Ritual Sa’i dan Pesan untuk Bekerja Keras Berkesinambungan
NU Online · Ahad, 10 Juli 2022 | 15:30 WIB
Suasana khutbah Idul Adha, Ahad (10/7/2022) di Halaman Masjid Attauhid Arief Rahman Hakim Kampus Universitas Indonesia (UI) Salemba, Jakarta Pusat. (Foto: NU Online/Kendi Setiawan)
Kendi Setiawan
Penulis
Jakarta, NU Online
Ritual sa’i dalam ibadah haji menyimpan pelajaran atau prinsip kerja persisten, terus menerus dan berkesinambungan. Ia memaparkan, sa’i adalah ritual lari-lari kecil antara bukit Shofa dan bukit Marwa yang dilakukan jamaah haji maupuan umrah.
Hal itu disampaikan Prof Nachrowi Djalal saat khutbah Idul Adha, Ahad (10/7/2022), di Masjid Attauhid Arief Rahman Hakim Kampus Universitas Indonesia (UI) Salemba, Jakarta Pusat.
Jika dilihat dari sisi filosofinya, sa’i sebenarnya merupakan representasi dari suatu keteguhan serta kesabaran dalam meraih suatu cita-cita yang kelihatannya tidak mungkin berhasil untuk dikerjakan berdasarkan logika manusia. Tetapi hal ini berhasil dikerjakan dengan seizin Allah.
Dikisahkan bahwa ibu Hajar, istri Nabi Ibrahim suatu hari berusaha mencari seteguk air di sekitar bukit Shofa, yaitu di gurun pasir yang kering-kerontang serta tanahnya tandus dan gersang.
“Berdasarkan logika manusia biasa, usaha untuk mendapatkan air di gurun pasir yang kering kerontang kemungkinan besar akan sia-sia belaka. Namun, berkat usaha yang luar biasa yang disertai tawakkal doa dan usaha keras yang dilakukan berkali-kali, akhirnya usaha ini membuahkan hasil yang menggembirakan,” bebernya.
Prof Nachrowi menegaskan bahwa usaha keras dan diulangi berkali-kali menjadi kata kuncinya. Dengan izin Allah, ditemukan sumber air zamzam di tengah gurun pasir yang tandus dan sumber air tersebut hingga kini tidak pernah kering.
Menurut Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis UI itu, kisah di atas menggambarkan bahwa jika seseorang mempunyai impian atau cita-cita harus diraih dengan kerja keras sambal berdoa.
“Namun, jika usaha belum berhasil janganlah cepat menyerah dan putus asa sebelum mencobanya lagi dengan usaha yang lebih keras lagi,” tuturnya.
Dalam konteks itu, sering terdengar keberhasilan seseorang yang tidak diraih pada kali pertama melainkan setelah mencoba beberapa kali. Maka pesan dari ibadah sa’I ini adalah agar umat Islam harus bekerja keras yang persisten dan pantang menyerah dalam menggapai impian.
“Pesan ini sejalan dengan ilmu manajemen modern yang menyatakan bahwa salah satu kunci kesuksesan adalah kerja keras yang persisten, yaitu kerja gigih dengan daya tahan yang kuat dalam melakukan suatu usaha secara terus-menerus meskipun ada tantangan atau kesulitan,” tegasnya.
Pewarta: Kendi Setiawan
Editor: Musthofa Asrori
Terpopuler
1
PBNU Terima Kasih kepada Ploso, Minta Doa Kiai Huda untuk Munas-Konbes 2026
2
Rupiah Tembus Rp18.000 per Dolar AS, Gubernur BI Siapkan Dua Langkah Penguatan
3
Imbas Rupiah Melemah, Menkeu Sebut Pedagang Tahu dan Tempe Mulai Tertekan
4
Kasus Suap Izin Tinggal WNA, Citra Indonesia Tercoreng di Mata Dunia
5
NU Abad Kedua: Masihkah Kita Berani Berpikir Melampaui Diri Sendiri?
6
Kiai Azaim Harap Kekerasan di Pesantren Masuk Materi Munas-Konbes hingga Muktamar ke-35 NU
Terkini
Lihat Semua