Samadiyah, Wujud Kesalehan Anak
NU Online · Kamis, 6 September 2012 | 05:32 WIB
Samadiyah berasal dari sifat Tuhan, yakni ash-Shomad, tempat bergantung. Secara istilah, Samadiyah digunakan masyarakat Aceh untuk menyebut tradisi doa bersama yang dikirimkan kepada orang yang telah meninggal dunia.Â
<>
Disebut Samadiyah karena dalam doa tersebut selalu ditonjolkan pembacaan surat al-Ikhlas, di mana surat itu menyebut Allahush Shomad, ayat kedua. Di Jawa dan tempat lain, Samadiyah sepadan dengan istilah Tahlilan. Isi Samadiyah relatif sama dengan di tempat lain, hanya saja pembacaan surat al-Ikhlas diperbanyak, biasanya 33 atau 100 kali.
Setelah upacara pemakaman jenazah, masyarakat Aceh ada doa pasca kematian sejak hari pertama hingga hari ketujuh. Di Aceh, tradisi berdoa untuk orang meninggal disebut Khanduri Matee (kenduri orang meninggal). Semua ritual itu diselenggarakan oleh ahli waris yang di tinggalkan. Juga dibantu oleh masyarakat gampong setempat. Berikut ini beberapa ritual kenduri pasca kematian yang dikenal dalam adat masyarakat Aceh.
Samadiyah malam pertama orang meninggal biasanya dilakukan di Meunasah (Mesjid, Mushalla, Surau). Para sanak keluarga ataupun tetangga datang dengan sendirinya, Samadiyah dilakukan setelah shalat Magrib berjamaah.Â
Lalu ada Samadiyah malam ketiga disebut Khanduri Malam Lhee (Kenduri Malam Tiga), dimana saudara yang masih hidup dating ke rumah duka untuk mendoakan yang meninggal dunia. Para tamu yang datang membawa oleh-oleh ala kadarnya, semampunya. Sebelum berdoa, para tamu disuguhi makan malam bersama.
Seunujoeh adalah sebutan untuk Samadiyah hari ketujuh. Seuneujoh merupakan puncak daripada upacara kematian setelah jenazaha dikuburkan. Pada Samadiyah Seunujoeh lebih ramai dari samadiyah sebelumnya, orang lebih banyak berdatangan. Kerabat dan tetangga datang ke rumah duka membawa beras, gula, kopi, kue dan lain-lain.Â
Ada juga yang membawa sedekah uang yang dimasukkan dalam amplop, ketika pamit pulang si tamu menyalami tuan rumah Seuneujoh itu. Kenduri Seuneujoh juga dilaksanakan untuk menunggu para pelayat dari jauh atau dekat yang belum bisa hadir ke rumah duka pada hari pertama dan seterusnya.Â
Pada pagi harinya, masyarakat gampong di pimpin oleh Imam Gampong menjadi pemimpin Samadiyah. Adapun doa-doa yang dibacakan pada pelaksanaan Samadiyah adalah: Syahadat, Selawat Nabi, Tahlilan, surat-surat Pendek al-Akhlas, an-Naas, al-Falak, dan talkin.
Setelah itu ada Malam Lheeploh (malam ketiga puluh), Khanduri Peutploh(Malam keempat puluh, Khanduri Ppeutplohpeut atau malam keempat puluh empat, Khanduri Tujohploh atau ke tujuhpuluh, Khanduri sikureungplohatau hari kesembilan puluh, Khanduri reuthoh atau hari keseratus.
Samadiyah juga dilakukan saat pernikahan, pindahan rumah, khitanan.Pada acara khitanan, samadiyah juga dibaca, selain al-Barjanzi. Samadiyah adalah salah satu perwujudan kesalehan, yakni anak mendoakan orang tua dan para leluhurnya. (Hamzah Sahal)
Terpopuler
1
Khutbah Jumat: Beribadah Bukan Transaksi, Meluruskan Hubungan antara Hamba dengan Tuhan
2
Khutbah Jumat: Spirit Sumpah Pemuda, Jangan Bungkam Suara Anak Muda yang Peduli Bangsa
3
Khutbah Jumat: Pentingnya Menolong Tetangga di Tengah Kesulitan Ekonomi
4
Khutbah Jumat: 3 Alasan Pemerintah Wajib Mendengarkan Aspirasi Rakyat
5
NU Online Raih AMSI Awards 2026 Kategori Inovasi Strategi dan Engagement Terbaik
6
PBNU Terima Kunjungan BTN dan BSN, Bahas Akses KPR Subsidi bagi Warga NU
Terkini
Lihat Semua