Shinta Nuriyah Merasa seperti Jenderal Sudirman
NU Online · Selasa, 3 November 2026 | 12:45 WIB
Muhammad Syakir NF
Penulis
“Aku jadi seperti Jenderal Sudirman, ya, kalau begini?”
Ungkapan itu muncul dari Shinta Nuriyah untuk menghibur dirinya yang harus ditandu agar tetap berkuliah di Universitas Indonesia (UI) mengingat kelasnya berada di lantai empat, sedangkan kondisi fisiknya akibat kecelakaan tak memungkinkan untuk menaiki tangga.
Gambaran di atas menunjukkan keseriusan dan kesungguhan Shinta dalam menempuh studi. Kondisi fisik tak menjadi alasan baginya untuk berhenti dari belajar. Pun dengan kesibukannya sebagai seorang ibu dari empat anak dan istri dari KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang saat itu menjadi Ketua Umum PBNU, ia masih menyempatkan diri untuk berkuliah.
Baca Juga
Kisah Ulama Berjuang dan Mengawal Bangsa
Sebagaimana Jenderal Sudirman, Shinta juga bergerilya ke berbagai tempat untuk menggelar Sahur Bersama yang sudah dilakoninya sejak lebih dari dua dekade saat masih menjabat sebagai Ibu Negara. Sahur ini digelar di sejumlah kota dan tempat, mulai pesantren, kolong jembatan, terminal, lokasi bencana, pasar, hingga tempat ibadah beragam agama. Sasarannya adalah kaum duafa, anak jalanan, kelompok marjinal, dan orang-orang kecil yang terpinggirkan. Kegiatan yang semula dilakukan sebagai program ibu negara ini terus berlanjut sampai saat ini.
Bukan saja karena buka puasa sudah terlalu banyak, sahur bersama dipilih juga karena menjadi lantaran pengingat dan sarana bagi mereka untuk dapat menunaikan kewajibannya berpuasa. Dalam menjalankan ini, ia tidak sendirian, melainkan mengajak sejumlah kelompok, organisasi, komunitas, dan lainnya untuk bergabung.
Gerakan Sahur Bersama ini pula yang dibawakan Shinta dalam pidatonya saat menerima anugerah gelar doktor kehormatan (honoris causa) dari kampus tempatnya menempuh studi sarjana, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta. Pada kesempatan itu, Shinta menegaskan bahwa puasa tidak hanya memiliki dimensi spiritual sebagai perintah Allah swt, tetapi juga mengandung dimensi sosial karena dapat meningkatkan empati dan solidaritas manusia atas manusia lainnya yang hidup dalam kesedihan, serta dapat meningkatkan kepekaan terhadap penderitaan orang lain. Ia membayangkan mbok-mbok bakul yang berada di kendaraan terbuka pukul 03.00 pagi, hingga kuli panggul dan tukang becak yang berjuang mencari sesuap nasi untuk diri dan keluarganya.
Melalui sahur bersama ini, Shinta tidak saja sedang menumbuhkan dimensi spiritual dan sosial, tetapi juga membangun toleransi dan memperkuat simpul jejaring yang merawat nilai-nilai perjuangan itu. Agenda itu juga ikhtiar dalam menanam bibit-bibit toleransi dan kepekaan sosial bangsa yang kelak tumbuh sebagai agen dalam merawat perdamaian negeri. Buku ini mengungkap kisah tersebut dengan singkat. Buku ini akan lebih menarik jika ada sorotan perjalanan secara detail, menangkap sorot mata para penerima, mengungkap wajah ceria mereka, dan mengurai cerita bahagianya.
Wacana Kesetaraan Gender
Shinta juga tidak hanya memupuk toleransi, tetapi juga mendedah wacana kesetaraan gender, sebuah topik yang tidak saja didalami secara gerakan, tetapi juga ia kaji secara akademik melalui studinya di Universitas Indonesia. Wacana itu bukan saja sebagai pengetahuan yang didiskusikan, tetapi Shinta lebih dari sekadar mengkajinya an sich, tetapi diwujudkan dalam gerakan yang berdampak.
Prof Ema Marhumah, promotor gelar doktor kehormatan untuk Shinta, menyampaikan bahwa sosok yang ia promosikan itu merupakan seorang aktivis yang sudah lama memperjuangkan hak-hak perempuan, pemberdayaan perempuan, advokasi terhadap perempuan korban kekerasan seksual. Pemahaman yang tidak tepat terhadap teks-teks agama, kata Ema mengutip Shinta, dapat berimplikasi pada kekerasan terhadap perempuan.
Hal tersebut ditunjukkan dengan banyak fakta yang mengungkap kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) terjadi dengan dalih pemahaman agama yang tidak tepat. Hal itu berimplikasi terhadap ketidakadilan dalam bersikap terhadap perempuan, bahkan hingga menimbulkan kekerasan dan memposisikannya sebagai subordinat dari laki-laki.
Oleh karena itu, Shinta mengawali gerakannya melalui diskusi bersama para ulama mengenai hubungan antara suami dan istri dalam satu kitab yang menjadi rujukan utama pesantren, Uqudullujain. Hasil diskusi tersebut melahirkan buku sebagai telaah kritis atas kitab tersebut berjudul, Wajah Baru Relasi Suami-Istri: Telaah Kitab Uqud al-Lujjayn. Hasil itu kemudian diadvokasi ke ranah yang lebih luas sehingga menghasilkan kebijakan publik dalam tatanan hukum negara dan norma baru di wilayah sosial.
Buku ini mengungkap sosok Shinta Nuriyah sebagai role model bagi perempuan. Ialah ibu bangsa yang kehidupannya menjadi teladan. Barangkali ia sempat dipandang sebagai perempuan dengan segenap privilese mengingat ada sosok Gus Dur di sampingnya. Itu tentu bisa dibenarkan pada satu sisi, tetapi di sisi lain, ada begitu banyak perjuangan yang dilakukannya. Menjadi istri Gus Dur tidaklah membuatnya ongkang-ongkang, tetapi ia tampil sebagai perempuan mandiri. Ia terbiasa menjahit baju sendiri untuk keluarganya, membuat kue ulang tahun putrinya, dan bekerja aktif sebagai wartawan. Sementara Gus Dur aktif di Nahdlatul Ulama dan berkeliling ke berbagai wilayah.
Keridaan seorang Shinta Nuriyah atas Gus Dur dengan kondisi demikian dan situasi yang menuntutnya untuk lebih pro aktif. Ia bukan sekadar ibu yang hanya mengurus kebutuhan anak, tetapi keseluruhannya sampai pada nafkah mengingat Gus Dur yang sibuk di luar. Sebagai seorang yang aktif di dunia wartawan, ia juga pernah menulis analisis bola yang disampaikan Gus Dur saat terbaring sakit dan mengirimnya ke media nasional. Sayangnya, cerita itu berhenti pada tutur lisan. Hal ini akan lebih menarik jika terkonfirmasi langsung pada sosok yang mengasuh rubrik tersebut dan melacak langsung analisis Gus Dur itu dengan hasil pertandingannya.
‘Ala kulli hal, buku biografi ini menjadi bacaan yang sangat layak sebagai sarana inspirasi dan rujukan yang bernas untuk peneliti dalam kajian kesetaraan gender, wacana perempuan, hingga toleransi.
Peresensi Syakir NF, pewarta NU Online
Identitas Buku
Judul: Shinta Nuriyah- Merawat Solidaritas Kemanusiaan
Penulis: Achmad Mukafi Niam, Syaifullah Amin
Tahun: 2025
Tebal: 103 halaman
Penerbit: Kanisius
ISBN: 978-979-21-8252-1
Terpopuler
1
Prabowo Sebut Ada Kelompok yang Ingin Indonesia Terpecah
2
Ketum PBNU Gus Kikin Imbau Warga Tidak Terprovokasi Kasus Pembakaran Warung Mi di Sukoharjo
3
Pemuda NU Asal Lumajang Raih Rekor MURI lewat Karya Buku Tertebal di Indonesia
4
Pelantikan PCNU Bekasi 2026–2031, Ketua PBNU Puji Raharjo Ingatkan Qanun Asasi untuk Penguatan Organisasi
5
Kader Ansor Tawarkan Ilmu Mantiq untuk Menyaring Informasi AI dalam Mu'tamad 2026 di Lirboyo
6
Pemuda Desak Karhutla Jadi Bencana Nasional, Walhi Ingatkan Kewajiban Lindungi Rakyat
Terkini
Lihat Semua