Opini

Ketika Bu Nyai Menciptakan Ruangnya Sendiri

NU Online  ·  Kamis, 17 September 2026 | 10:45 WIB

Ketika Bu Nyai Menciptakan Ruangnya Sendiri

Sekelompok Bu Nyai di sebuah pesantren (Foto: AI)

NU selama ini punya sejarah panjang dalam mengorganisasi perempuan melalui Muslimat NU, Fatayat NU, dan berbagai lembaga serta komunitas. Tetapi sekarang muncul fenomena baru: Bu Nyai sebagai aktor pengorganisasian. 


Dalam beberapa tahun terakhir, ruang publik semakin dipenuhi oleh Bu Nyai. Mereka membangun organisasi, mengembangkan jaringan, memimpin pesantren dan lembaga pendidikan, menginisiasi kegiatan sosial, dan semakin aktif menyuarakan berbagai persoalan perempuan. 


Beberapa jaringan, seperti Jam’iyah Mudarosatil Qur’an lil Hafdzaat (JMQH), Jam’iyah Perempuan Pengasuh Pesantren dan Muballighat (JPPPM), Bu Nyai Nusantara, Forum Perempuan Pesantren, dan Kongres Ulama Perempuan Indonesia membuat para nyai sibuk dari satu pertemuan ke pertemuan lain. 


Jaringan-jaringan ini menunjukkan bahwa Bu Nyai tidak lagi hanya menjadi supporting actors bagi gerakan NU, mereka mulai membangun jejaring, organisasi, otoritas, dan agenda mereka sendiri. Sehingga dalam konteks NU saat ini, pertanyaannya tidak lagi “Apa yang bisa NU lakukan untuk perempuan”, akan tetapi “Apa yang bisa NU lihat dari gerakan perempuan yang sedang tumbuh dari dalam tubuh NU sendiri?”
 

Bu Nyai Bukan Sekadar Objek Pemberdayaan
Dalam banyak pembicaraan tentang perempuan, pertanyaan yang sering muncul adalah: bagaimana memberdayakan perempuan? Pertanyaan ini tentu penting, tetapi untuk melihat perkembangan Bu Nyai hari ini, barangkali kita perlu mengajukan pertanyaan yang sedikit berbeda: apa yang sedang dilakukan Bu Nyai untuk memberdayakan dirinya sendiri dan perempuan di sekitarnya?


Pertanyaan kedua ini penting karena Bu Nyai hari ini tidak selalu menunggu ruang yang diberikan oleh organisasi, negara, atau institusi keagamaan. Mereka justru semakin banyak menciptakan ruangnya sendiri. Mereka membangun organisasi dan jaringan, menggalang sumber daya, mengembangkan lembaga pendidikan, mengorganisasi jamaah, menginisiasi kegiatan sosial, membangun usaha, hingga tampil dalam berbagai forum publik. 


JMQH, JPPPM, Bu Nyai Nusantara, Nawaning, dan berbagai jaringan lainnya menunjukkan bahwa Bu Nyai telah menjadi aktor yang mampu mengorganisasi pengetahuan, sumber daya, dan komunitasnya sendiri.


Yang menarik, aktivitas Bu Nyai hari ini tidak hanya menunjukkan bahwa mereka semakin sering hadir di ruang publik, tetapi juga bahwa mereka mulai mengorganisir berbagai modal yang mereka miliki menjadi kekuatan kolektif. Pengetahuan keagamaan yang sebelumnya banyak beredar melalui pengajian dan ruang-ruang pesantren, misalnya, kini dibawa ke berbagai forum, dikembangkan menjadi pendidikan, dikemas dalam berbagai program, dan dipertemukan dengan pengetahuan baru tentang pengasuhan, kesehatan, pendidikan, ekonomi, maupun persoalan perempuan. 


Dengan cara ini, otoritas keagamaan tidak berhenti sebagai pengetahuan yang dimiliki secara personal, tetapi diolah menjadi sumber daya sosial yang dapat digunakan untuk menjawab kebutuhan komunitas.


Hal yang sama terjadi dengan sumber daya dan jaringan sosial. Bu Nyai tidak hanya bergerak berdasarkan posisi individualnya sebagai istri atau pengasuh pesantren. Mereka membangun jejaring antarpesantren, menghubungkan jamaah, menggalang dukungan, menghimpun sumber daya, dan menciptakan forum untuk berbagi pengalaman serta pengetahuan. 


Di sinilah agensi Bu Nyai menjadi menarik. Mereka tidak sekadar hadir di ruang publik sebagai individu, tetapi mulai menciptakan ruang publiknya sendiri. Mereka mengorganisasi pengetahuan, mengelola sumber daya, membangun komunitas, dan menentukan isu yang dianggap penting untuk dibicarakan. 


Dengan kata lain, Bu Nyai bukan hanya menjadi semakin terlihat; mereka juga semakin memiliki kapasitas untuk menentukan apa yang ingin mereka bicarakan, dengan siapa mereka bekerja, dan perubahan seperti apa yang ingin mereka dorong. 


Namun, agensi semacam ini tidak tumbuh di ruang kosong. Ia membutuhkan ruang perjumpaan, jejaring, dan organisasi yang memungkinkan pengalaman individual berubah menjadi kekuatan kolektif. Di sinilah kita perlu melihat lebih jauh arti penting jaringan Bu Nyai yang dalam beberapa tahun terakhir tumbuh semakin luas.


Jaringan Bu Nyai Sebagai Infrastruktur Sosial Baru di NU
Jika Bu Nyai semakin mampu mengorganisasi pengetahuan, sumber daya, dan komunitasnya sendiri, maka jaringan yang mereka bangun menjadi sesuatu yang lebih dari sekadar tempat berkumpul. Jaringan tersebut perlahan menjadi infrastruktur sosial baru yang memungkinkan berbagai inisiatif perempuan pesantren tumbuh, terhubung, dan bergerak lebih jauh. 


Melalui jaringan, seorang Bu Nyai yang sebelumnya bekerja sendiri di pesantrennya dapat bertemu dengan Bu Nyai dari pesantren lain, berbagi pengalaman, menemukan persoalan yang sama, dan kemudian membangun agenda bersama. Apa yang semula merupakan pengalaman individual dapat berubah menjadi pengetahuan kolektif, dan apa yang semula merupakan kerja lokal dapat berkembang menjadi gerakan yang memiliki jangkauan lebih luas.


Kekuatan jaringan ini justru terletak pada kemampuannya untuk menghubungkan berbagai modal yang dimiliki para Bu Nyai. Ada pengetahuan keagamaan, pengalaman mengelola pesantren, jaringan jamaah, akses terhadap sumber daya, kemampuan mengorganisasi masyarakat, hingga legitimasi sosial yang mereka miliki sebagai pengasuh pesantren. 


Ketika modal-modal tersebut dipertemukan melalui jaringan, ia menghasilkan daya yang jauh lebih besar daripada jika masing-masing Bu Nyai bergerak sendiri. Jaringan menjadi tempat untuk bertukar pengetahuan, membangun solidaritas, menggalang dukungan, dan bahkan menemukan cara-cara baru untuk merespons persoalan yang dihadapi perempuan dan komunitas pesantren.


Dalam konteks NU, perkembangan ini menarik karena selama ini organisasi sering kali lebih mudah dikenali melalui struktur formalnya: badan otonom, lembaga, kepengurusan dari tingkat pusat hingga ranting. 


Padahal, kehidupan organisasi juga ditopang oleh jejaring sosial yang tumbuh di antara para anggotanya. Jaringan Bu Nyai memperlihatkan salah satu bentuk baru dari jejaring tersebut. Ia mungkin tidak selalu berada dalam struktur formal NU, tetapi anggotanya hidup dan bekerja di dalam ekosistem NU, membawa nilai-nilai pesantren dan ke-NU-an, serta berkontribusi pada persoalan yang juga menjadi perhatian NU. 


Karena itu, keberadaan jaringan-jaringan ini tidak semestinya dilihat sebagai sesuatu yang berada di luar NU, melainkan sebagai energi sosial yang tumbuh dari dalam tradisi NU sendiri.


Bu Nyai dan Masa Depan NU
Dunia yang dihadapi NU hari ini tidak sama dengan dunia ketika struktur-struktur organisasi itu dibangun. Cara orang belajar agama berubah, cara komunitas terbentuk berubah, cara pengetahuan beredar berubah, dan cara perempuan berpartisipasi dalam kehidupan sosial juga berubah. 


Karena itu, masa depan NU tidak cukup hanya dibangun dengan memperkuat struktur yang sudah ada. NU juga perlu mampu mengenali ruang-ruang baru tempat warganya sedang menciptakan pengetahuan, kepemimpinan, solidaritas, dan inisiatif sosial. 


Di balik berbagai pertemuan, jaringan, dan inisiatif yang Bu Nyai bangun, ada perubahan yang lebih mendasar: perempuan pesantren sedang membangun cara baru untuk hadir, bekerja, dan berkontribusi dalam kehidupan sosial-keagamaan. Apa yang mereka lakukan memperlihatkan bahwa kekuatan NU tidak hanya berada pada struktur formal dan organisasi yang telah lama dibangun, tetapi juga pada kemampuan warganya untuk menciptakan ruang-ruang baru sebagai respons terhadap perubahan zaman. 


Pentingnya jaringan ini bagi masa depan NU terletak pada kemampuannya untuk menghadirkan energi baru dari bawah. NU tidak hanya membutuhkan struktur organisasi yang kuat, tetapi juga jaringan sosial yang hidup, yang mampu membaca perubahan di masyarakat dan meresponsnya dengan cepat. Jaringan Bu Nyai memiliki potensi untuk menjadi salah satu ruang tersebut. Mereka dekat dengan pesantren, jamaah, keluarga, dan komunitas; memahami persoalan yang dihadapi masyarakat dari pengalaman sehari-hari; sekaligus memiliki kemampuan untuk menerjemahkan pengetahuan keagamaan ke dalam respons sosial yang kontekstual. Dalam dunia yang berubah cepat, kemampuan semacam ini merupakan modal penting bagi NU untuk tetap relevan.


Lebih dari itu, jaringan Bu Nyai dapat menjadi jembatan antara tradisi dan perubahan. Mereka membawa otoritas dan pengalaman pesantren ke dalam percakapan tentang persoalan-persoalan baru yang dihadapi perempuan, keluarga, anak, pendidikan, ekonomi, dan masyarakat. 


Dengan demikian, jaringan ini bukan sekadar menambah jumlah aktor perempuan dalam kehidupan NU, tetapi berpotensi memperluas cara NU memahami dan merespons perubahan sosial. Jika dirawat dan dihubungkan dengan baik dengan ekosistem organisasi NU, jaringan-jaringan tersebut dapat menjadi sumber inovasi, kaderisasi, kepemimpinan, dan pengetahuan baru bagi NU.


Karena itu, mengakui keberadaan jaringan Bu Nyai sebagai infrastruktur sosial baru bukan semata-mata soal memberikan apresiasi kepada perempuan. Ini adalah bagian dari cara NU menyiapkan dirinya menghadapi masa depan. NU membutuhkan sebanyak mungkin ruang yang memungkinkan warganya berinisiatif, berjejaring, belajar bersama, dan menemukan solusi atas persoalan yang mereka hadapi. Dan sebagian ruang itu ternyata sudah dibangun oleh para Bu Nyai sendiri. 


Tugas NU ke depan bukan menciptakan semuanya dari awal, melainkan mengenali, merawat, menghubungkan, dan memperkuat energi sosial yang telah tumbuh tersebut.


Mustaghfiroh Rahayu, Dosen Studi Islam Interdisipliner UNU-Yogyakarta. 

Tulisan ini merupakan serial tulisan Suara Perempuan Nahdliyin Akar Rumput

Gabung di WhatsApp Channel NU Online untuk info dan inspirasi terbaru!
Gabung Sekarang