Tiga Momentum Kepahlawanan Kiai As’ad Syamsul Arifin
NU Online · Kamis, 10 November 2016 | 04:01 WIB
Jember, NU Online
Tokoh NU sekaligus pejuang kemerdekaan asal Situbondo, Jawa Timur, KHR. As’ad Syamsul Arifin dipastikan mendapat gelar pahlawan nasional. Kabar tersebut mengemuka di tengah persiapan perhelatan mengenang sejarah perjuangan salah seorang pendiri NU tersebut, yang dikemas dalam “Napak Tilas Nasional 2016, Sejarah Perjuangan Pengusiran Penjajah Jepang di Curah Damar”.
Copy Surat Keputusan (SK) Presiden Republik Indonesia mengenai pemberian gelar bagi Kiai As’ad diunggah di WA grup PCNU Jember oleh pengurus LP Maarif NU yang juga familinya, Robith Qashidi. Dalam SK tertanggal 3 November 2016 dan diteken oleh Presiden Joko Widodo tersebut disebutkan penganugerahan gelar pahlawan nasional bagi Kiai As’ad sebagai penghargaan dan penghormatan yang tinggi atas jasa-jasanya yang luar biasa yang semasa hidupnya pernah memimpin dan melakukan perjuangan bersenjata atau perjuangan politik atau perjuangan dalam bidang lain untuk mencapai, merebut, memperthankan dan mengisi kemerdekaan serta mewujudkan persatuan dan kesatuan bangsa.
Sekretaris Napak Tilas Nasional 2016, H. Misbahus Salam membenarkan perihal penganugerahan gelar pahlawan nasional bagi pendiri Pondok Pesantren Salafiyah-Syafi’iyah, Asembagus, Situbondo tersebut.
Menurutnya, Kiai As’ad memang berhak dan sangat layak merengkuh gelar tersebut. Dikatakannaya, paling tidak ada 3 momentum peran dan perjuangan Kiai As’ad yang sangat menonjol semasa hidupnya. Yaitu kegigihannya mengusir penjajah, keberaniannya melawan PKI dan keistiqamahannya mempertahankan khittah NU. “Ketiga peran itu, sangat signifikan bagi perjalanan bangsa Indonesia,” tukasnya kepada NU Online di Jember, Selasa (8/11).
Wakil Ketua PCNU Jember tersebut memaparkan betapa gigihnya Kiai As’ad saat berperang melawan penjajah. Ia menjadi pemimpin para pejuang, baik di Jember maupun Bondowoso dan sebagainya. Begitupun saat Indonesia dirongrong oleh PKI, Kiai As’ad tampil di depan, dan habis-habisan melawan pengikut partai yang berbasis sosialis itu.
“Sedangkan mengenai khittah NU, Kiai As’ad bersama Kiai Ahmad Shiddiq mengawal tegaknya khittah, dan dari situ warga NU dipersatukan,” lanjutnya. (Aryudi A. Razaq/Abdullah Alawi)
Terpopuler
1
Sambangi PBNU, 23 PWNU Sampaikan Harapan Soal Muktamar ke-35 NU
2
Khutbah Jumat: Memulai Kebaikan dari Diri Sendiri
3
Khutbah Jumat: Allah Tidak Membebani Hamba di Luar Batas Kemampuannya
4
Innalillahi, Pengurus Muslimat NU Kemayoran Wafat dalam Kecelakaan Kereta di Bekasi
5
Stasiun Bekasi Timur Ditutup Sementara, KRL Hanya Beroperasi hingga Stasiun Bekasi
6
Sempat Hilang, Karyawan Kompas TV Aini Meninggal Dunia dalam Kecelakaan Kereta di Bekasi Timur
Terkini
Lihat Semua