Kampanye negatif terhadap pesantren telah meluas. Bentuknya macam-macam dari mulai ceramah dalam ruang terbatas hingga buku-buku berkedok ilmiah yang disebarkan secara masal.
Hal tersebut diungkapkan oleh Wakil Sekjen PBNU, Abdul Mu’im DZ, dalam Pelatihan Asistensi Kiai NU di Gedung dakwan PWNU Jawa Barat, beberapa hari lalu.<>
“Kita harus menuliskan kabar-kabar baik tentang pesantren dan NU. Sudah terlalu banyak orang yang kampanye negatif pada pesantren dan NU, bahkan dilakukan oleh orang pesantren sendiri," jelas Mun'im yang juga mantan peneliti LP3ES ini.
"Santri-santri sekarang diharapkan akan mampu menjaga semangat kepesantrenan dan ke-NU-an kita. Kalau selalu mengedepankan hal-hal negatif, maka hal itu hanya akan menambah beban,” ujarnya.
Sementara itu, Marzuki Rais, salah satu fasilitator acara tersebut, mengajak peserta untuk memulai praktik mendokumentasikan segala hal mengenai pesantren masing-masing.
"Kita mulai dari menulis profil singkat pesantren dan biografi ringkas pengasuh. Lalu akan meningkat pada pengumpulan pandangan para kiai terhadap berbagai persoalan yang aktual," kata Marzuki.
“Cara ini diharapkan dapat menjadi jawaban dari kegelisahan kita pada menguatnya gerakan yang menentang kiai, termasuk kelompok-kelompok Wahabi,” ungkap asisten almarhum KH Syarif Utsman Yahya itu.
“Sekalipun kelompok mereka sudah jauh melangkah di bidang penulisan dan penerbitan, langkah awal yang digagas PW RMI Jabar ini penting. Kita tidak hanya curhat, tapi harus mulai," sambungnya. (yy)
Terpopuler
1
Khutbah Jumat: Menyambut Dzulhijjah dengan Semangat Beribadah
2
LF PBNU Rilis Data Hilal Awal Dzulhijjah 1447 H, Idul Adha Berpotensi 27 Mei 2026
3
Rentetan Pembubaran Nobar Film 'Pesta Babi' Picu Kritik dan Perdebatan Publik
4
MK Sebut Jakarta Masih Berstatus Ibu Kota Negara, Lalu IKN?
5
Khutbah Jumat: Sejarah dan Keutamaan Hari Jumat sebagai Sayyidul Ayyam
6
Jamaah Haji Aceh Terima Uang Baitul Asyi Rp9,2 Juta, Wujud Warisan Ulama yang Terus Hidup
Terkini
Lihat Semua