Probolinggo, NU Online
Pondok Pesantren An-Nidhomiyah di Probolinggo, Jawa Timur, tidak menyelenggarakan pendidikan formal. Namun pesantren ini menyelengarakan program wajib belajar dinas pendidikan (wajar diknas) berupa tingkat Ula dan Wustho yang setara dengan program kejar paket A dan B.<>
Pengasuh Pensantren An-Nidhomiyah Saifuddin mengakui bahwa saat ini pendidikan pesantren yang murni salah sudah tidak lagi diminati oleh masyarakat. Terlebih pesantren yang hanya mengajarkan ilmu agama (salafiyah) saja.
Meskipun begitu, pesantren yang berada di Desa Sumurdalam Kecamatan Besuk Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur ini tidak merencanakan untuk bisa mendirikan pendidikan formal. Walaupun di Pesantren An-Nidhomiyah mempunyai lahan yang cukup untuk mendirikan pendidikan formal.
“Saya mendapatkan wasiat dari abah dan guru saya untuk tetap mengembangkan dan melestarikan salafiyah, meski itu bukan pilihan yang populer. Oleh karena itu, tidak mungkin bagi saya untuk melanggar wasiat tersebut. Insyaallah, amanah tersebut tetap saya pegang, ” tuturnya, Sabtu (19/4).
Walau Pesantren An-Nidhomiyah tidak mempunyai pendidikan formal, namun Saifuddin mengaku tidak mau santrinya ketinggalan jaman. Pesantren An-Nidhomiyah menyelengarakan wajib belajar dinas pendidikan (wajar diknas) berupa Ula dan Wustho.
“Wajar diknas Ula dan Wustho tersebut setara dengan pendidikan paket A dan B. Sehingga setelah kembali ke masyarakat, santri mempunyai bekal ilmu agama serta ijazah yang setara dengan penidikan umum,” jelasnya.
Menurut Saifuddin, Pesantren An-Nidhomiyah tersebut didirikan oleh ayahnya KH. Abdurrahman Ansori pada tahun 1990 silam. Meskipun awalnya hanya berbentuk pesantren kecil, tetapi keberadaannya sangat dibutuhkan oleh masyarakat sekitar.
“Alhamdulillah, pesantren ini menjadi jujugan bagi warga disini yang ingin menimba ilmu agama. Sebab sebelum ada pesantren ini, pendidikan agama disini sangat minim sekali. Sehingga tidak heran jika keberadaan pesantren ini benar-benar dibutuhkan oleh masyarakat,” pungkasnya. (Syamsul Akbar/Anam)
Terpopuler
1
Kultum Ramadhan: Keutamaan 10 Malam Terakhir dan Cara Mendapatkan Lailatul Qadar
2
Menurut Imam Ghazali, Lailatul Qadar Ramadhan 1447 H Akan Jatuh pada Malam Ke-25
3
Syed Muhammad Naquib al-Attas: Cendekiawan tanpa Telepon Genggam
4
Makna Keterpilihan Mojtaba Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi Iran
5
Cendekiawan Malaysia Syed Naquib Alatas Meninggal Dunia dalam Usia 94 Tahun
6
Lafal Doa Malam LaiLatul Qadar, Lengkap dengan Latin dan Terjemah
Terkini
Lihat Semua