Maroko, negara Islam bermadzhab Maliki yang waktunya selisih tujuh jam lebih akhir dari Indonesia ini, baru memulai puasa pagi hari ini Kamis(12/8) berbeda dengan negara-negara tetangga dekatnya sekalipun.
Di negeri yang dipimpin oleh Raja Muhammad as-Sadis ini, kementrian wakaf, adalah satu-satunya lembaga yang dilegimitasi oleh pihak kerajaan untuk menentukan awal dan akhir Ramadhan, dan didampingi oleh al-Majlis al-Ilmi al-A'la (organisasi ulama besutan pihak keluarga kerajaan Maroko) itu.<>
Karena hilal tidak tampak, maka bulan sya'ban digenapkan menjadi 30 hari demikian dinyatkan oleh pihak kementrian wakaf Kerajaan Maroko sehari sebelumnya, melalui berbagai siaran televisi setempat.
Memang, di sini terdapat beberapa ormas Islam dan beberapa organisasi Ulama, seperti Rabithah al-Muhamadiyah lil-ulama dan lainnya, namun tidak diberi hak suara dalam kontkes ini. Tidak seperti di Indonesia yang melibatkan berbagai ormas Islam.
Di tempat terpisah, Syeikh Dr Muhammad Yisif (Pimpinan al-Majlis al-Ilmi al-A'la, organisasi ulama yang juga dilegimitasi sebagai badan mufti Kerajaan Maroko, mengatakan, penetapan awal dan akhir Ramdhan di Maroko menggunakan rukyat hilal.
"Hanya saja faktor geografis yang sering menjadi kendala dalam rukyatul hilal itu," tandas tokoh yang juga penasehat Raja Maroko dan pernah beberapa kali menghadiri acara keagamaan di Indonesia itu. (Nasrulloh Afandi)
Terpopuler
1
Khutbah Jumat: Meneladani Hidup Rasulullah di Masa Ekonomi Sulit
2
Khutbah Jumat: Sebelum Memilih dan Memutuskan, Bertanyalah kepada Allah melalui Istikharah
3
Bahlil Janji BBM Subsidi Tak Naik hingga Akhir 2026, Pertamax Malah Melonjak Jadi Rp16.250 per Liter
4
Gus Ipul: Pembukaan Munas-Konbes NU 2026 di Bangkalan Masih Sebatas Usulan
5
Menjaga Marwah Pemilihan Pengurus NU: Catatan dari Sowan kepada KH Afifuddin Muhajir
6
Khutbah Jumat: Tanda-tanda Haji Mabrur dalam Kehidupan Sosial dan Keagamaan
Terkini
Lihat Semua