Krisis Pangan akibat Kebijakan Berorientasi Ekspor
NU Online · Sabtu, 16 Februari 2008 | 01:57 WIB
Krisis pangan di dunia yang terjadi pada tahun ini merupakan akibat kebijakan pangan yang lebih berorientasi pada pasar ekspor. Demikian juga yang terjadi di Indonesia. Pemerintah lebih mengutamakan produksi pangan justru untuk tujuan ekspor, bukan pada upaya pemenuhan kebutuhan pangan rakyat di dalam negeri.
Hal tersebut dikatakan Ketua Umum Serikat Petani Indonesia (SPI), Henry Saragih, dalam siaran pers yang diterima NU Online di Jakarta, Jumat (15/2) kemarin.<>
Henry menjelaskan, kelebihan produksi pangan di sejumlah negara maju yang kemudian diekspor ke negara-negara berkembang, âsuksesâ menghancurkan pertanian di Indonesia. Di saat yang sama, pemerintah malah menggenjot produksi hasil perkebunan berorientasi ekspor. âProduksi tanaman pangan di dalam negeri menjadi terbengkalai,â pungkasnya.
Jalan keluar krisis harga pangan itu, katanya, kedaulatan pangan harus ditegakkan. Hal tersebut berarti harus diberikan hak kepada setiap negara untuk mengatur dan menjaga tata pertanian di masing-masing negara.
Ia menambahkan, negara harus melindungi petani dari âgempuranâ pasar bebas. Produksi pertanian harus ditujukkan kepada pemenuhan kebutuhan rakyat bukan pada kebutuhan pasar ekspor yang hanya menguntungkan perusahaan-perusahaan multinasional.
âKedualatan pangan harus memprioritaskan pemenuhan pasar lokal dan nasional serta memberdayakan petani kecil di pedesaan,â terangnya.
Selain itu, ungkapnya, pembaruan agraria juga harus dijalankan. Para petani membutuhkan lahan untuk meningkatkan produktivitasnya. Kepemilikan lahan petani yang hanya berkisar 0,3 hektar, jauh dari mencukupi untuk melakukan produksi yang efektif.
âPemerintah, saat ini, sibuk mengkapling-kapling tanah untuk perusahaan-perusahaan perkebunan. Kebanyakan lahan-lahan perkebunan sudah dikelola oleh perushaan-perusahaan besar, bukan keluarga petani. Padahal perusahaan perkebunan itu semuanya berorientasi ekspor,â papar Henry. (rif)
Terpopuler
1
Muktamar ke-35 NU Digelar 1-5 Agustus 2026, Penentuan Tuan Rumah Gunakan Empat Kriteria
2
KH Nurul Huda Djazuli: Saya Cinta NU, Saya Tak Ingin Melihat Pengurus Bertengkar, NU dan Pesantren Harus Menguatkan
3
Seruan 13 Kiai Sepuh tentang AHWA Jelang Pembukaan Munas dan Konbes NU 2026
4
Rais Aam PBNU Kembali Gunakan Bahasa Arab dalam Khutbah Iftitah Munas-Konbes NU 2026
5
Ketum PBNU: Barokah Kiai Sepuh, Munas dan Konbes NU di Ploso Berjalan Sukses
6
Sidang Pleno II Munas-Konbes, Ketum PBNU Sebut Pelatihan Kader NU Jadi Fondasi Meritokrasi
Terkini
Lihat Semua