Oleh Eko Ahmadi
Bendera ( Ų§ŁŲ±ŁŁŲ§ŁŁŲ©Ł ) adalah satu di antara simbol identitas yang biasa dibawa saat perang sejak komunitas manusia mulai memiliki seorang pemimpin ( Ų§ŁŁŲ®ŁŁŁŁŁŁŁŲ©Ł ) bagi kelompoknya di muka bumi. Bahkan hingga saat ini bendera juga masih dibawa saat terjadi pertempuran maupun peperangan. Bendera juga dibawa di medan perang pada masa Nabi Muhamad SAW dan para pemimpin setelah beliau (Ų§ŁŲ®ŁŁŲ§Ų” Ų§ŁŲ±Ų§Ų“ŲÆŁŁĀ ). Sedang fungsi penggunaan bendera di medan perang adalah untuk menggertak atau menciutkan nyali lawan ( Ų§ŁŲŖŁŁŁŁŁŁŁŁŁŁ ). (ibnu Khaldun, al-Muqadimah, 2006, hlm. 202).
Selain di medan perang, bendera biasanya dibawa saat para khalifah maupun pejabat melakukan perjalanan ke luar daerah. Pada kondisi ini, untuk membedakan siapa yang sedang melakukan perjalanan dapat dilihat dari jumlah bendera yang dibawa. Yakni, bendera yang dibawa saat khalifah yang melakukan perjalanan itu lebih banyak dibanding bendera yang dibawa saat pejabat yang melakukan perjalanan. Disamping itu, bendera untuk kekhalifahan memiliki warna khusus, yang berbeda dengan bendera yang dipakai para pejabat. (ibnu Khaldun, al-Muqadimah, 2006, hlm. 202). Demikian pula perihal bendera Nabi SAW, yang konon juga memiliki warna khusus sebagaimana ragam informasi di bawah ini:
Informasi pertama:Ā
ŲŁŲÆŁŁŲ«ŁŁŁŲ§ Ų„ŁŲØŁŲ±ŁŲ§ŁŁŁŁ
Ł ŲØŁŁŁ Ł
ŁŁŲ³ŁŁ Ų§ŁŲ±ŁŁŲ§Ų²ŁŁŁŁŲ Ų£ŁŲ®ŁŲØŁŲ±ŁŁŁŲ§ Ų§ŲØŁŁŁ Ų£ŁŲØŁŁ Ų²ŁŲ§Ų¦ŁŲÆŁŲ©ŁŲ Ų£ŁŲ®ŁŲØŁŲ±ŁŁŁŲ§ Ų£ŁŲØŁŁ ŁŁŲ¹ŁŁŁŁŲØŁ Ų§ŁŲ«ŁŁŁŁŁŁŁŁŁŲ ŲŁŲÆŁŁŲ«ŁŁŁŁ ŁŁŁŁŁŲ³Ł ŲØŁŁŁ Ų¹ŁŲØŁŁŁŲÆŁ Ł
ŁŁŁŁŁŁ Ł
ŁŲŁŁ
ŁŁŲÆŁ ŲØŁŁŁ Ų§ŁŁŁŁŲ§Ų³ŁŁ
ŁŲ ŁŁŲ§ŁŁ: ŲØŁŲ¹ŁŲ«ŁŁŁŁ Ł
ŁŲŁŁ
ŁŁŲÆŁ ŲØŁŁŁ Ų§ŁŁŁŁŲ§Ų³ŁŁ
Ł Ų„ŁŁŁŁ Ų§ŁŁŲØŁŲ±ŁŲ§Ų”Ł ŲØŁŁŁ Ų¹ŁŲ§Ų²ŁŲØŁ ŁŁŲ³ŁŲ£ŁŁŁŁŁ Ų¹ŁŁŁ Ų±ŁŲ§ŁŁŲ©Ł Ų±ŁŲ³ŁŁŁŁ Ų§ŁŁŁŁ ŲµŁŁŁŁŁ Ų§ŁŁŁŁ Ų¹ŁŁŁŁŁŁŁ ŁŁŲ³ŁŁŁŁŁ
Ł Ł
ŁŲ§ŁŁŁŁŲ ŁŁŁŁŲ§ŁŁ: ŁŁŲ§ŁŁŲŖŁ Ų³ŁŁŁŲÆŁŲ§Ų”Ł Ł
ŁŲ±ŁŲØŁŁŲ¹ŁŲ©Ł Ł
ŁŁŁ ŁŁŁ
ŁŲ±ŁŲ©Ł.
āInformasi dari Ibrahim bin Musa ar-Razi ⦠Yunus bin Ubaid diutus Muhamad bin al-Qasim untuk bertanya kepada Bara bin Azib tentang bendera Nabi SAW, Bara menjawab, āBendera Nabi SAW berwarna hitam, berbentuk segi empat (bujur sangkar), terbuat dari kain wol.ā (H.r. Abu Daud, 1999, hlm. 293, hadis no. 2591).
Sanad hadis: hasan gharib, menurut at-Tirmizi (at-Tirmizi, 1996, vol. 3, hlm. 306, hadis no. 1680); hasan, menurut al-Bukhari (al-Manawi, Faidhul Qadir, 1972, hlm. 171); dhaif, menurut ulama yang lain (Ahmad bin Hanbal, 1999, vol. 30., hlm. 589, hadis no. 18627).
Informasi kedua:
ŲŁŲÆŁŁŲ«ŁŁŁŲ§ Ų„ŁŲ³ŁŲŁŲ§ŁŁ ŲØŁŁŁ Ų„ŁŲØŁŲ±ŁŲ§ŁŁŁŁ
Ł Ų§ŁŁŁ
ŁŲ±ŁŁŁŲ²ŁŁŁŁ ŁŁŁŁŁŁ Ų§ŲØŁŁŁ Ų±ŁŲ§ŁŁŁŁŁŁŁŁŲ ŲŁŲÆŁŁŲ«ŁŁŁŲ§ ŁŁŲŁŁŁŁ ŲØŁŁŁ Ų¢ŲÆŁŁ
ŁŲ ŲŁŲÆŁŁŲ«ŁŁŁŲ§ Ų“ŁŲ±ŁŁŁŁŲ Ų¹ŁŁŁ Ų¹ŁŁ
ŁŁŲ§Ų±Ł Ų§ŁŲÆŁŁŁŁŁŁŁŁŁŲ Ų¹ŁŁŁ Ų£ŁŲØŁŁ Ų§ŁŲ²ŁŁŲØŁŁŁŲ±ŁŲ Ų¹ŁŁŁ Ų¬ŁŲ§ŲØŁŲ±ŁŲ ŁŁŲ±ŁŁŁŲ¹ŁŁŁ Ų„ŁŁŁŁ Ų§ŁŁŁŁŲØŁŁŁŁ ŲµŁŁŁŁŁ Ų§ŁŁŁŁ Ų¹ŁŁŁŁŁŁŁ ŁŁŲ³ŁŁŁŁŁ
ŁŲ Ų£ŁŁŁŁŁŁ ŁŁŲ§ŁŁ ŁŁŁŁŲ§Ų¤ŁŁŁ ŁŁŁŁŁ
Ł ŲÆŁŲ®ŁŁŁ Ł
ŁŁŁŁŲ©Ł Ų£ŁŲØŁŁŁŲ¶Ł.
āInformasi dari Ishak bin Ibrahim al-Marwazi ⦠dari Jabir, bahwasanya panji Nabi SAW saat memasuki Makkah berwarna putih.ā (H.r. Abu Daud, 1999, hlm. 293, hadis no. 2592).
Sanad hadis: gharib, menurut al-Bukhari (al-Mizi, Tuhfatul Asyraf, 1999, vol. 2, hlm. 441, hadis no. 2889); gharib oleh at-Tirmizi (Abu Daud, 1999, hlm. 293, hadis no. 2592).; sahih menurut Muslim (al-Hakim, al-Mustadrak, 1998, vol. 2, hlm. 126, hadis no. 2560).
Informasi ketiga:
ŲŁŲÆŁŁŲ«ŁŁŁŲ§ Ų¹ŁŁŁŲØŁŲ©Ł ŲØŁŁŁ Ł
ŁŁŁŲ±ŁŁ
ŁŲ ŲŁŲÆŁŁŲ«ŁŁŁŲ§ Ų³ŁŁŁŁ
Ł ŲØŁŁŁ ŁŁŲŖŁŁŁŲØŁŲ©Ł Ų§ŁŲ“ŁŁŲ¹ŁŁŲ±ŁŁŁŁŲ Ų¹ŁŁŁ Ų“ŁŲ¹ŁŲØŁŲ©ŁŲ Ų¹ŁŁŁ Ų³ŁŁ
ŁŲ§ŁŁŲ Ų¹ŁŁŁ Ų±ŁŲ¬ŁŁŁ Ł
ŁŁŁ ŁŁŁŁŁ
ŁŁŁŲ Ų¹ŁŁŁ Ų¢Ų®ŁŲ±Ł Ł
ŁŁŁŁŁŁ
Ł ŁŁŲ§ŁŁ: Ų±ŁŲ£ŁŁŁŲŖŁ Ų±ŁŲ§ŁŁŲ©Ł Ų±ŁŲ³ŁŁŁŁ Ų§ŁŁŁŁ ŲµŁŁŁŁŁ Ų§ŁŁŁŁ Ų¹ŁŁŁŁŁŁŁ ŁŁŲ³ŁŁŁŁŁ
Ł ŲµŁŁŁŲ±ŁŲ§Ų”Ł.
āInformasi dari Uqbah bin Mukram ⦠dari sahabat yang tidak diketahui namanya, ia berkata, āAku melihat bahwasanya bendera Nabi SAW berwarna kuning.ā.ā (H.r. Abu Daud, 1999, hlm. 293, hadis no. 2593).
Sanad hadis tidak jelas ( Ų¬ŁŁŲ§ŁŲ© ) dan/atau tidak diketahui ( Ł
Ų¬ŁŁŁ ). (ibnu al-Mulaqin, al-Badru al-Munir, 2004, vol. 9, hlm. 63-64; ar-Rubai, Fathul Ghafar, 1427, vol. 4, hlm. 1761, hadis no. 5177).
Informasi keempat:
ŲŁŲÆŁŁŲ«ŁŁŁŲ§ Ł
ŁŲŁŁ
ŁŁŲÆŁ ŲØŁŁŁ Ų±ŁŲ§ŁŁŲ¹Ł ŁŁŲ§ŁŁ: ŲŁŲÆŁŁŲ«ŁŁŁŲ§ ŁŁŲŁŁŁŁ ŲØŁŁŁ Ų„ŁŲ³ŁŲŁŲ§ŁŁ ŁŁŁŁŁŁ Ų§ŁŲ³ŁŁŲ§ŁŁŲŁŲ§ŁŁŁŁŁ ŁŁŲ§ŁŁ: ŲŁŲÆŁŁŲ«ŁŁŁŲ§ ŁŁŲ²ŁŁŲÆŁ ŲØŁŁŁ ŲŁŁŁŁŲ§ŁŁŲ ŁŁŲ§Ł: Ų³ŁŁ
ŁŲ¹ŁŲŖŁ Ų£ŁŲØŁŲ§ Ł
ŁŲ¬ŁŁŁŲ²Ł ŁŁŲ§ŲŁŁŁ ŲØŁŁŁ ŲŁŁ
ŁŁŁŲÆŁ ŁŁŲŁŲÆŁŁŲ«ŁŲ Ų¹ŁŁŁ Ų§ŲØŁŁŁ Ų¹ŁŲØŁŁŲ§Ų³Ł ŁŁŲ§ŁŁ: ŁŁŲ§ŁŁŲŖŁ Ų±ŁŲ§ŁŁŲ©Ł Ų±ŁŲ³ŁŁŁŁ Ų§ŁŁŁŁ ŲµŁŁŁŁŁ Ų§ŁŁŁŁ Ų¹ŁŁŁŁŁŁŁ ŁŁŲ³ŁŁŁŁŁ
Ł Ų³ŁŁŁŲÆŁŲ§Ų”ŁŲ ŁŁŁŁŁŁŲ§Ų¤ŁŁŁ Ų£ŁŲØŁŁŁŲ¶Ł.
āInformasi dari Muhamad bin Rafik ⦠dari ibnu Abas, ia berkata, āBendera Rasulullah SAW berwarna hitam, sedang panjinya berwarna putih.ā.ā (H.r. at-Tirmizi,1996, vol. 3, hlm. 306-307, hadis no. 1681).
Sanad hadis: gharib, menurut a-Tirmizi (al-Mubarakfuri, Tuhaftul Ahwazi, tt., vol. 5, hlm. 328, hadis no. 1732); dhaif, menurut al-Iraqi (al-Iraqi, Turhut Tasrib, tt., vol. 7, hlm. 220).
Informasi kelima:
Ų£ŁŲ®ŁŲØŁŲ±ŁŁŁŲ§ Ų£ŁŲØŁŁŁ Ų¹ŁŲØŁŲÆŁ Ų§ŁŁŁŁ Ų§ŁŁŲŁŲ§ŁŁŲøŁŲ ŁŲ§Ł: ŲŁŲÆŁŁŲ«ŁŁŁŲ§ Ų£ŁŲØŁŁ Ų§ŁŁŲ¹ŁŲØŁŁŲ§Ų³Ł (Ł
ŲŁ
ŲÆ ŲØŁ ŁŲ¹ŁŁŲØ)Ų ŁŲ§Ł: ŲŁŲÆŁŁŲ«ŁŁŁŲ§ Ł
ŁŲŁŁ
ŁŁŲÆŁ ŲØŁŁŁ Ų¹ŁŲØŁŲÆŁ Ų§ŁŁŲ¬ŁŲØŁŁŲ§Ų±ŁŲ ŁŲ§Ł: ŲŲÆŲ«ŁŲ§ ŁŁŁŲ³ ŲØŁ ŲØŁŁŁŁŁŲ±ŁŲ Ų¹ŁŁŁ Ų§ŲØŁŁŁ Ų„ŁŲ³ŁŲŁŲ§ŁŁŲ ŁŁŲ§ŁŁ: ŁŁŲ§ŁŁ Ų¹ŁŲØŁŲÆŁ Ų§ŁŁŁŁ ŲØŁŁŁ Ų£ŁŲØŁŁ ŲØŁŁŁŲ±ŁŲ Ų¹ŁŁŁ Ų¹ŁŲ§Ų¦ŁŲ“ŁŲ©Ł ŁŁŲ§ŁŁŲŖŁ: ŁŁŲ§ŁŁ ŁŁŁŁŲ§Ų”Ł Ų±ŁŲ³ŁŁŁŁ Ų§ŁŁŁŁ ŲµŁŁŁŁŁ Ų§ŁŁŁŁ Ų¹ŁŁŁŁŁŁŁ ŁŁŲ³ŁŁŁŁŁ
Ł ŁŁŁŁŁ
Ł Ų§ŁŁŁŁŲŖŁŲŁ Ų£ŁŲØŁŁŁŲ¶ŁŲ ŁŁŲ±ŁŲ§ŁŁŲŖŁŁŁ Ų³ŁŁŁŲÆŁŲ§Ų”Ł ŁŁŲ·ŁŲ¹ŁŲ©Ł Ł
ŁŲ±ŁŲ·Ł Ł
ŁŲ±ŁŲ¬ŁŁŁŁ Ų ŁŁŁŁŲ§ŁŁŲŖŁ Ų§ŁŲ±ŁŁŲ§ŁŁŲ©Ł ŲŖŁŲ³ŁŁ
ŁŁŁ Ų§ŁŁŲ¹ŁŁŁŲ§ŲØŁ.
āAku mendapat kabar dari Abu Abdillah al-Hafiz ⦠dari Aisyah rha., ia berkata, āPanji Rasulullah saat memasuki kota Makah berwarna putih, sedang benderanya berwarna hitam berbahan potongan kain wol yang bergambar laki-laki, dan bendera itu dinamai Uqab.ā.ā (H.r. al-Baihaqi, Dalailun Nubuwah, 1988, vol. 5, hlm. 68).
Saat tulisan ini dibuat, penulis belum menemukan penjelasan perihal sanad hadis yang bersumber dari Aisyah rah. ini. Adapun, yang ada penjelasannya bersumber dari al-Hasan:
ŲŁŲÆŁŁŲ«ŁŁŁŲ§ ŁŁŁŁŁŲ¹ŁŲ ŁŁŲ§ŁŁ Ų«ŁŲ§ Ų³ŁŁŁŁŁŲ§ŁŁŲ Ų¹ŁŁŁ Ų£ŁŲØŁŁ Ų§ŁŁŁŁŲ¶ŁŁŁŲ Ų¹ŁŁŁ Ų§ŁŁŲŁŲ³ŁŁŁŲ ŁŁŲ§ŁŁ: ŁŁŲ§ŁŁŲŖŁ Ų±ŁŲ§ŁŁŲ©Ł Ų§ŁŁŁŁŲØŁŁŁŁ ŲµŁŁŁŁŁ Ų§ŁŁŁŁ Ų¹ŁŁŁŁŁŁŁ ŁŁŲ³ŁŁŁŁŁ
Ł Ų³ŁŁŁŲÆŁŲ§Ų”Ł ŲŖŁŲ³ŁŁ
ŁŁŁ Ų§ŁŁŲ¹ŁŁŁŲ§ŲØŁ.
āInformasi dari Wakik ⦠dari al-Hasan, ia berkata, āBahwasanya bendera Nabi SAW berwarna hitam dan dinamai Uqab.ā.ā (H.r. ibnu Abi Syaibah, 2008, vol. 11, hlm. 219-220, hadis no. 34184).
Sanad hadis: mursal (ibnu Abi Syaibah, 2008, vol. 11, hlm. 220; al-Iraqi, al-Mughni, 1995, vol. 1, hlm. 672).
Informasi keenam:
ŲŁŲÆŁŁŲ«ŁŁŁŲ§ Ų£ŁŲŁŁ
ŁŲÆŁ ŲØŁŁŁ Ų²ŁŁŁŲ¬ŁŁŁŁŁŁŁ Ų§ŁŁŁ
ŁŲ®ŁŲ±ŁŁŁ
ŁŁŁŁŲ ŁŁŲ§ Ł
ŁŲŁŁ
ŁŁŲÆŁ ŲØŁŁŁ Ų£ŁŲØŁŁ Ų§ŁŲ³ŁŁŲ±ŁŁŁŁ Ų§ŁŁŲ¹ŁŲ³ŁŁŁŁŁŲ§ŁŁŁŁŁŲ ŁŁŲ§ Ų¹ŁŲØŁŁŲ§Ų³Ł ŲØŁŁŁ Ų·ŁŲ§ŁŁŲØŁŲ Ų¹ŁŁŁ ŲŁŁŁŁŲ§ŁŁ ŲØŁŁŁ Ų¹ŁŲØŁŁŁŲÆŁ Ų§ŁŁŁŁŲ Ų¹ŁŁŁ Ų£ŁŲØŁŁ Ł
ŁŲ¬ŁŁŁŲ²ŁŲ Ų¹ŁŁŁ Ų§ŲØŁŁŁ Ų¹ŁŲØŁŁŲ§Ų³ŁŲ ŁŁŲ§ŁŁ: ŁŁŲ§ŁŁŲŖŁ Ų±ŁŲ§ŁŁŲ©Ł Ų±ŁŲ³ŁŁŁŁ Ų§ŁŁŁŁ ŲµŁŁŁŁŁ Ų§ŁŁŁŁ Ų¹ŁŁŁŁŁŁŁ ŁŁŲ³ŁŁŁŁŁ
Ł Ų³ŁŁŁŲÆŁŲ§Ų”Ł ŁŁŁŁŁŁŲ§Ų”ŁŁŁ Ų£ŁŲØŁŁŁŲ¶ŁŲ Ł
ŁŁŁŲŖŁŁŲØŁ ŁŁŁŁŁŁ: ŁŁŲ§ Ų„ŁŁŁ°ŁŁ Ų„ŁŁŁŁŲ§ Ų§ŁŁŁŁ Ł
ŁŲŁŁ
ŁŁŲÆŁ Ų±ŁŲ³ŁŁŁŁ Ų§ŁŁŁŁ
āInformasi dari Ahmad bin Zanjuwaih al-Mukharimi ⦠dari ibnu Abas ra., ia berkata, āBendera Rasulullah SAW berwarna hitam, sedang panjinya berwarna putih dan ada tulisan kalimat tauhid.ā.ā (H.r. Abu asy-Syekh, Akhlaqun Nabi SAW, 1998, vol. 2, hlm. 416, hadis no. 424).
Sanad hadis: daif, menurut mayoritas ulama (Abu asy-Syekh, 1998, vol. 2, hlm. 416); sangat daif, menurut ibnu Hajar al-Asqalani. (ibnu Hajar al-Asqalani, Fathul Bari, 2001, vol. 6, hlm. 147).
***
Bertolak dari ragam informasi di atas, beberapa catatan perlu kita renungkan, di antaranya:
1. Panji ( Ų§ŁŁŁŁŁŁŲ§Ų”Ł ) adalah sesuatu (kain) yang diikat dan dibelitkan di ujung tombak saat perang. Adapun, bendera ( Ų§ŁŲ±ŁŁŲ§ŁŁŲ©Ł ) adalah, kain yang diikatkan di ujung tombak saat perang, maupun yang diikat diujung tiang di luar perang. Panji berfungsi untuk menunjukkan posisi pemimpin pasukan, sedang bendera dibawa oleh pasukan perang. (ibnu Hajar al-Asqalani, Fathul Bari, 2001, vol. 6, hlm. 147).
2. Yang dimaksud warna hitam bukan berarti bendera Nabi SAW benar-benar berwarna hitam, melainkan kain yang dipakai didominasi warna hitam, sehingga saat dilihat dari kejauhan tampak berwarna hitam (putih kehitam-hitaman). Yang demikian, karena kain yang digunakan berbahan baku wol ( ŁŁŁ
ŁŲ±ŁŲ©Ł ) yang biasa dipakai orang Arab, yang mana kain tersebut dibuat menggunakan benang hitam dan putih. (al-Mubarakfuri, Tuhaftul Ahwazi, tt., vol. 5, hlm. 328).
3. Terkait warna bendera Nabi SAW ada tiga versi: pertama, bendera Nabi SAW disebut Uqab ( Ų§ŁŁŲ¹ŁŁŁŲ§ŲØŁ ), berwarna hitam, berbentuk bujur sangkar; kedua, bendera Nabi
SAW disebut bendera putih ( Ų§ŁŲ±ŁŁŲ§ŁŁŲ©Ł Ų§ŁŁŲØŁŁŁŲ¶ŁŲ§Ų”Ł ); ketiga, bendera Nabi SAW berwarna merah ( Ų§ŁŁŲŁŁ
ŁŲ±ŁŲ§Ų”Ł ). (ibnu Hajar al-Asqalani, Fathul Bari, 2001, vol. 6, hlm. 147; al-Iraqi, Turhut Tasrib, tt., vol. 7, hlm. 221).
Merujuk pada sejumlah keterangan di atas, poin penting yang dapat kita jadikan bahan acuan sebelum mengambil kesimpulan, yakni:
1. Pemakaian bendera sebagai simbol identitas kelompok masyarakat sudah ada jauh sebelum Nabi SAW menggunakannya. Dengan kata lain, penggunaan bendera adalah murni produk budaya yang dikembangkan sesuai selera masing-masing komunitas masyarakatāmeliputi bentuk dan warna bendera, bukan produk syariat agama. Sederhananya, penggunaan bendera sebagai simbol identitas kelompok masyarakat hanya untuk membedakan satu kelompok masyarakat tertentu dengan kelompok masyarakat yang lain.
2. Merujuk pada informasi (hadits) di atas, dijelaskan bahwa bentuk bendera Nabi SAW adalah segi empat ābujur sangkarā ( Ł
ŁŲ±ŁŲØŁŁŲ¹Ł ), bukan persegi panjang ( Ł
ŁŲ³ŁŲŖŁŲ·ŁŁŁŁŁ). Bila informasi ini dianggap sebagai hukum syariat agama, maka penggunaan bendera persegi panjang, yang kemudian dinisbatkan sebagai bendera Nabi SAW tentu saja berdosa, karena menyalahi dan mengingkari ketentuan asalnya.
3. Terkait warna bendera Nabi SAW, antar informasi terjadi perbedaan, yakni warna hitam, kuning, merah, dan putih, termasuk juga terkait rangkaian transmisinya. Taruh kata ragam informasi di atas dapat dipakai semua ( Ų§ŁŲ¬Ł
Ų¹ ŲØŁŁ Ų§ŁŲ£ŲŲ§ŲÆŁŲ« ), maka penjelasan yang keluar adalah, bahwa warna bendera Nabi SAW itu berubah-ubah sesuai kondisi dan kebutuhan. (as-Sahrazuri, Muqadimah ibnu Shalah, 2006, hlm. 296).
4. Terkait tulisan kalimat tauhid, mayoritas informasi yang ada menjelaskan, bahwa yang bertuliskan kalimat tauhid adalah bendera Nabi SAW, semisal yang dikeluarkan ibnu Hajar al-Asqalani:
ŁŲ§Ł Ł
ŁŲŖŁŲØŲ§ Ų¹ŁŁ Ų±Ų§ŁŲŖŁ: ŁŁŲ§ Ų„ŁŁŁ°ŁŁ Ų„ŁŁŁŁŲ§ Ų§ŁŁŁŁ Ł
ŁŲŁŁ
ŁŁŲÆŁ Ų±ŁŲ³ŁŁŁŁ Ų§ŁŁŁŁ.
āBendera Nabi SAW bertuliskan kalimat tauhid.ā (ibnu Hajar al-Asqalani, Fathul Bari, 2001, vol. 6, hlm. 147).
Namun, bagi penulis, hal tersebut menjadi aneh, karena term Ų±Ų§ŁŲ© masuk kategori lafal muanas, sementara kata ganti (dhamir) yang dipakai dalam informasi keenam merujuk pada lafal muzakar, yakni term ŁŁŲ§Ų” . Oleh karena itu, penulis berpandangan bahwa yang bertuliskan kalimat tauhid bukanlah bendera Nabi SAW, melainkan panji Nabi SAW, itu saja kalau informasi keenam dapat digunakan. Namun sayangnya, informasi keenam yang menjelaskan tulisan kalimat tauhid tidak bisa dijadikan dasar hukum, kecuali bagi mereka yang tetap memaksakannya sebagai dasar hukum.
***
Pada akhirnya, kita pun harus mengakui kenyataan sejarah, bahwa penggunaan bendera tidak ada sangkut pautnya dengan syariat agama, begitu pula terkait bentuk ukuran dan warnanya. Bukankah warna bendera para raja paska khalifah pengganti Nabi SAW juga berbeda-beda, yang di antaranya:
1. Dinasti Abasiah, mereka menggunakan bendera warna hitam. Namun, pemilihan warna hitam bukan karena mengikuti informasi yang menjelaskan bila bendera Nabi SAW berwarna hitam, melainkan sebagai tanda kesedihan atas gugurnya para syuhada dari Bani Hasyim ( ŲŲ²ŁŲ§ Ų¹ŁŁ Ų“ŁŲÆŲ§Ų¦ŁŁ
Ł
Ł ŲØŁŁ ŁŲ§Ų“Ł
), disamping sebagai celaan pada Bani Umayah yang telah membunuh mereka ( ŁŲ¹ŁŲ§ Ų¹ŁŁ ŲØŁŁ Ų£Ł
ŁŲ© ŁŁ ŁŲŖŁŁŁ
). Oleh karenya, bendera tersebut dinamai al-musawwidah ( Ų§ŁŁ
Ų³ŁŁŁŲÆŲ© ).
2. Dinasti Fatimiah ( Ų§ŁŲ¹ŁŲØŁŁŁŲÆŁŁŁŁŁŁ ), mereka memakai bendera berwarna putih, yang dinamai al-mubaiyidhah ( Ų§ŁŁ
ŁŲØŁŁŁŁŲ¶ŁŲ© ).
3. Khalifah al-Makmun, ia tidak menggunakan bendera warna hitam maupun putih, melainkan menggunakan bendera warna hijau ( Ų§ŁŁŲ®ŁŲ¶ŁŲ±ŁŲ§Ų” ). (ibnu Khaldun, al-Muqadimah, 2006, hlm. 202).
4. Bahkan hingga sekarang, mayoritas negara-negara di Arab maupun Timur Tengah menggunakan bendera yang berwarna-warni, ada yang hijau, merah, atau kombinasi antara hijau-putih-hitam, dan lain sebagainya.
Selanjutnya, bila kita membaca ragam literatur karya para ulama atau sarjana muslim terdahulu yang mengupas tentang sistem pemerintahan, mayoritas dari mereka tidak menjelaskan masalah perihal bentuk dan warna bendera yang harus dipakai. Hal ini, membuktikan bahwa para ulama atau sarjana muslim terdahulu sadar bila bendera bukanlah produk syariat agama, melainkan produk budaya semata.
Dan terkait budaya, mayoritas para pendahulu sepakat bila:
Ų§ŁŁŲ£ŁŲµŁŁŁ ŁŁŁ Ų§ŁŁŲ¹ŁŁŁŁŁŲÆŁ ŁŁ Ų§ŁŁŁ
ŁŲ¹ŁŲ§Ł
ŁŁŁŲ§ŲŖŁ Ų§ŁŁŲ„ŁŲØŁŲ§ŲŁŲ©Ł ŲŁŲŖŁŁŁ ŁŁŲ£ŁŲŖŁŁŁ Ł
ŁŲ§ ŁŁŲÆŁŁŁŁ Ų¹ŁŁŁŁ Ų§ŁŲŖŁŁŲŁŲ±ŁŁŁŁ
Ł
āPada dasarnya, hal-hal yang berkaitan dengan kesepakatan bersama dan hubungan sosial antar manusia boleh dilakukan selama tidak ada dasar hukum yang melarangnya.ā (ash-Shawi, at-Taaddudiyyah as-Siyasiyyah, 1996, hlm. 75).
Wallahu a'lam bis-Shawaab
Penulis adalah pengurus Lembaga Seni Budaya Muslim Indonesia (Lesbumi) PBNU