PBNU: Aliran Sesat Muncul karena Tokoh Islam Jauhi Umat
NU Online · Ahad, 28 Oktober 2007 | 01:11 WIB
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Hasyim Muzadi menilai, munculnya sejumlah aliran sesat yang marak belakangan ini, salah satunya akibat krisis kepemimpinan. Karena, menurutnya, para pemimpin dan tokoh Islam saat ini telah menjauhi umatnya.
Hasyim yang juga Presiden World Conference on Religions for Peace mengatakan hal tersebut usai memberikan ceramah dalam Haul Sunan Perapen, di Desa Kelangonan, Kecamatan Kebomas, Gresik, Jawa Timur, Sabtu (27/10) kemarin.<>
Namun demikian, Hasyim menolak bila faktor tersebut dijadikan satu-satunya faktor atas munculnya banyak aliran sesat semacam Islam Tauhid, Ahmadiyah maupun yang terbaru, aliran Al-Qiyadah Al-Islamiyah—yang mengakui adanya nabi lagi setelah Nabi Muhammad SAW.
Ia menjelaskan, faktor lain yang menjadi sebab aliran sesat banyak muncul di negeri ini adalah demokrasi di era reformasi saat ini yang telah berubah menjadi ‘democrazy’. Paham demokrasi dengan prinsip kebebasan yang kebabalasan itu mengakibatkan semua hal diperbolehkan.
Selain itu, tambahnya, adalah faktor lemahnya intelejen Indonesia saat ini. Hal itu ditambah lagi dengan longgarnya aturan perundangan yang berfungsi menyaring aliran-aliran.
"Padahal, dulu, kan ada pakem. Sekarang ini longgar, hingga mereka leluasa untuk beraktivitas menyebarkan aliran-aliran yang meresahkan tersebut. Dulu, ektrimis-ektrimis pada lari dari Indonesia ke Malaysia. Karena di sana (Malaysia, red) lebih longgar. Tetapi, sekarang sebaliknya, dari Malaysia ke Indonesia semua," beber mantan Ketua Pengurus Wilaah NU Jatim itu.
Terkait aliran Al-Qiyadah Al-Islamiyah, pemerintah hingga saat ini belum juga mengambil sikap untuk menangkap pentolan aliran yang mengajarkan pemahaman Ruhul Qudus tersebut. Terbukti, beberapa pekan lalu ada baiat yang dilakukan Ahmad Moshaddeq yang mengaku Al Masih Al Maw'ud nabi sesudah nabi Muhammad di salah satu hotel di Jakarta.
Padahal, penyebaran yang dilakukan pengikutnya di daerah sangat meresahkan masyarakat. Sebut saja, kejadian penyerbuan warga Kelurahan Karangpoh, Kecamatan Gresik ke rumah Rahmat Hidayat, 35, dan Muhammad Wahyudi, 47, dilanjutkan penggeledahan rumah Suudi, 41, warga Jln Denpasar 26 Perum GKB oleh polisi. Di Padang, Sumatera Barat dan Bogor, Jawa Barat, juga terjadi hal yang sama. (okz/sbh)
Terpopuler
1
Ancam Ekosistem Pertembakauan, Lesbumi PBNU Tolak Rancangan Aturan Kemenko PMK dan Kemenkes soal Tembakau
2
Kapten Timnas Iran Kritik FIFA, Sebut Piala Dunia 2026 'Bencana' dan Berjalan Tidak Adil
3
Pemerintah Tetapkan Logo Resmi HUT ke-81 RI, Ini Makna Desain dan Cara Unduhnya
4
DPR Desak Latsarmil Calon Manajer Kopdes Dihapus, Negara Bisa Hemat Lebih dari Rp1 Triliun
5
Hari Bhayangkara Ke-80, Presiden Prabowo Klaim Polri Berkontribusi pada Ketahanan Pangan dan MBG
6
Rais Syuriah PBNU Ingatkan Pengurus PWNU Aceh: Jangan setelah Dilantik Malah Jadi Urusan
Terkini
Lihat Semua