Wujudkan Semangat Merdeka Belajar, Ma’arif NU Gelar POP untuk Tenaga Pendidik
NU Online · Selasa, 26 Juli 2022 | 17:30 WIB
Tranining of Trainer (ToT) Literasi Numerasi Fasilitator Daerah (Fasda) POP LP Ma’arif PBNU di Hotel Aryaduta, Makassar, Sulawesi Selatan, Selasa (26/7/22). (Foto: istimewa)
Syifa Arrahmah
Penulis
Jakarta, NU Online
Lembaga Pendidikan Ma’arif Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LP Ma’arif PBNU) bekerja sama dengan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) RI berupaya mewujudkan semangat merdeka belajar melalui Program Organisasi Penggerak (POP) bagi para tenaga pendidik.
Hal itu disampaikan Sekretaris LP Ma’arif PBNU H Harianto Oghie dalam kegiatan Tranining of Trainer (ToT) Literasi Numerasi Fasilitator Daerah (Fasda) POP LP Ma’arif PBNU di Hotel Aryaduta Makassar, Sulawesi Selatan, Selasa (26/7/22).
"Kegiatan ini digelar karena POP merupakan bagian dari kebijakan Merdeka Belajar," kata Oghie, demikian ia disapa.
Dalam hal ini, kata dia, pemerintah pusat mempercayakan kepada Ma’arif NU yang berkolaborasi dengan dinas pendidikan menggelar program penguatan literasi, numerasi dan pendidikan karakter bagi para tenaga pendidik.
"POP mewujudkan budaya dan semangat kolaborasi Merdeka Belajar antara pemerintah dan ormas secara masif melalui berbagai pelatihan dan pendampingan bagi para pendidik dan tenaga kependidikan untuk meningkatkan kualitas peserta didik," ungkapnya sembari menambahkan kegiatan POP berlangsung tiga hari yakni 25-27 Juli 2022.
Tujuan utama dari POP, menurutnya, adalah mewujudkan pendidikan yang merata dan berkualitas berlandaskan pada tiga pilar pembangunan, meliputi layanan dasar dan perlindungan sosial, produktivitas, dan pembangunan karakter.
"Arah kebijakan nasional menekankan pada pembangunan manusia yang dilakukan berlandaskan pada tiga pilar tersebut," tuturnya.
Selanjutnya, ia menjelaskan, untuk peningkatan kualitas pendidikan dapat dilihat dari capaian literasi dan numerasi. Literasi adalah kemampuan membaca dan menulis, menggunakan bahasa dan melakukan penalaran diskursif.
Sedangkan numerasi adalah kemampuan menghitung, mengukur dan memecahkan persoalan matematis dan melakukan penalaran logis.
"Literasi dan numerasi merupakan kompetensi utama dalam pendidikan dasar sehingga kompetensi ini menjadi bagian penting yang harus ditingkatkan secara terus menerus," jelas Oghie.
Hal senada, disepakati oleh Pembina LP Ma’arif NU H Fahmi Akbar Idris, yang menyebutkan bahwa penguatan literasi untuk membaca dan menghitung (numerasi) bagi anak didik tingkat Sekolah Dasar (SD) sangatlah dibutuhkan dalam pengembangan tingkat kecerdasan.
"Jika literasi dimaksudkan untuk penguatan kemampuan membaca, menulis, dan memahami, maka numerasi dibutuhkan meningkatkan kemampuan menganalisis dengan menggunakan angka-angka," kata Fahmi dalam keterangaannya.
Ia juga menambahkan, tren jenjang pendidikan sekarang ini mulai menerapkan literasi dan numerasi untuk memperkuat kemampuan pengetahuan peserta anak didiknya.
Pewarta: Syifa Arrahmah
Editor: Kendi Setiawan
Terpopuler
1
Pemerintah Tetapkan Idul Adha 1447 H Jatuh 27 Mei 2026
2
Tim Hisab Rukyat: Hilal Awal Dzulhijjah 1447 H Penuhi Kriteria MABIMS, Idul Adha Diperkirakan 27 Mei 2026
3
Hilal Terlihat, PBNU: Idul Adha 1447 H Rabu, 27 Mei 2026
4
Menhan Sebut Seluruh Kabupaten di Jawa Akan Dikawal Batalyon Teritorial pada 2026
5
Tiga Jurnalis Indonesia Bersama Aktivis Ditangkap Israel, Dewan Pers Minta Pemerintah Bertindak
6
Ambruknya Rupiah Dinilai Tekan Rakyat Kecil, DPR Soroti Harga Kebutuhan Pokok
Terkini
Lihat Semua