Hasyim: Sistem Perundang-Undangan Kita Malah Bikin Ruwet
NU Online Ā· Jumat, 4 Agustus 2006 | 11:38 WIB
Jakarta, NU Online
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH. Hasyim Muzadi menilai sistem perundang-undangan yang ada di Indonesia saat ini malah membuat runyam kondisi bangsa. Terlalu banyaknhya lembaga menyebabkan tidak ada yang paling merasa bertanggungjawab.
āBanyak lembaga ini dan anu, komisi ini dan itu, sehingga tidak jelas. Kalau itu yang terjadi semacam itu, sistem kita malah mengunci, sehingga kalau ada apa-apa tidak jelas siapa yang bertanggung jawab. Nah, negara yang sedang berkembang tidak cocok dengan stelsel semacam itu,ā kata Hasyim kepada NU Online di Jakarta, Jumāat (4/8).
Dikatakan Hasyim, Indonesia membutuhkan aturan perundang-undangan yang sederhana dan mudah, namun dilengkapi dengan leadership yang jujur. Tanpa kejujuran produk-produk perundang-undangan yang dibuatk hanya lahirkan justifikasi kekuasaan, dimana kekuasaan dibagi sekian banyak.
āSekarang ini sesuatu sudah diputuskan oleh DPR masih bisa direview oleh Mahkamah Konstitusi (MK), lalu ada Komisi Yudisial (KY) segala. Nah sementara ada Komisi Pemberantasa Korupsi (KPK), posisi ini kalau dilihat dari struktur koordinatif dengan Polri dengan Jaksa bagaimana? Sekarang ada KPK yang menangkap orang tetapi tidak memutusi orang itu, karena yang memutisi adalah pengadilan,ā kata Hasyim.
Padahal dalam struktur pengadilan yang belum bersih tidak akan ada kasus yang disodorkan KPK yang akan sampai ke pengadilan. Sementara itu KPK sendiri sudah terpisah dengan eksekutif. Menurut Hasyim, pemisahan itu membuat kasus korupsi yang tidak bisa dikoordinasikan satu sama lain.
āNah pertanyaan selanjutnya apakah dengan sistim-sistem yang seperti itu menjamin, pertama, persatuan bangsa, kedua, kwalitas bangsa, dan ketiga produktifitas bangsa? Apakah kita akan mubazir terus dalam keterombang-ambingan seperti ini,ā seru Hasyim.
Hasyim melanjutkan adanya kekuasaan horisontal ditambah dengan adanya otonomi, apalagi otonomi khusus, menyebabkan kepemimpinan yang tidak percaya diri. āTidak semua bupati bisa dipanggil gubernur, tidak semua gubernur nurut sama presidennya,ā kata Hasyim.
Ditambahkannya, secara de yure Indonesia menganut sistem presidentil, namun secara de facto adalah parlementer, karena kekuatan politik telah mengkapling kabinet itu.
āMaka sebetulnya menteri itu ikut siapa, apakah ikut presidennya apa ikut ketua partainya, dan dia bergerak untuk apa, untuk bangsanya apa untuk donator partainya,ā kata Hasyim.
Dikatakannya, saat ini, sesunggungnya kabinet malah menjadi beban dan bukan solusi bagi pembangunan bangsa. Presiden tidak akan berani memasalahkan menterinya yang bertindak sembrono karena takut kepada partainya di DPR sana karena di DPR mempunyai punya hak budget.
āNah ini apakah tidak perlu review? Ini semua memang produk dari amandemen,ā kata Hasyim. (nam)
Terpopuler
1
Diskusi Kabla Muktamar Ke-35 di Unusia: Pengendali NU Kian Anonim, Perlu Menjaga Jarak dari Intervensi Negara
2
Akui Dapat Banyak Kritik, Presiden Prabowo Heran MBG Disebut Pemborosan
3
Pendukung Spanyol Kibarkan Bendera Palestina Sepanjang Turnamen Piala Dunia 2026
4
Gempa 7,3 Magnitudo Guncang Meksiko, Tidak Ada Korban Maupun Kerusakan Langsung
5
Fachry Ali Ulas Muktamar Cipasung 1994 Jadi Perlawanan NU terhadap Intervensi Pemerintah
6
Andy Burnham Resmi Dilantik Jadi Perdana Menteri Inggris, Gantikan Keir Starmer
Terkini
Lihat Semua