Pesantren Al-Amin Putri Mojokerto Latih para Calon Jurnalis
NU Online · Selasa, 21 April 2015 | 18:01 WIB
Mojokerto, NU Online
Pondok Pesantren al-Amin Putri Mojokerto mengkader calon-calon jurnalis masa depan melalui seminar jurnalistik, Ahad (19/4) kemarin di musholla lantai 2 pesantren tersebut. Kesadaran terhadap pentingnya bidang jurnalistik memang semakin dirasakan kaum santri.<>
Kegiatan yang diadakan oleh Unit Kegiatan Santri (UKS) Jurnalistik Pesantren al-Amin Putri tersebut mendapatkan dukungan baik dari santri, para tutor dan ustadzah. Tujuan dari kegiatan seminar jurnalistik ini agar santri dapat lebih mengenal sekaligus lebih mencintai dunia tulis-menulis.
Pemateri yang dihadirkan kali ini adalah M. Abror Rosyidin, Pemimpin Redaksi Tebuireng Online.
Muthmainatul Mufidah, ketua panitia seminar jurnalis menuturkan kegiatan ini berangkat dari kebutuhan pesantren terhadap para calon jurnalis.
"Kami, panitia ingin menumbuhkan minat santri dalam dunia tulis-menulis, dan saya pribadi mengharapkan untuk UKS Jurnalistik kedepannya agar lebih ditingkatkan kualitasnya,” katanya.
Ketua UKS Pesantren al-Amin Putri 2014/2015 , Rifdah Awaliyah Zuhro mengatakan kegiatan ini adalah salah satu program kerja UKS yang khusus menitikberatkan pada dunia tulis-menulis.
"Kita berusaha merealisasikan setiap program dengan langkah nyata, ya contohnya kegiatan Seminar Jurnalistik ini," ungkap Rifdah. Dia juga mengatakan bahwa pengurus UKS akan terus mengawal jalannya kegiatan pengembangan minat dan bakat santri.
"Menulis berita itu adalah pekerjaan mulia jika memberikan dampak positif bagi pembaca. Jadi jangan merasa sia-sia belajar jurnalistik," terang Abror yang juga alumni Pesantren al-Amin angkatan ke-7 ini.
Selain itu, Abror menyampaikan bahwa pewarta tidak boleh berbohong. "Wartawan atau reporter adalah manusia-manusia yang objektif dan jujur, berbicara sesuai data, kalau keluar dari data ya itu penggosip," tambahnya disambut tawa 50 peserta.
Abror juga menerangkan jika berita yang sukses adalah berita yang memberikan dampat nyata bagi pembaca.
"Berita yang dibaca tapi tidak berdampak pada pembaca adalah semi gagal. Yang dibaca hanya paragraf pertama saja adalah gagal karena leadnya (teras berita, red) jelek, lebih parah lagi sampai judul aja udah nggak narik sama sekali," terang lelaki asli Mojokerto tersebut. Oleh karena itu Abror sangat menekankan penulisan bagian teras berita atau lead agar lebih manarik.
Selain materi, para peserta juga diberikan tugas wawancara dan menulisnya dalam sebuah berita. "Praktek lebih penting dari pada teori", ujar Mahasiswa Ma'had Aly Tebuireng tersebut.
Hasil praktek tersebut dinilai dan ditentukan siapa terbaik pertama dan kedua. Hal ini dimaksudkan untuk memberikan stimulus semangat para peserta dalam dunia tulis-menulis. Terbaik pertama diraih oleh kelompok 7, terbaik ke dua diraih oleh kelompok 3. (Mufidah-Dila/Anam)
Terpopuler
1
Khutbah Jumat: Spirit Muharram untuk Menghadapi Era Modern
2
Kepada Pengurus NU, KH Nurul Huda Djazuli: Tetap Ikhlas demi Menghidupkan NU
3
Seruan 13 Kiai Sepuh tentang AHWA Jelang Pembukaan Munas dan Konbes NU 2026
4
Usulan LF PBNU Atasi Perbedaan Awal Bulan Hijriah di Tengah Kesepakatan Imkanur Rukyah
5
Khutbah Jumat Bahasa Jawa: Nguri-uri Kamulyaning Wulan Muharram
6
Khutbah Jumat: Pesan Rasulullah, Jangan Mencari-cari Kesalahan Orang Lain
Terkini
Lihat Semua