KH. Muchit Muzadi: Kaderisasi Perlu Dibicarakan Serius
NU Online · Selasa, 18 Juli 2006 | 13:54 WIB
Jember, NU Online
Dibanding organisasi Islam radikal, kaderisasi di lingkungan Nahdlatul Ulam (NU) sangat memperihatinkan. Beberapa kader NU yang duduk di bangku SMU atau Aliyah sering aktif dalam berbagai kegiatan di lingkungan NU, akan tetapi sebenarnya mereka tidak begitu mengenal NU.
“Saat ini pelajaran ke-NU-an masih sangat sedikit, bahkan di pesantren, walaupun hampir seluruhnya NU dan dari sana kader NU dipersiapkan, tetapi nyaris tidak diajarkan ke-NU-an secara formal. Padahal, materi pengajiannya semuanya merupakan kitab standar NU,” kata salah seorang sesepuh NU KH. Muchit Muzadi, kepada NU Online di Jember, Jawa Timur, Selasa (18/7).
Memperkenalkan NU kepada para remaja memang tidak mudah, baik karena terbatasnya buku ke-NU-an, juga belum ada strategi yang jelas usaha untuk memperkenalkan kepada salah satu segmen warga NU tersebut.
Dikatakan Kiai Muchit, hingga saat ini kalangan struktur NU, baik di lingkungan Pengurus Besar (PB) hingga ke cabang sampai ranting belum peduli terhadap persoalan tersebut.
“NU harus segera mengatasi soal tersebut, walaupun di tengah kehidupan modern yang serba pragmatis. Pengenalan ideologi dan akidah Ahlussunnah bukannya tidak bisa dilaksanakan, tetapi memang perlu kerja keras. Terbukti kelompok Islam yang lebih radikal saja bisa, apalagi NU yang lebih moderat, tentu peluangnya lebih besar,” seru Kiai Muchit.
Menurut kakak kandung Ketua Umum PBNU KH. Hasyim Muzadi itu, tanggung jawab pengenalan NU itu harus digarap serius terutama oleh lembaga yang menangani pendidikan seperti Lembaga Maarif NU, serta RMI yang membawahi pesantren.
Penegenalan NU buat kalangan aliyah, SMA dan pesantren sangat penting agar kelak mereka tidak larut terbawa arus organisasi Islam non-NU yang pada umumya berwatak radikal.
"Ini yang banyak terjadi sekarang ini, alumni pesantren NU, tetapi dia menjadi aktivis kelompok Islam radikal, atau sebaliknya menjadi sangat liberal. Kalau perlu kaderisasi ini menjadi pembahasan utama di dalam Munas Surabaya (27-30 Juli) nanti,” kata Kiai Muchit. (nam)
Terpopuler
1
Pemerintah Tetapkan Idul Adha 1447 H Jatuh 27 Mei 2026
2
Tim Hisab Rukyat: Hilal Awal Dzulhijjah 1447 H Penuhi Kriteria MABIMS, Idul Adha Diperkirakan 27 Mei 2026
3
Hilal Terlihat, PBNU: Idul Adha 1447 H Rabu, 27 Mei 2026
4
Menhan Sebut Seluruh Kabupaten di Jawa Akan Dikawal Batalyon Teritorial pada 2026
5
Tiga Jurnalis Indonesia Bersama Aktivis Ditangkap Israel, Dewan Pers Minta Pemerintah Bertindak
6
Ambruknya Rupiah Dinilai Tekan Rakyat Kecil, DPR Soroti Harga Kebutuhan Pokok
Terkini
Lihat Semua