Kang Said: Aliran Sesat Rekayasa Intelijen Asing
NU Online · Selasa, 30 Oktober 2007 | 07:18 WIB
Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj menengarai, munculnya sejumlah ‘aliran sesat’ yang marak belakangan ini bukan murni persoalan agama atau perbedaan penafsiran terhadap agama. Melainkan merupakan ulah dan rekayasa intelijen asing, khususnya intelijen negara-negara Barat.
“Saya curiga, kayaknya memang ada big design (rekayasa besar, Red) dari negara-negara Barat untuk mengacaukan Indonesia,” kata Kang Said—begitu panggilan akrabnya—kepada NU Online usai berbicara pada Halal bi Balal yang digelar Keluarga Besar Lembaga Dakwah Islam Indonesia di Pondok Pusat LDII, Burengan, Kediri, Jawa Timur, akhir pekan lalu.<>
Hal yang menjadi dasar Kang Said atas rekayasa intelijen asing itu, karena beberapa aliran sesat tersebut selalu mempersoalkan masalah-masalah, seperti, salat wajib, zakat dan haji, bukan lagi masuk wilayah perbedaan sebagai rahmat. “Sudah masuk wilayah al-‘adawah (permusuhan)’,” tandasnya.
“Dan, kalau sudah mengutak-atik jumlah bilangan salat, lalu mengatakan Muhammad bukan nabi terakhir, maka itu sudah fitnah namanya,” tambah alumnus Universitas Ummul Qurra’, Makkah, itu.
Ia menjelaskan, fenomena serupa tapi tak sama pernah terjadi pada masa pendirian partai-partai Islam periode awal. “Partai Khawarij dan Partai Murji’ah, misalnya, beda menafsirkan ayat Al-Quran, tapi Al-Qurannya tetap sama. Begitu pula tauhid-nya, sama,” terangnya.
Dalam pandangan Kang Said, segala macam bentuk pemikiran dan sikap partai (kelompok aliran) Islam masa lalu adalah murni porduk internal kaum muslimin. Karenanya, ia mengharapkan agar umat Islam Indonesia tidak mudah terpancing dengan isu tersebut.
Banyaknya model dakwah dan terkesan nyeleneh yang masuk ke Indonesia seperti sekarang, ujarnya, hendaknya semua pihak meneladani kembali peran ulama yang sudah jelas berjasa membawa Islam ke negeri ini, yaitu Walisongo. Tanpa menafikan kekurangan dan tanpa melupakan jasanya.
Ia meyakinkan, peran yang harus diemban umat Islam adalah sebagai pembangun peradaban manusia. Tidak peduli mereka berasal dari ormas dan partai mana pun, visi yang diemban haruslah sama. Maka, Islam tidak mengenal istilah radikalisme dan terorisme, sebab misi yang dibawa adalah pembangun peradaban.
“Kalau sudah menyimpang dari misi itu, dia akan gagal berperan, tak akan berhasil menyampaikan misi,” tandasnya. (sbh)
Terpopuler
1
Ancam Ekosistem Pertembakauan, Lesbumi PBNU Tolak Rancangan Aturan Kemenko PMK dan Kemenkes soal Tembakau
2
Kapten Timnas Iran Kritik FIFA, Sebut Piala Dunia 2026 'Bencana' dan Berjalan Tidak Adil
3
Pemerintah Tetapkan Logo Resmi HUT ke-81 RI, Ini Makna Desain dan Cara Unduhnya
4
DPR Desak Latsarmil Calon Manajer Kopdes Dihapus, Negara Bisa Hemat Lebih dari Rp1 Triliun
5
Hari Bhayangkara Ke-80, Presiden Prabowo Klaim Polri Berkontribusi pada Ketahanan Pangan dan MBG
6
Rais Syuriah PBNU Ingatkan Pengurus PWNU Aceh: Jangan setelah Dilantik Malah Jadi Urusan
Terkini
Lihat Semua