Bank Syariah di Indonesia Masih dalam Tataran Kontak
NU Online · Kamis, 14 Mei 2009 | 22:43 WIB
Perbankan syariah yang ada di Indonesia saat ini belum islami dan baru berada pada tataran kontrak (akad) saja. Sehingga sebutan yang lebih layak adalah Islamic Banking (bank Islam), bukan Bank Syariah.
Demikian dinyatakan Anggota Komite Ahli Bank Indonesia, Muhammad Syafii Antonio, dalam acara Asia Pacific Conference (Apconex), di Jakarta Convention Center (JCC), Kawasan Senayan Jakarta, Kamis (14/5).<>
Menurut Syafi’i, perbankan syariah yang ada saat ini belum bersifat syar’i, melainkan baru mengarah ke nilai-nilai Islam seperti seragam jilbab untuk karyawan dan penggunaan istilah-istilah Islam, namun tidak pada budaya perusahaan.
“Ciri yang menentukan sebuah bank itu syariah atau bukan, adalah komitmennya pada usaha kecil dan mikro. Dari keberpihakan pada usaha kecil akan terlihat apakah sebuah bank itu syariah, hanya mengejar profit atau memiliki agenda yang lebih besar,” kata anggota dewan syariah Bank Sentral Malaysia ini.
Lebih lanjut Syafi’i juga seorang pakar perbankan syariah Indonesia ini, mengingatkan, banyak pihak menjadi eksis dan memperoleh keuntungan karena membela kepentingan orang-orang kecil.
"Sebagian orang berpendapat membiayai usaha kecil terlau mahal. Padahal, Grameen Bank (di Bangladesh) telah membuktikan bahwa yang kecil itu menguntungkan," terang Syafi’i.
Karenanya, Syafi’i tetap optimis bahwa di saat sistem ekonomi kapitalis, dan sosialis mati, yang akan bertahan hanyalah ekonomi Islam. "Apakah kita akan berpangku tangan saja atau kita mencapai upaya yang lebih konkret dan menjadi solusi bagi dunia?" katanya dengan nada bertanya.
Belakangan ini, perbankan syariah berkembang luar biasa di mana jumlah dana yang dikelolanya mencapai 700 miliar dolar US atau tumbuh rata-rata 15 persen, sedangkan jumlahnya di seluruh dunia ada 396 unit yang tersebar di 53 negara. (ant)
Terpopuler
1
Khutbah Idul Fitri 2026: Makna Kemenangan dan Kembali Ke Fitrah
2
Khutbah Idul Fitri Bahasa Arab 2026: Jadilah Hamba Sejati, Bukan Hamba Musiman: Konsistensi dalam Ketaatan Setelah Ramadhan
3
Khutbah Idul Fitri Bahasa Jawa: Idul Fitri Dinten Ganjaran lan Kabingahan
4
Khutbah Bahasa Jawa: Kautaman Silaturahim lan Cara Nepung Paseduluran
5
Khutbah Idul Fitri: Saatnya Menghisab Diri dan Melanjutkan Kebaikan
6
Khutbah Idul Fitri 2026: Refleksi Makna Kembali ke Fitrah secara Utuh
Terkini
Lihat Semua