas Rais 'Aam.
Lebih lanjut, Rais 'Aam mengatakan seseorang yang Muslim-nya keturunan tetapi mengabaikan dua hal tersebut memang dapat mempertahankan keislaman dan keimanannya. Akan tetapi, pertahanan itu gampang jebol manakala berhadapan dengan hal-hal yang menggiurkannya.
"Karena orang yang islamnya keturunan, kalau diserang sesuatu yang menggiurkan, ada pembagian super mie dan minyak goreng misalnya, ya hilang. Orang imannya setipis kulit bawang, tampak uang (langsung) terperdaya. Nah ini hati-hati," katanya, membahasakan ulang Kitab Al-Hikam karya Ibnu 'Athaillah itu.
Oleh sebab itu, Kiai Miftach pun mengajak para hadirin untuk mengkaji kitab tasawuf tersebut. Tujuannya, yakni untuk memperkokoh sekaligus menaikkan derajat keimanan seorang Muslim.
Terpopuler
1
Pemerintah Tetapkan Idul Adha 1447 H Jatuh 27 Mei 2026
2
Tim Hisab Rukyat: Hilal Awal Dzulhijjah 1447 H Penuhi Kriteria MABIMS, Idul Adha Diperkirakan 27 Mei 2026
3
Hilal Terlihat, PBNU: Idul Adha 1447 H Rabu, 27 Mei 2026
4
Menhan Sebut Seluruh Kabupaten di Jawa Akan Dikawal Batalyon Teritorial pada 2026
5
Tiga Jurnalis Indonesia Bersama Aktivis Ditangkap Israel, Dewan Pers Minta Pemerintah Bertindak
6
Ambruknya Rupiah Dinilai Tekan Rakyat Kecil, DPR Soroti Harga Kebutuhan Pokok
Terkini
Lihat Semua