JATMAN: Gerakan Sufistik Nusantara dab Penguatan Jejaring Global
NU Online · Kamis, 15 Oktober 2026 | 23:25 WIB
Beberapa hari lalu, Jam'iyyah Ahlith Thariqah al-Mu'tabarah an-Nahdliyyah (JATMAN) melaksanakan peringatan hari lahir (harlah) ke-69. JATMAN sebagai badan otonom Nahdlatul Ulama (NU) yang mengintegrasikan gerakan sufistik ke dalam dinamika sosial-politik memiliki peran strategis dalam kebangsaan serta diplomasi global.
Saat ini,k JATMAN di bawah kepemimpinan KH Ali Masykur Musa (Mudir 'Ali) bersama Rais 'Ali Kiai Achmad Chalwani hadir sebagai katup pengaman moral (moral safeguard) melalui pendekatan tazkiyatun nafs (penyucian jiwa), tradisi Istighotsah dan Manaqib Kubro, serta forum kajian ilmiah seperti Diskusi Bulanan JATMAN di PBNU. Lebih jauh, kajian ini menyoroti ekspansi jejaring spiritual global JATMAN melalui momentum internasional di Bukhara, Uzbekistan, serta penguatan kerja sama lintas negara berbasis khazanah tasawuf.
Kehadiran Jam'iyyah Ahlith Thariqah al-Mu'tabarah an-Nahdliyyah (JATMAN), sebagai badan otonom NU yang mengordinasikan amalan tarekat mu'tabarah, tidak sekadar berfungsi sebagai lembaga ritualistik-keagamaan, melainkan menjelma sebagai jangkar spiritual (spiritual anchor) yang menjaga kemurnian orientasi ukhrawi dan moralitas jamaah.
Landasan Teologis dan Epistemologi Sufistik
Secara epistemologis, bangunan pemikiran JATMAN berpijak pada integrasi trilogi ajaran Islam yang bersumber dari Al-Qur'an dan Sunnah, serta diuraikan secara mendalam dalam kitab-kitab kuning standar pesantren. Hubungan antara syariat, hakikat, dan tasawuf ditegaskan oleh Prof. Dr. Syeikh KH Ali Masykur Musa dalam berbagai kesempatan pelantikan pengurus bahwa kesempurnaan beragama seorang Muslim tercapai ketika akidah, syariat, dan tasawuf terintegrasi secara utuh (islam, iman, dan ihsan).
Pandangan ini sejalan dengan doktrin Hujjatul Islam Imam Al-Ghazali dalam risalah monumentalnya Kimya'us Sa'adah dan Ihya 'Ulumuddin. Imam Al-Ghazali menegaskan bahwa kebahagiaan sejati (as-sa'adah al-haqiqiyah) tidak terletak pada materialisme, gemerlap dunia, atau kekuasaan politik semata, melainkan pada keberhasilan membersihkan hati dari penyakit-penyakit batin (amradh al-qulub). Al-Qur'an secara tegas menggarisbawahi urgensi penyucian jiwa (tazkiyatun nafs) sebagai parameter keselamatan manusia di akhirat, sebagaimana firman Allah SWT dalam Surat As-Syams ayat 9-10:
"Sungguh beruntung orang yang menyucikannya (jiwa itu), dan sungguh rugi orang yang mengotorinya." (QS. As-Syams: 9-10).
Ayat dan pandangan sufistik klasik ini menjadi landasan teologis mengapa JATMAN senantiasa mengetengahkan pendekatan tazkiyatun nafs (penyucian jiwa) dalam menghadapi berbagai turbulensi organisasi dan dinamika kebangsaan. Dalam tradisi tasawuf (sufistik), kedua ayat di atas merupakan inti dan fondasi utama ajaran spiritual Islam, yang membahas tentang perjalanan jiwa (suluk) dan dampaknya terhadap kedekatan seorang hamba dengan Allah Swt. Para sufi memahami tazkiyatun nafs sebagai proses pembersihan jiwa dari penyakit-penyakit hati sepertin riya’ (pamer), ujub (bangga diri), hasad (dengki), takabur (sombong) dan keterikatan pada dunia (hubbud dunya). Demikian juga, secara sufistik orang yang mengotori jiwanya adalah mereka yang membenamkan fitrah sucinya ke dalam lumpur hawa nafsu dan kesenangan gelap.
Singkatnya, para ulama tasawuf menyimpulkanbahwa martabat manusia di hadapan Allah tidak ditentukan oleh rupa atau hartanya, melainkan oleh kebersihan jiwanya. Keberuntungan (falah) hanya dapat dicapai ketika seseorang secara konsisten melakukan riyadhah (latihan jiwa) dan muhasabah (instrospeksi diri) agar jiwanya tetap berada dalam fitrah yang suci.
Ulama tasawuf lainnya yang menjadi rujukan, yakni Imam Junaid Al-Baghdadi. Imam Al Ghazali dan Imam Junaid al-Baghdadi bercorak tasawuf sunni yang memandang tasawuf harus tunduk pada ketentuan Al Qur’an dan hadits, baik dari sisi ahwal (kondisi spiritual) maupun maqamat (tahapan spiritual). Hal tersebut tampak dalam definisi tasawuf yang dikemukakan Imam Junaid, yakni sebagai proses meninggalkan sifat-sifat tercela dan menggantinya dengan sifat-sifat terpuji yang merujuk pada Syariat Nabi Muhammad SAW. Ulama NU mengangkat Imam Junaid Al-Baghdadi sebagai panutan karena dianggap mampu mempertemukan fiqih dan tasawuf di saat keduanya tidak pernah mengalami titik temu. Sikap proporsional tersebut sejalan dengan pandangan NU mengenai tawasut (moderat), tawazun (seimbang), tasamuh (toleran) dan iktidal (adil).
JATMAN sebagai gerakan spiritual berbasis sufisme, menjalankan kegiatan-kegiatan moral spiritual dengan mendasarkan pada ajaran tasawuf, diantaranya : Pertama, tradisi Istighotsah dan Manaqib Kubro. Sebagai langkah spiritual antisipatif, jajaran Idarah JATMAN secara rutin menggerakkan para kiai, mursyid, dan jemaah tarekat untuk menggelar Istighotsah dan Manaqib Kubro secara masif, termasuk di pesantren-pesantren bersejarah. Kedua, fatwa moral pimpinan untuk menjaga kemandirian organisasi. Ketegasan sikap JATMAN tercermin jelas dari arahan pimpinan tertingginya. KH Ali Masykur Musa secara konsisten menyuarakan doktrin fundamental dalam menjaga marwah jam'iyyah. Ketiga, keteladanan dan petuah Tasawuf oleh Rais 'Ali KH Achmad Chalwani. Di jajaran pimpinan syuriyah, Rais 'Ali JATMAN KH Achmad Chalwani (Pengasuh Pondok Pesantren An-Nawawi Berjan, Purworejo) kerap memberikan pencerahan melalui pendekatan tasawuf amali. Dalam berbagai pengajian dan ceramahnya, beliau senantiasa mengingatkan para pengamal tarekat dan warga Nahdliyin agar memegang teguh adab kesufian.
"Ber-tarekat itu mengajarkan zuhud, kejujuran, dan kepatuhan mutlak pada nilai-nilai kebenaran Ilahiyah….."
Penguatan Tradisi Intelektual melalui Diskusi Bulanan JATMAN di PBNU
Selain bergerak melalui pendekatan ritual dan kultural di akar rumput, JATMAN juga memperkuat basis pemikiran tasawuf melalui jalur diskursus akademik dan ilmiah. Salah satu agenda rutin yang diinisiasi oleh Idarah 'Aliyyah JATMAN adalah penyelenggaraan Diskusi Bulanan JATMAN di Gedung PBNU.
Diskusi bulanan ini menghadirkan para mursyid, akademisi, dan pemikir Islam untuk membedah bagaimana relevansi ajaran tarekat (seperti konsep zuhud, wara', qana'ah, dan muhasabah) dapat diaplikasikan dalam menjawab krisis moral manusia modern, problem perkotaan, hingga etika birokrasi pemerintahan.
Melalui forum ini, khazanah kitab-kitab tasawuf klasik dikaji secara sistematis agar generasi muda Nahdliyin tidak terjebak pada pemahaman keagamaan yang kaku, melainkan memahami bahwa tasawuf adalah motor penggerak akhlak mulia dan humanisme universal.
Ekspansi Jejaring Sufistik Global: Dari Bukhara untuk Perdamaian Dunia
Peran strategis JATMAN di bawah kepemimpinan modern tidak terbatas pada lingkup domestik nasional saja, melainkan sukses menembus panggung geopolitik internasional. Puncak dari diplomasi spiritual ini ditandai dengan terpilihnya Prof. Dr. Syeikh KH. Ali Masykur Musa secara aklamasi sebagai Chairman The International Naqshbandi Council (INC) atau Ketua Majelis Naqsyabandi Se-Dunia dalam The 2nd International Naqshbandi Conference di Universitas Negeri Teknologi Bukhara, Uzbekistan.
Bukhara dipilih sebagai simbol historis kebangkitan kembali jejaring tarekat dunia karena kota tersebut merupakan pusat peradaban spiritual tempat lahirnya ajaran Khwaja Bahauddin Naqshband. Nama Bahauddin Naqshband melekat kuat dalam ingatan spiritual kota ini. Dari lingkungan historis inilah tradisi Naqshbandiyah berkembang dan kemudian menempuh perjalanan panjang melintasi wilayah, bangsa dan generasi.
Dalam konferensi yang dihadiri delegasi dari 14 negara (termasuk Indonesia, Malaysia, Pakistan, Bangladesh, Mesir, hingga Amerika Serikat), dilahirkanlah Piagam Bukhara. Piagam ini memuat komitmen bersama untuk : (i). Menjadikan nilai-nilai spiritualitas tasawuf sebagai instrumen soft diplomacy dalam merespons krisis kemanusiaan global; (ii).Mendorong terwujudnya koeksistensi damai (peaceful co-existing) dan keadilan sosial di kancah internasional.
Berdirinya International Naqshabandi Council menandai babak baru dalam jejaring Naqshbandi internasional. Jika dahulu para mursyid dan ulama menempuh perjalanan panjang untuk menyambungkan mata rantai keilmuan dan spiritual dari satu negeri ke negeri lain, maka zaman kini menyediakan ruang baru melalui komunikasi dan jejaring global. Namun, substansinya tetap sama, yakni menjaga sanad, merawat adab, menghidupkan dzikir, memperkuat ukhuwah dan menghadirkan kemaslahatan. Bhukhara menjadi saksi ketika ikhtiar itu dirumuskan dalam sebuah deklarasi.
Selain itu, guna memperkokoh jejaring global, JATMAN di bawah kepemimpinan Mudir 'Ali Prof. Dr. KH. Ali Msykur Musa juga mengesahkan sejumlah kerja sama konkret (Memorandum of Understanding) dengan lembaga-lembaga riset dan pendidikan dunia, di antaranya: (i). Centre for Sufi Studies & Research (Bangladesh): Fokus pada pertukaran riset manuskrip turats dan kajian akademik tasawuf; (ii).Jamia Ma'had Ul Faqeer Al-Islmi (Pakistan): Fokus pada program kaderisasi generasi muda dan pendidikan spiritual; (iii).Yayasan Teras Utama (Malaysia): Fokus pada tata kelola pengorganisasian tarekat dan penguatan jejaring kemanusiaan regional. Langkah diplomasi global ini membuktikan bahwa tasawuf Nusantara yang diusung JATMAN mampu menjadi jembatan peradaban, mengubah zikir lokal menjadi kontribusi nyata bagi perdamaian umat manusia sedunia. Salah satu substansi penting dalam kerjasama tersebut adalah saling belajar mengenai pengorganisasian tarekat.
Kata Akhir
Jam'iyyah Ahlith Thariqah al-Mu'tabarah an-Nahdliyyah (JATMAN) di bawah kepemimpinan Mudir Ali Prof. Dr. Syeikh KH. Ali Masykur Musa bersama Rais Ali K.H. Achmad Chalwani telah membuktikan peranan vitalnya sebagai penjaga moral dan pilar spiritual Nahdlatul Ulama. JATMAN memiliki pengalaman panjang dalam membangun tata kelola organisasi tarekatdi Indonesia dengan menghimpun para ulama, mursyid, khalifah dan pengamal berbagai thariqah muktabarah dalam satu wadah organisasi.
Melalui sinergi antara tradisi Istighotsah dan Manaqib Kubro, penguatan kajian ilmiah melalui Diskusi Bulanan di PBNU, hingga ekspansi diplomasi global melalui International Naqshbandi Council di Bukhara, JATMAN berhasil meneguhkan eksistensinya. Tarekat tidak diposisikan sebagai ruang eskapistik yang menjauhkan diri dari realitas, melainkan sebagai kekuatan transformatif yang menghadirkan kesejukan di bumi Nusantara dan menebar cahaya perdamaian bagi peradaban dunia.
Dwi Nugroho, Wakil Mudir JATMAN JAKARTA dan Khulafa Pondok Pesantren Pasulukan Al Masykuriyah
Terpopuler
1
Habib Umar bin Hafidz Kunjungi PBNU, Ada Tiga Agenda di Dalamnya
2
Berikut Daftar Wakil Rais Aam PBNU Periode 2026-2031 Beserta Bidangnya
3
Gus Ipul: Jangan Campuradukkan Muktamar NU dengan Persoalan Lain
4
Khutbah Jumat: Jangan Putus Asa Mencari Rezeki Halal Saat Ekonomi Sulit
5
Khutbah Jumat: Hak atas Udara Bersih untuk Menjaga Kesehatan Pernapasan
6
BNPB Sebut 639 Hektare Lahan Masih Terbakar di Enam Provinsi
Terkini
Lihat Semua