TI Indonesia: Petani Tak Nikmati Program MBG, Keuntungan Mengalir ke Pihak Lain
NU Online · Rabu, 25 Februari 2026 | 23:15 WIB
Mufidah Adzkia
Kontributor
Jakarta, NU Online
Program Officer Divisi Tata Kelola Partisipasi dan Demokrasi Transparency International (TI) Indonesia Agus Sarwono menilai Program Makan Bergizi Gratis (MBG) belum tidak memberi dampak signifikan bagi petani.
Ia menganggap skema program MBG lebih menguntungkan pihak tertentu, sedangkan petani justru tidak merasakan manfaatnya.
Menurutnya, anggaran MBG yang sangat besar tidak berjalan efektif. Ia menilai skema distribusi dalam program itu menyebabkan keuntungan tidak dinikmati petani, peternak, maupun petambak.
Agus menjelaskan bahwa dalam praktiknya pemerintah membeli gabah, bukan beras. Gabah tersebut kemudian didistribusikan ke Koperasi Merah Putih, sedangkan biaya penggilingan menjadi beras ditanggung koperasi.
Setelah menjadi beras, produk itu dijual ke dapur-dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Menurutnya, pihak-pihak dalam rantai distribusi itulah yang memperoleh keuntungan lebih besar.
“Yang buntung siapa? Petani buntung. Peternak buntung. Petambak buntung. Kita sebagai masyarakat juga merasakan. Harga telur mahal banget. Menjelang puasa kemarin terasa banget. Dari 27-28 ribu per kilo bisa jadi 30 ribu. Sawi juga naik, bisa 12-13 ribu di pasar dekat rumah. Itu terasa banget,” jelas Agus dalam Kajian Ramadhan bertema Hukum Mengantar Ompreng Hingga Akhir Zaman yang diselenggarakan secara daring pada Rabu (25/2/2026).
Selain menyoroti dampak terhadap petani dan harga pangan, Agus juga menilai program MBG prematur dan bermasalah sejak tahap perencanaan.
Ia menjelaskan bahwa dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN), indikator program MBG yang dikejar lebih menitikberatkan pada jumlah penerima manfaat dan jumlah dapur yang berdiri, bukan pada capaian kualitas atau dampak terukur.
Ia menambahkan bahwa target yang dikejar adalah jumlah penerima manfaat harian, bukan indikator nilai atau perubahan yang jelas. Agus mempertanyakan ketiadaan kerangka evaluasi terstruktur, seperti Logical Framework Analysis, dalam perencanaan program MBG.
“Jadi tahun pertama yang ditarget adalah konsentrasi anak akan bertambah. Katakanlah baseline dalam jam pelajaran, selama dia menerima jam pelajaran itu, tingkat fokusnya setiap sesi 15 menit. Ketika diintervensi, naik jadi 25 menit. Kan itu yang ada dalam bayangan kita, tapi ternyata faktualnya kan nggak gitu,” ungkapnya.
Atas dasar itu, Agus menyatakan bahwa dirinya bersama MBG Watch dan kelompok masyarakat sipil lainnya mendorong agar program tersebut dihentikan sementara untuk dilakukan perbaikan menyeluruh.
“Poin paling utama menurutku adalah perlu memperluas gerakan-gerakan kolektif. Narasi untuk menghilangkan atau mengaburkan kata-kata kreatif itu dan diganti dengan diksi yang lebih menggugah menjadi penting,” ungkapnya.
“Kemudian perlu mengorganisir ibu-ibu penerima manfaat. Selama ini yang kita potret hampir sebagian besar siswa, lalu bagaimana dengan ibu hamil? Bagaimana dengan lansia yang katanya akan terima? Ini menunjukkan ada problem besar yang sesungguhnya harus direspons bersama,” tambah Agus.
Sementara itu, Direktur Celios Media Wahyudi Askar menilai program MBG tidak sepenuhnya gratis karena bersumber dari pajak rakyat. Ia menyebut keterbatasan fiskal negara berpotensi menekan sektor lain, seperti pendidikan dan infrastruktur.
“Jadi adik-adik yang sekarang mau ngabuburit, kan bawa motor itu kebanyakan ya, itu lihat aja jalannya rusak enggak. Itu juga salah satunya karena tata kelola fiskal kita yang buruk. Dan uang dipangkas habis untuk program-program strategis yang belum tentu implikasinya bagus untuk masyarakat,” jelas Askar.
Ia juga menyoroti adanya pelabelan negatif terhadap pihak-pihak yang menyampaikan kritik terhadap program MBG. Menurutnya, kritik yang disampaikan justru didorong oleh kepedulian terhadap masa depan Indonesia.
“Kita melakukan ini semua ya semata karena kita sayang sama Indonesia, karena kalau kita memilih diam, itu sebenarnya jalan yang jauh lebih mudah dibandingkan bersuara seperti ini," tegasnya.
"Tapi hari ini, mereka yang bersuara justru menghadapi tekanan. Banyak kawan influencer, orang-orang baik, bahkan guru dan orang tua yang bersuara didatangi 'Partai Coklat' dan 'Partai Ijo' ke rumahnya. Ini sangat menyedihkan,” pungkas Askar.
Terpopuler
1
Khutbah Jumat: Ramadhan dan Kesempatan yang Tidak Selalu Terulang
2
Innalillah, Ulama Mazhab Syafii asal Suriah Syekh Hasan Hitou Wafat dalam Usia 83 Tahun
3
Khutbah Jumat: Ramadhan, Melatih Sabar, Memperkuat Syukur
4
Kultum Ramadhan: Lebih Baik Sedikit tapi Istiqamah
5
Khutbah Jumat: Tiga Kebahagiaan Orang Puasa
6
Keluar Mani yang Tidak dan Membatalkan Puasa
Terkini
Lihat Semua