Pemerintah Kota dan Pemerintah Kabupaten (Pemkot dan Pemkab) Madiun berharap bisa melepaskan diri dari stigma daerah basis Partai Komunis Indonesia (PKI) yang selama ini melekat. Stigma tersebut ingin diubah dengan berusaha menonjolkan sisi lain yang lebih positif jika dibandingkan dengan sebutan daerah basis PKI.
"Kami ingin mengubah citra yang terlanjur melekat bahwa Madiun dikenal sebagai basis PKI. Padahal stigma ini merugikan masyarakat setempat," ujar Kepala Bagian Humas Kota Madiun AB Sudirman, Rabu (30/9).<>
Menurut Sudirman, hingga saat ini, warga Madiun, terlebih para keluarga korban yang masih ada, belum mampu melepaskan trauma psikologis akibat kekejaman PKI. Karenanya, pihaknya akan memaksimalkan pembangunan dan memunculkan citra lain.
"Kota Madiun akan menggenjot potensi yang ada misalnya di bidang industri, pendidikan, maupun lainnya. Untuk mengubah stigma ini kami akan memaksimalkan potensi yang ada seperti di bidang industri dan perdagangan yang akan didukung dengan pembangunan pasar tradisional dan modern yang lebih baik," kata Sudirman.
Di bidang pendidikan, Madiun akan didukung dengan pembangunan perguruan tinggi, maupun bidang lain yang positif.
Sementara itu, Kepala Bagian Humas Kabupaten Madiun, Mardi'i, juga menyatakan hal senada. Untuk lepas dari stigma tersebut, pihak Pemkab Madiun juga akan mengoptimalkan potensi yang ada. Pemkab Madiun berusaha untuk mengedepankan sisi budaya, pariwisata, dan bidang lainnya.
"Pengembangan di bidang pariwisata, budaya, dan ciri khas lain daerah Kabupaten Madiun diharapkan dapat menghapus stigma basis tersebut. Meski demikian, tidak memungkiri bahwa sejarah tentang PKI memang terjadi di daerah ini," kata Mardi'i.
Menurut Mardi'i, stigma itu berawal dari pemberontakan PKI yang dipimpin Amir Muso di wilayah eks-Karesidenan Madiun pada tahun 1948. Akibat kejadian tersebut, Madiun hingga saat ini masih terkenal sebagai sebutan daerah basis PKI.
Selain memberikan julukan atau predikat negatif bagi daerah Madiun, peristiwa Pemberontakan PKI di Madiun tahun 1948 juga menyisakan luka dan trauma mendalam bagi para keluarga korban yang ditinggalkan. (min)
Terpopuler
1
Diduga Tertipu Program MBG, 13 Pengasuh Pesantren Minta Pendampingan ke LBH Ansor
2
Khutbah Jumat: Allah Tidak Membebani Hamba di Luar Batas Kemampuannya
3
Respons Wacana Penutupan Prodi yang Dinilai Tak Relevan, LPTNU Tekankan Kebijakan Komprehensif
4
KPAI Desak Proses Hukum Tegas Kekerasan Seksual terhadap 17 Santri di Ciawi Bogor
5
Perlintasan Liar Dikelola Ormas, Dirut KAI: Tidak Memenuhi Syarat, Kami Tutup
6
Hari Buruh 2026: Prabowo Wacanakan Penurunan Potongan Aplikator Ojol hingga di Bawah 10 Persen
Terkini
Lihat Semua