Tokoh

KH M Salman Dahlawi, Tokoh Tarekat Naqsyabandiyah dari Popongan Klaten

NU Online  ·  Ahad, 19 April 2026 | 17:00 WIB

KH M Salman Dahlawi, Tokoh Tarekat Naqsyabandiyah dari Popongan Klaten

KH Salman Dahlawi. (Foto: ilustrasi Aceng)

Martin van Bruinessen dalam buku Tarekat Naqsyabandiyah di Indonesia: survei historis, geografis, dan sosiologis (Mizan, 1992, hlm. 163) menyebut KH M Salman Dahlawi sebagai sosok yang sangat dihormati dan dipuji oleh sesama kiai tarekat. Dalam catatannya tersebut, ia mengurutkan tokoh yang biasa disebut Mbah Salman oleh para muridnya, sebagai seorang mursyid tarekat Naqsabandiyah, setelah nama kakek dan kakek buyutnya, yakni KH M Manshur (Mbah Manshur) dan KH M Hadi Girikusumo (Mbah Hadi).


Baik Mbah Manshur dan Mbah Hadi, keduanya dikenal sebagai tokoh mursyid Naqsyabandiyah Khalidiyah. Mbah Hadi merupakan orang pertama yang membawa tarekat Naqsabandiyah Khalidiyah ke Jawa, lalu menyebarkannya. Beliau mengambil baiat tarekat kepada Syekh Sulaiman Zuhdi, Makkah. (Mbah Kiai Muhammad Hadi Girikusumo Penyebar Tarekat Naqsabandiyah Khalidiyah, NU Online, 2025)


Mbah Kiai Hadi mengangkat dua putranya, yakni Kiai Manshur dan Kiai Zahid sebagai mursyid tarekat. Dari Kiai Zahid, tarekat berkembang di Pantai Utara Jawa, diteruskan oleh Kiai Zuhri, hingga sekarang kepada Kiai Munif. Kiai Zahid juga meneruskan estafet kepemimpinan Pesantren Girikusumo, setelah Mbah Kiai Muhammad Hadi wafat di tahun 1931. Sementara Kiai Manshur menyebarkan tarekat melalui para badal, antara lain Kiai Arwani (Kudus) dan Kiai Salman Popongan yang merupakan cucunya. Ketika Mbah Manshur wafat, Kiai Salman yang kala itu baru berusia sekitar 20 tahun, menggantikannya dalam meneruskan kepemimpinan pondok pesantren di Popongan Tegalgondo, Wonosari, Klaten yang didirikannya sebagai pengasuh dan kepemimpinan tarekatnya sebagai mursyid Popongan. (Van Bruinessen, ibid)


Masa kecil

KH M Salman Dahlawi lahir pada hari Ahad Kliwon tanggal 1 Maret 1936. Ia adalah anak lelaki tertua dari pasangan KH Muhammad Muqri bin KH Kafrawi dengan Nyai Hj Masfuah Binti Muhammad Manshur bin Muhammad Hadi.


Dalam artikel berjudul Biografi KH M Salman Dahlawi (Darmadji, 2015), berdasarkan penuturan dari salah satu santri Mbah Manshur yang juga sahabat Karib Kiai Salman, Kiai Muslimin, diterangkan pada saat masa kecil, Kiai Salman tinggal di kompleks Pesantren Popongan (yang kemudian disebut sebagai Pesantren Al-Manshur). Pesantren itu diasuh oleh sang kakek, Mbah Manshur. Di sanalah, ia mendapatkan dasar pelajaran ilmu agama dan juga nilai-nilai dalam kehidupan.


Kiai Salman juga menempuh pendidikan di Sekolah Rakyat (SR) Tegalgondo. Tamat dari SR, ia melanjutkan belajar agama di Pondok Pesantren Al-Muayyad Mangkuyudan Surakarta yang diasuh oleh KH Ahmad Umar Abdul Mannan (Mbah Umar). Setelah itu, ia nyantri di Pondok Pesantren pimpinan KH Khozin di Bendo, Pare, Kediri, Jawa Timur selama kurang lebih empat tahun (1956-1960). Ia juga pernah belajar di Madrasah Mamba’ul Ulum dan Sunniyah Keprabon Surakarta, dan beberapa kali nyantri pasan (nyantri khusus bulan Ramadhan) kepada KH Ahmad Dalhar Watucongol Magelang Jawa Tengah.


Salman muda dikenal sebagai sosok yang cinta ilmu. Selain berguru kepada banyak ulama di Jawa, Kiai Salman ketika menunaikan ibadah haji ke Makkah, juga berguru kepada sejumlah ulama, di antaranya Sayyid Muhammad Al-Maliki Al-Hasani.


Kecintaannya akan ilmu ini, mewarisi karakter dari para pendahulunya. Ayah Kiai Salman, Mbah Kiai Muqri (wafat 1978) dikenal sebagai seorang tokoh ulama yang alim dan produktif dalam menulis kitab. Saat nyantri di Pesantren Termas, Mbah Muqri merupakan santri yang rajin menyalin teks-teks dari para ulama dan karya para gurunya, di antaranya kitab Lawāmi‘ul Burhān wa Qawāṭi‘ul Bayān karya Kiai Muhammad Dimyathi At-Tarmasi. 


Di antara karyanya yakni cerita Isra’ Mi’raj yang ditulis dalam bahasa Jawa. Selain itu, beliau menulis kitab berjudul Dala’il berisi tentang kata mutiara yang bersumber dari Quran Hadis dan Qoul Ulama beserta syarahnya.


Adapun beberapa karya tulis beliau adalah kitab-kitab salinan di antaranya al Fawaid al Mizhiroh bi Syarh al Durrob al Muntadiroh, Nahwu, Anwar Al Tanzil, al Qurrob al Aini Syarh Fath al Mu’in, Gramatika, faroid (Harta warisan).


Ikut mengembangkan pesantren

Bila diurutkan, Kiai Salman termasuk dalam generasi ketiga di Pesantren Popongan. Generasi pertama, yakni sang pendiri, Mbah Kiai Manshur. Kemudian generasi kedua, yakni putra-putri serta menantu Mbah Kiai Manshur. Kemudian generasi ketiga, yakni cucu dari Mbah Kiai Manshur, di antaranya Kiai Salman.


Sepeninggal Mbah Kiai Manshur, kombinasi antara generasi kedua dan ketiga dalam keluarga besar Bani Manshur ini, saling bahu membahu dalam upaya pengembangan pondok pesantren yang telah dirintis Mbah Manshur sejak tahun 1926.


Sejak tahun 1963, didirikan beberapa lembaga pendidikan formal di Pesantren Popongan, yakni Madrasah Diniyyah Al-Manshur (1964), Madrasah Tsanawiyah Al-Manshur (1963), Madrasah Aliyah Al-Manshur (1966), dan pada tahun 1980, didirikan Taman Kanak-Kanak Al-Manshur.


Selain menjadi pengasuh di pondok pesantren, KH Muhammad Salman Dahlawi juga aktif dalam pengembangan Tarekat Naqsyabandiyah Khalidiyah. Pada saat itu, kegiatan dibagi sebagai berikut:

 
  1. Untuk kegiatan suluk dan tawajuhan khusus diadakan 3 kali dalam setahun yaitu bulan Muharram, Rajab dan Ramadhan.
  2. Untuk kegiaan tawajuhan umum diadakan duakali dalam seminggu, yaitu setiap hari Selasa sebelum dhuhur (antara jam 11.00-12.00 WIB) dan setelah shalat Jumat
  3. Untuk kegiatan bai’at bisa dilakukan setiap saat, kecuali bulan-bulan suluk.


Adapun sanad tarekat KH M Salman Dahlawi adalah dari KH Muhammad Manshur (kakeknya), dari Syekh Muhammad Hadi Girikusumo (kakek buyutnya), dari Syaikh Sulaiman Zuhdi, dari Syaikh Ismail Al Barusi, dari Syaikh Sulaiman Al Quraini, dari Syaikh Ad Dahlawi, dari Syaikh Habibullah, dari Syaikh Nur Muhammad Al Badwani, dari Syaikh Syaifudin, dari Syaikh Muhammad Ma’sum, dari Syaikh Ahmad Al Faruqi, dari Syaikh Ahmad Al Baqi’ Billah, dari Syaikh Muhammad Al Khawaliji, dari Syaikh Darwisy Muhammad, dari Syaikh Muhammad Az Zuhdi, dari Syaikh Ya’kub Al Jarkhi, dari Syaikh Muhammad Bin Alaudin Al Athour, dari Syaikh Muhammad Bahaudin An Naqsabandy, dari Syaikh Amir Khulal, dari Syaikh Muhammad Baba As-Syamsi, dari Syaikh Ali Ar Rumaitini, dari Syaikh Mahmud Al Injiri Faqhnawi, dari Syaikh Arif Riwikari, dari Syaikh Abdul kholiq al Ghajwani, dari Syaikh Yusuf Al Hamadani, dari Syaikh Abi Ali Fadhal, dari Syaikh Abu Hasan Al Kharwani, dari Syaikh Abu Yazid Thaifur Al Busthoni, dari Syaikh Ja’far Shodiq, dari Syaikh Qosim Muhammad, dari Syaikh Sayyid Salman al Farisi, dari Sahabat Abu Bakar Ash-Shidiq, dari Nabi Muhammad saw.


Peran sosial

Semasa hidupnya, Mbah Salman juga aktif di berbagai organisasi. Ia tercatat pernah menjadi anggota Majelis Ifta’ (Majelis Fatwa) di Jam’iyyah Ahlit Thariqah Al-Mu’tabarah An-Nahdliyah (JATMAN). Kemudian Rais Syuriyah dan Mustasyar di Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Klaten dan Mustasyar di Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Jawa Tengah.


Selain di organisasi-organisasi tersebut, Mbah Salman memiliki banyak peran di masyarakat. Melalui dakwah, ia ikut menyebarkan ajaran agama Islam di Klaten dan sekitarnya. Ia juga berupaya dalam mengembangkan pertanian di Dusun Popongan bersama dengan para petani di dusun tersebut. Di mata para petani di Popongan, Mbah Salman dikenal sebagai petani yang tekun.


Dalam buku Manaqib Putra KH Muhammad Manshur (Anas Farkhani dkk, 2025) disebutkan Kiai Salman menikah dua kali. Pertama, menikah pada tahun 1961 dengan Nyai Hj Mu'ainatun Sholihah. Kemudian, setahun setelah Nyai Mu'ainatun meninggal dunia, pada tahun 2001, Kyai Salman menikah dengan Nyai Hj Siti Aliyah, asal Purwodadi.


Dari pernikahan dengan Nyai Mu'ainatun ini, Kiai Salman dikaruniai tiga putra dan lima putri, yakni Musta’anah, Umi Mu’tamiroh, Munifatul Barroh, Murtafi’ah Mubarokah, Mifathul Hasan, Muhammad Maftuhun Ni’am, Muhammad Multazam Al Makky dan Maliyya Silmi.


Beberapa wasiatnya yang sempat diingat oleh putra-putri dan santri-santrinya, sebagaimana tercatat dalam tulisan berjudul Biografi KH M Salman Dahlawi (Darmadji, 2015), antara lain adalah:


1) Padha manuta ing pitutur; 2) Iman, taqwa lan syukur marang Allah swt; 3) Ngemen-ngemenke ngluru ilmu nafi’; 4) Sregep jamaah;  5) Entheng ngamal ibadah; 6) Nrima ing peparinge kang kuasa; 7) Aja ngentengake utang; 8) Ngalah ing bab dunya; 9) Sabar, usaha, pasrah, tawakal marang Allah swt; 10) Birrul walidain lan njaga rukune paseduluran; dan 11) Kabeh perkara tumuju marang ridhane Allah swt. Lahu al-fatihah


Ajie Najmuddin, Pemerhati Sejarah Pesantren dan NU

Gabung di WhatsApp Channel NU Online untuk info dan inspirasi terbaru!
Gabung Sekarang