Pertahankan Kekhasan dengan Sistem Salaf
NU Online · Ahad, 3 Agustus 2014 | 12:01 WIB
Probolinggo, NU Online
Meski dikelilingi lembaga pendidikan umum, namun Pesantren Sunan Drajat Hidayatullah tidak merasa sesak. Pesantren ini tetap berkembang dengan pesat dengan mempertahankan kekhasannya mengajarkan pendidikan salafiyah. Sudah 10 tahun lamanya, pesantren ini mengembangkan ajaran kitab-kitab Islam.<>
Pesantren Sunan Drajat Hidayatullah didirikan tahun 2004 silam. Letaknya berada di Kelurahan Jrebeng Kidul Kecamatan Wonoasih Kota Probolinggo. Cikal bakal pendiriannya berawal dari musholla kampung yang diasuh oleh KH. Faisol Untung.
Saat itu santri kampung yang mengaji di musholla itu berjumlah 5 (lima) orang. Mereka beraktifitas mengaji Al Qur’an seperti lazimnya sebuah musholla. Namun dengan berbagai pertimbangan, akhirnya rumah milik Kiai Faisol Untung tersebut diubah menjadi pesantren. “Kalau bagaimana cerita awalnya kami kurang paham. Abah saya yang tahu secara detail,” ungkap Kepala Pesantren Sunan Drajat Hidayatullah H Habibi, Ahad (3/8).
Habibi merupakan putra dari KH Faisol Untung yang telah mengurus pesantren tersebut sejak lima tahun terakhir. Kiprahnya juga banyak membuat perubahan di pesantren tersebut. Salah satunya dengan tetap mempertahankan sistem pembelajaran salafiyah, kendati banyak bermunculan lembaga pendidikan umum di sekitarnya.
Menurut Habibi, pemberian nama Pesantren Sunan Drajat Hidayatullah sendiri terinspirasi dari nama Wali Songo atau sembilan wali. “Harapannya agar bisa memberikan manfaat dan barokah bagi setiap santri atau pun pada lingkungan sekitar pesantren,” jelasnya.
Di tangan Habibi inilah perkembangan jumlah santri terus bertambah. Sekarang santri mukimnya berjumlah 20 orang dan santri non mukim berjumlah sekitar 60 orang. “Rata-rata santri mukim santri putra,” terangnya.
Bahkan ada dua lembaga pendidikan tambahan, yaitu lembaga Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dan Taman Kanak-kanak (TK). Meski demikian, pendirian pesantren ini semata-mata niat untuk mengamalkan ilmu, utamanya ilmu agama. Tidak hanya itu, pendirian pesantren tersebut juga bertujuan memperkuat syariat Islam melalui pesantren. “Alhamdulillah, jumlah santri yang mukim saat ini jumlahnya semakin bertambah,” pungkasnya. (Syamsul Akbar/Anam)
Terpopuler
1
Muktamar ke-35 NU Digelar 1-5 Agustus 2026, Penentuan Tuan Rumah Gunakan Empat Kriteria
2
KH Nurul Huda Djazuli: Saya Cinta NU, Saya Tak Ingin Melihat Pengurus Bertengkar, NU dan Pesantren Harus Menguatkan
3
Seruan 13 Kiai Sepuh tentang AHWA Jelang Pembukaan Munas dan Konbes NU 2026
4
Rais Aam PBNU Kembali Gunakan Bahasa Arab dalam Khutbah Iftitah Munas-Konbes NU 2026
5
Ketum PBNU: Barokah Kiai Sepuh, Munas dan Konbes NU di Ploso Berjalan Sukses
6
Sidang Pleno II Munas-Konbes, Ketum PBNU Sebut Pelatihan Kader NU Jadi Fondasi Meritokrasi
Terkini
Lihat Semua