Jakarta, NU Online
Umat Islam telah memasuki hari kesembilan di bulan Muharram 1448 H. Karenanya, Muslim disunnahkan untuk menjalankan ibadah puasa tasua pada Kamis (25/6/2026) besok. Puasa ini dianjurkan langsung Rasulullah saw dalam haditsnya.
Setidaknya, ada empat keutamaan yang bisa diperoleh umat Islam manakala dapat melaksanakan ibadah puasa tasua besok ini. Hal tersebut sebagaimana dikutip dari artikel Ustadz Ahmad Muntaha di NU Online berjudul Panduan Puasa Muharram: Tata Cara, Hukum, dan Keutamaannya pada Rabu (26/7/2023).
Pertama, puasa di hari Tasu’a pada 9 Muharram atau puasa 11 Muharram menjadi pelengkap puasa Asyura pada 10 Muharram sekaligus menjadi pembeda umat Islam dengan umat Yahudi yang sama-sama berpuasa di hari Asyura. Hal ini sebagaimana diriwayatkan Imam Ahmad dari Ibnu Abbas, “Puasalah kalian pada hari Asyura dan bedakan dengan kaum Yahudi, puasalah kalian sehari sebelum atau sesudahnya’.” (HR Ahmad).
"Di akhir hayat Rasullah saw memang suka membedakan ritual umat Islam dengan umat Yahudi," terang Ustadz Muntaha.
Dalam konteks ini, lanjutnya, al-Hafidh Ibnu Hajar mengatakan tingkatan puasa Asyura itu ada tiga, yakni(1) puasa hari Asyura saja; (2) puasa Asyura disertai puasa Tasu’a; dan (3) puasa Asyura disertai puasa Tasu’a dan puasa 11 Muharram. Hal ini sebagaimana diterangkan Imam Ahmad bin Ali bin Hajar Al-‘Asqalani dalam kitab Fathul Bâri Syarhu Shahîhil Bukhâri.
Baca Juga
3 Hikmah Disunahkannya Puasa Tasu'a
Kedua, pahala sehari puasa pada bulan Muharrram setara dengan puasa 30 hari. Hal ini seperti diriwayatkan dari Ibnu Abbas ra, bahwa Rasulullah saw bersabda, “Orang yang berpuasa pada hari Arafah maka menjadi pelebur dosa dua tahun, dan orang yang berpuasa sehari dari bulan Muharram maka baginya sebab puasa setiap sehari pahala 30 hari puasa’.” (HR at-Thabarani dalam al-Mu’jamus Shaghîr. Ini hadits gharîb namun sanadnya tidak bermasalah).
Ketiga, Muharram sebagai bagian dari asyhurul hurum memberikan keutamaan tersendiri puasa di dalamnya. Rasulullah saw menganjurkan umat Islam untuk berpuasa di empat bulan mulia itu sebagaimana disampaikan dalam sebuah haditsnya yang diriwayatkan Imam Abu Dawud dan Imam Ibnu Majah. ‘Puasalah bulan Sabar (Ramadhan) dan tiga hari setelahnya, dan puasalah pada bulan-bulan mulia’.” (HR Abu Dawud, Ibnu Majah dan selainnya).
Keempat, puasa Muharram merupakan puasa paling utama. Hal ini sebagaimana disebutkan Rasulullah saw dalam sebuah haditsnya, “Puasa yang paling utama setelah Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah, Muharram, dan shalat yang paling utama setelah shalat fardhu adalah shalat malam.” (HR Muslim).
Terpopuler
1
Muktamar ke-35 NU Digelar 1-5 Agustus 2026, Penentuan Tuan Rumah Gunakan Empat Kriteria
2
KH Nurul Huda Djazuli: Saya Cinta NU, Saya Tak Ingin Melihat Pengurus Bertengkar, NU dan Pesantren Harus Menguatkan
3
Seruan 13 Kiai Sepuh tentang AHWA Jelang Pembukaan Munas dan Konbes NU 2026
4
Rais Aam PBNU Kembali Gunakan Bahasa Arab dalam Khutbah Iftitah Munas-Konbes NU 2026
5
Ketum PBNU: Barokah Kiai Sepuh, Munas dan Konbes NU di Ploso Berjalan Sukses
6
Sidang Pleno II Munas-Konbes, Ketum PBNU Sebut Pelatihan Kader NU Jadi Fondasi Meritokrasi
Terkini
Lihat Semua