Jejak Panjang Pengabdian Margaret Aliyatul Maimunah Lindungi Perempuan dan Anak
NU Online · Ahad, 1 Maret 2026 | 18:00 WIB
Suci Amaliyah
Kontributor
Keluarga besar Fatayat NU kembali berduka, pada Ahad pukul 08.25 WIB Ketua Umum PP Fatayat NU sekaligus Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Margaret Aliyatul Maimunah meninggal dunia.
Liya, sapaan akrabnya merupakan putri kedua pasangan KH Mohammad Faruq dan Hj Lilik Chodijah binti KH Aziz Bisri bin KH M Bisri Sansuri Jombang Jawa Timur, salah satu pendiri NU yang terkenal ahli fiqih.
Lahir di Jombang, pada 11 Mei 1979 ini Margaret kecil menempuh pendidikannya jenjang Madrasah Ibtidaiyah (MI), Madrasah Tsanawiyah (Mts), hingga Madrasah Aliyah Negeri (MAN) ditempuh di Pesantren Denanyar Jombang.
Ia menempuh bangku kuliah di IAIN Sunan Ampel Surabaya (sekarang UIN). Lalu, melanjutkan pengembaraan intelektualnya di Pascasarjana Universitas Indonesia (UI). Di kampus ini, ia mengambil Program Studi Kajian Wanita.
Sejak sekolah ia turut aktif di berbagai organisasi mulai dari Ketua Korp Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Putri atau Kopri di Rayon Adab IAIN Sunan Ampel Surabaya (2000-2001), Ketua PMII Komisariat Adab Cabang Surabaya Selatan (2001-2002).
Ia juga aktif sebagai pengurus Pimpinan Wilayah Ikatan Putri-Putri Nahdlatul Ulama Jawa Timur sebagai Anggota Bidang Minat dan Bakat (1999-2001) dan Bendahara II (2001-2002).
Kemudian didaulat menjadi Sekretaris Umum PP IPPNU (2006-2009) dan terpilih menjadi Ketua Umum IPPNU selama tiga tahun, 2009-2012.
Saat memimpin organisasi pelajar perempuan NU tersebut, ia menginisiasi sejumlah program, di antaranya Laskar Pelajar Putri Anti Narkoba, Anti Pornografi, Anti Radikalisme, dan Anti Kekerasan, Rumah Pelajar, serta Sekolah Kebangsaan Pelajar.
Aktivitasnya kemudian berlanjut ke organisasi Fatayat NU. Ia tercatat pernah menjadi Wakil Koordinator Bidang Ekonomi PP Fatayat NU (2009-2015), Sekretaris Umum PP Fatayat NU (2015-2020), hingga akhirnya terpilih sebagai Ketua Umum PP Fatayat NU (2022-2027).
Margaret terpilih aklamasi dalam Kongres Fatayat NU XVI yang diselenggarakan di Auditorium Utama Jakabaring Sport City (JSC), Palembang, Sumatra Selatan pada Juli 2022.
Ia dikenal memiliki kepedulian terhadap berbagai persoalan dan upaya pemberdayaan kaum perempuan dan perlindungan anak. Aktivitasnya ini terlihat sejak ia bergabung dengan lembaga penelitian perempuan, Women Research Institute (WRI).
Margaret aktif melakukan berbagai penelitian mengenai perempuan dan anak, antara lain Kehidupan Perempuan Pesantren yang Dipoligami serta Dampaknya terhadap Anak-anak; Perempuan yang Bekerja di Salon Spa di Jakarta; Perempuan Penderita HIV; Kebijakan tentang Terminal Tiga (terminal khusus TKI), implementasinya, dan dampaknya terhadap TKW yang bekerja sebagai Pembantu Rumah Tangga.
Ia juga menulis beberapa artikel tentang perempuan dan anak. Salah satunya berjudul Undang-Undang Ketenagakerjaan Kaitannya dengan Perlindungan Maternalitas Buruh Perempuan di Majalah EGALITA, Pusat Studi Gender, UIN Malang, 2012.
Kemudian, artikel berjudul Perempuan Muda Menjadi Pemimpin, Siapa Takut? terbit di Majalah Rekanita, PP IPPNU, Jakarta. Pada Agustus 2008, ia menulis artikel berjudul Remaja Putri: Awas, Tertular HIV/AIDS di Majalah Rekanita, PP IPPNU, Jakarta; dan artikel Haruskan Ujian Nasional Dilanjutkan? di Majalah Rekanita, PP IPPNU, Jakarta, Agustus 2007.
Margaret bahkan menulis beberapa buku terkait perempuan, di antaranya Perempuan Berdaya Nusantara Jaya: Landasan Advokasi Pemberdayaan Perempuan Paramuda Cendekia Muda (2015). Panduan Amaliah Ramadhan untuk Pelajar Putri kolaborasi dengan Latifatus Sun’iyyah, Litbang PP IPPNU (2012).
Ia juga tercatat pernah menjadi Tenaga Ahli Komisi IX DPR RI (membidangi ketenagakerjaan, kesehatan, BKKBN, Badan POM, BNP2TKI) pada 2008-2009. Dua tahun kemudian, tepatnya pada 2010-2014, ia bergabung sebagai Tenaga Ahli Komisi VIII DPR RI (membidangi agama, sosial penanggulangan bencana, pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak, BAZNAS).
Terakhir, ia menjadi Tenaga Ahli Anggota Komisi X DPR RI (membidangi pendidikan dan kebudayaan, Pendidikan Tinggi, Pemuda dan Olahraga, Pariwisata) tahun 2014-2017.
Sesekali, Margaret mengajar di almamaternya, UI, pada Program Studi Kajian Wanita mengenai Metodologi Feminis dan Pengalaman Penelitian Perempuan.
Hingga akhir hayatnya, Margaret masih menjabat sebagai Ketua Umum PP Fatayat NU dan Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI). Ia menjabat sebagai Ketua KPAI paruh kedua periode 2022-2027, menggantikan Ai Maryati Solihah pada 25 Agustus 2025.
Margaret dikenal memiliki sifat kesetiakawanan yang tinggi serta sosok yang peduli terhadap isu perempuan dan anak hingga kelompok rentan.
Dalam pandangan almarhumah, sebagaimana dikutip dari Antara, perempuan Muslim Indonesia harus mengambil peran sebagai arsitek perubahan di tengah tantangan zaman.
"Kita tidak bisa hanya menjadi penonton perubahan. Perempuan Muslim harus hadir sebagai pelaku, penggerak, dan penentu arah perubahan di lingkungannya,” ujar Margaret saat Penganugerahan Inspiring Moslem Women (IMW) 2026.
Sementara solidaritas dan kepemimpinan sosial menjadikan perempuan mampu mengorganisasi kebaikan untuk kemaslahatan bersama.
"Ketika perempuan berdaya, keluarga akan kuat. Ketika keluarga kuat, masyarakat kokoh. Dan ketika masyarakat kokoh, bangsa akan maju,” kata Margaret.
Terpopuler
1
Keluar Mani yang Tidak dan Membatalkan Puasa
2
Khutbah Jumat: Ramadhan dan Kesempatan yang Tidak Selalu Terulang
3
Khutbah Jumat: Ramadhan, Melatih Sabar, Memperkuat Syukur
4
Khutbah Jumat: Tiga Kebahagiaan Orang Puasa
5
Kultum Ramadhan: Keutamaan Tarawih dan Witir
6
Khutbah Jumat: 4 Cara Menghidupkan Malam Ramadhan dengan Ibadah
Terkini
Lihat Semua