Internasional

Setelah Tertimbun Sejak 2023, 112 Jenazah Rakyat Palestina Berhasil Dievakuasi dan Dimakamkan

NU Online  ·  Rabu, 5 Agustus 2026 | 16:30 WIB

Setelah Tertimbun Sejak 2023, 112 Jenazah Rakyat Palestina Berhasil Dievakuasi dan Dimakamkan

Ribuan warga Palestina mengantarkan pemakaman 112 anggota keluarga Abu Sharia al-Hassaina di Kota Gaza, Selasa (4/8/2026). (Foto: WAFA)

Jakarta, NU Online

Ribuan warga Palestina mengantarkan pemakaman 112 anggota keluarga Abu Sharia al-Hassaina di Kota Gaza, Selasa (4/8/2026). Jenazah para korban baru berhasil dievakuasi dari bawah reruntuhan bangunan yang hancur akibat serangan Israel selama agresi di Jalur Gaza sejak Oktober 2023.


Dikutip dari WAFA, prosesi pemakaman berlangsung dalam suasana duka. Jenazah para korban yang terdiri atas anak-anak, perempuan, laki-laki, hingga lanjut usia dibungkus bendera Palestina dan disemayamkan di antara bangunan-bangunan yang hancur di kawasan al-Sabra sebelum diarak menuju Pemakaman Sheikh Shaaban di Gaza bagian tengah.


Anak-anak menaburkan bunga di atas kain kafan, sementara keluarga dan kerabat mengucapkan salam perpisahan dengan linangan air mata.


Yousef Abu Sharia mengatakan sejak agresi Israel dimulai, sebanyak 308 anggota keluarganya telah meninggal dunia. Korban yang dimakamkan pada hari itu, katanya, terdiri atas bayi, anak-anak, perempuan, laki-laki dewasa, hingga lanjut usia. "Rudal-rudal Israel tidak menyisakan seorang pun," ujarnya.


Perwakilan keluarga, Jadou Abu Sharia, menyebut prosesi tersebut sebagai "pemakaman terbesar dalam sejarah Palestina modern."


Sementara itu, sesepuh keluarga Ali Abu Sharia menjelaskan, dari 112 korban yang dimakamkan, sebanyak 44 merupakan anak-anak, 37 perempuan, 23 lanjut usia, dan tujuh penyandang disabilitas.


Ia menuturkan keluarganya berulang kali menjadi sasaran serangan udara Israel sejak awal agresi.


Serangan pertama terjadi pada 20 Oktober 2023 ketika sebuah rumah keluarga berlantai lima dibombardir hingga menewaskan 14 anggota keluarga.


Serangan paling mematikan terjadi pada 22 November 2023 ketika Israel menggempur satu blok permukiman di kawasan al-Sabra yang saat itu menjadi tempat berlindung sekitar 300 anggota keluarga Abu Sharia. Puluhan orang meninggal di lokasi, sementara 70 jenazah berhasil dimakamkan saat itu. Sejumlah korban lainnya baru dapat ditemukan setelah proses evakuasi dari bawah reruntuhan dalam beberapa waktu terakhir.


Ali Abu Sharia mengatakan serangan terhadap keluarganya terus berlanjut. Pada Mei 2024, pemboman terhadap gedung Abu Salem Abu Sharia menewaskan 15 orang. Kemudian, pada Agustus 2025, serangan terhadap anggota keluarga yang sedang mengungsi dari Kota Gaza merenggut delapan nyawa, termasuk anak-anak.


Menurutnya, korban berasal dari berbagai latar belakang profesi, di antaranya pengusaha Ibrahim al-Hassaina, pemilik perusahaan kontraktor dan sejumlah gedung komersial, serta Ismail al-Hassaina, pemilik perusahaan properti dan jaringan kantor penukaran uang. Selain itu, terdapat pegawai, warga sipil, hingga anggota keluarga yang berkewarganegaraan asing.


Ali Abu Sharia menambahkan, hingga kini keluarganya telah memakamkan 267 anggota keluarga, sementara nasib 41 orang lainnya masih belum diketahui. Mereka diduga masih tertimbun reruntuhan atau jasadnya tercerai-berai akibat dahsyatnya ledakan.


Berdasarkan data sumber medis Palestina, sebanyak 2.276 keluarga Palestina dilaporkan kehilangan seluruh anggotanya selama agresi Israel di Gaza dengan total 8.858 korban jiwa tanpa seorang pun penyintas. Selain itu, 2.348 keluarga lainnya hanya menyisakan satu anggota keluarga yang masih hidup.


Prosesi pemakaman dihadiri ribuan pelayat, termasuk perwakilan keluarga Palestina lain yang juga kehilangan banyak anggota keluarganya akibat serangan Israel, seperti keluarga Daghmash, Abu Hasira, al-Ghoul, al-Madhoun, Abu al-Qumsan, Salem, Abu Nasr, al-Batsh, Abu Shamala, al-Astal, dan al-Farra.


Salah seorang pelayat, Abdul Rahman Abu Hasira, mengatakan keluarganya kehilangan sekitar 500 anggota dalam serangkaian serangan terhadap kawasan permukiman di Kota Gaza.


Ia mengaku menjadi satu-satunya penyintas ketika rumah keluarganya dibombardir pada 4 November 2023. Dalam serangan itu, kedua orang tuanya, empat saudara kandungnya, serta total 45 anggota keluarga lainnya meninggal dunia.


Menurut sumber medis Palestina, agresi Israel di Jalur Gaza sejak 7 Oktober 2023 telah menewaskan lebih dari 73.000 warga Palestina. Selain itu, puluhan ribu lainnya mengalami luka-luka atau masih dinyatakan hilang di tengah berlanjutnya pemboman, kelaparan, dan kehancuran infrastruktur di wilayah tersebut.

Gabung di WhatsApp Channel NU Online untuk info dan inspirasi terbaru!
Gabung Sekarang