Menteri Agama Suryadharma Ali, usai bersilaturahmi di Pondok Pesantren Tegalrejo Magelang, mengatakan, Ujian Nasional (UN) boleh dikritik tetapi jangan dihapus karena belum ada penggantinya. Menag menyatakan dirinya tidak bisa membayangkan jika UN dihapus, karena tidak ada alat ukur untuk mengetahui murid atau guru yang berhasil dalam belajar mengajar.
"Ujian merupakan sebuah alat ukur keberhasilan siswa belajar, sekaligus sebagai alat ukur keberhasilan guru dalam mengajar maka jangan dihapus karena belum ada penggantinya. Penggantinya harus jelas. Kalau kualitas lulusan turun harus ada perbaikan, jangan disalahkan UN-nya," katanya, Jum'at (14/5).<>
Secara nasional, katanya, hasil UN untuk madrasah ada penurunan sedikit dan tidak terlalu buruk. Untuk Jateng cukup bagus, ada yang lulus 100 persen, 90 persen meskipun ada yang nol persen.
Menurut dia, kegagalan UN untuk madrasah karena kualitas yang beragam. Madrasah swasta jauh lebih besar sekitar 90-92 persen dan madrasah negeri hanya delapan persen. Menag mengatakan, madrasah dikelola kiai atau tokoh masyarakat dengan kekuatan yang beragam.
"Kiai yang mendirikan madrasah bukan kiai yang banyak uang, tetapi hanya pengabdian agar masyarakat sekitar cerdas, belajar, dan tidak buta huruf," katanya.
Menag mengatakan, madrasah yang dikelola swasta sekitar 92 persen. Jadi, kalau tidak ada partisipasi masyarakat artinya kemampuan pemerintah memberikan layanan pendidikan hanya delapan persen. (min)
Terpopuler
1
Susunan Lengkap Kepengurusan PBNU Masa Khidmah 2026-2031
2
PBNU Umumkan Susunan Kepengurusan 2026–2031 Hari Ini
3
Suyudi Ario Seto Segera Dilantik Presiden Prabowo sebagai Kapolri Hari Ini
4
Khutbah Jumat: Pentingnya Ikhlas dan Meluruskan Niat dalam Beramal
5
Wajah Baru Kepengurusan PBNU 2026-2031: Masuk Dua Tokoh Disabilitas di Kepengurusan
6
Susunan Pengurus 2026-2031 Terbentuk, Ketua Umum PBNU: Mulai Besok Kita Berkhidmah
Terkini
Lihat Semua