Nasional MUKTAMAR KE-33 NU

Yenny Wahid: Jangan Jadikan NU sebagai Batu Loncatan Politik

NU Online  Ā·  Jumat, 31 Juli 2015 | 11:05 WIB

Jombang, NU Online
Memimpin organisasi sebesar Nahdlatul Ulama, tidak boleh asal-asalan. Apalagi hanya menjadikannya sebagai batu loncatan politik, harus dihindari oleh siapapun yang aktif di ormas keagamaan ini.<>

Hal tersebut dikatakan Zannuba Arifah Chafsoh (Yenny Wahid) usai berziarah di makam ayahnya, KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) di komplek Pesantren Tebuireng Jombang, Jawa Timur, Jumat (31/7) sore. Yenny didampingi suaminya, Dhohir Farisi.

ā€œMimpin NU jangan sampai sebagai batu loncatan saja. Apalagi batu loncatan politik. Naudzubillah min dzalik,ā€ ujar putri kedua almarhum Gus Dur ini.

Menurut Yenny, NU rentan terhadap politik uang (money politics). ā€œMemang NU juga tidak lepas dari fenomena yang menjangkiti seluruh bangsa, yaitu soal politik uang. Harus ada mekanisme yang menjawab itu,ā€ tegasnya.

Disinggung soal pencalonan pamannya, KH Salahuddin Wahid (Gus Sholah), Yenny tidak menyatakan mendukung atau menolak. ā€œBagi kami, silakan saja. Siapapun berhak maju. Tapi persoalan tadi harus dijawab. Politik uang yang sudah menjangkiti warga NU harus dituntaskan,ā€ tandasnya.

Yenny menambahkan, jika NU sendiri dalam bermuktamar dan dalam pemilihannya cenderung pragmatis, masih juga tergiur dengan iming-iming pragmatisme dan uang, tentu sulit untuk membantu dalam pemberantasan korupsi.

ā€œBagaimana bisa mendandani moral masyarakat, bagaimana mampu melawan korupsi di republik ini jika kita sendiri masih begitu,ā€ ujar Direktur The Wahid Institute Jakarta ini.

Ditanya tentang pro-kontra masalah mekanisme pemilihan melalui Ahlul Halli Wal Aqdi, Yenny memberi ruang para muktamirin untuk menentukannya. ā€œSoal itu, terserah mekanismenya seperti apa,ā€ ujarnya diplomatis. (Musthofa Asrori/Fathoni)

Gabung di WhatsApp Channel NU Online untuk info dan inspirasi terbaru!
Gabung Sekarang