Haul KH Luthfi Thomafi Lasem, Teladan Disiplin dan Tekun Menuntut Ilmu
NU Online · Rabu, 29 April 2026 | 14:45 WIB
Peringatan haul ke-4 almarhum KH Luthfi Thomafi, pengasuh Pondok Alhamidiyyah 2 Desa Ngemplak, Lasem, Rembang, Jawa Tengah. (Foto: dok istimewa)
Ayu Lestari
Kontributor
Rembang, NU Online
Pembacaan Yasin, tahlil, sambutan keluarga, serta mauidzah hasanah mengawali rangkaian kirim doa dalam peringatan haul ke-4 almarhum KH Luthfi Thomafi, pengasuh Pondok Alhamidiyyah 2 Desa Ngemplak, Lasem, Rembang, Jawa Tengah.
Kegiatan yang berlangsung pukul 13.30 hingga 16.45 WIB ini menghadirkan sejumlah tokoh dan keluarga. KH Arwani Thomafi atau yang akrab disapa Gus Aang menyampaikan, semasa hidup KH Luthfi Thomafi dikenal sebagai sosok yang disiplin dalam menempuh pendidikan.
Menurutnya, ketekunan dan kedisiplinan tersebut tercermin dari pilihan almarhum untuk berkhidmat di dunia pendidikan.
Ia menceritakan, semasa kecil KH Luthfi Thomafi yang akrab disapa Baba UI menjalani kehidupan seperti anak-anak pada umumnya, gemar bermain di sawah dan mencari ikan di sekitar rumah. Setelah menamatkan pendidikan diniyah di MI An-Nashriyyah, ia melanjutkan ke Tsanawiyah Lasem, kemudian menempuh pendidikan di MA Program Khusus unggulan di Solo.
Gus Aang mengungkapkan, lulusan MA Program Khusus di sejumlah daerah seperti Solo, Jember, dan Yogyakarta dikenal melahirkan alumni unggul, salah satunya KH Luthfi Thomafi.
Setelah menempuh pendidikan di Solo, KH Luthfi Thomafi melanjutkan studi ke Kairo, Mesir, bersama Gus Ghofur. Sepulang dari Mesir, ia tetap menunjukkan keseriusan dalam menimba ilmu. Bahkan, dalam proses menjadi pendidik, ia tetap mengikuti tes untuk mengukur kemampuan dan komitmennya, meskipun berada di lingkungan keluarga sendiri.
“Meski saudara sendiri, tetap harus mengikuti tes untuk mengukur kemampuan,” ujar Gus Aang, Sabtu lalu.
Tradisi disiplin dalam proses belajar mengajar itu kemudian berkembang di lingkungan Alhamidiyyah hingga mampu mendirikan berbagai lembaga pendidikan, mulai dari SD, SMP, hingga SMK. Gus Aang menilai capaian tersebut tidak lepas dari doa orang tua serta ketekunan almarhum.
Selain dikenal disiplin, KH Luthfi Thomafi juga dikenal sebagai sosok yang gemar bersilaturahmi. Ia kerap sowan kepada para kiai untuk meminta nasihat dalam mengelola lembaga pendidikan sekaligus menjaga hubungan kekeluargaan di wilayah Lasem, Sedan, dan sekitarnya.
Senada, Kiai Ghofur Maimoen, sahabat seperjuangan almarhum sejak di Mesir hingga di Indonesia, mengungkapkan bahwa KH Luthfi Thomafi aktif dalam berbagai organisasi dan kegiatan pendidikan.
“Luthfi adalah teman dekat saya, baik di Mesir maupun di Indonesia. Ia aktif dalam organisasi dan merawat pendidikan,” ujarnya.
Lebih lanjut, Gus Ghofur menyampaikan bahwa KH Luthfi Thomafi memilih berkhidmat dalam bidang kemasyarakatan dengan berpegang pada prinsip khairunnas anfa’uhum linnas, yakni sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain.
Menurutnya, kontribusi almarhum tidak hanya dalam bidang keilmuan, tetapi juga dalam gerakan sosial dan pendidikan. Ia juga dikenal sebagai salah satu pimpinan pusat GP Ansor serta pemimpin lembaga pendidikan.
Dalam pandangan KH Luthfi Thomafi, KH Maimoen Zubair merupakan sosok guru dan panutan. Ia kerap mengajak untuk sowan dan meneladani kiprah sang kiai dalam bidang pendidikan maupun kemasyarakatan.
Gus Ghofur juga membagikan pelajaran hidup yang sering disampaikan almarhum, yakni pentingnya belajar sepanjang hayat. Prinsip tersebut diwujudkan dalam konsep pitulang (pelajaran), pituduh (petunjuk), pitukon (pengorbanan), hingga pitulung (pertolongan).
Ia menjelaskan, manusia harus terus belajar dengan sungguh-sungguh agar memperoleh petunjuk. Proses tersebut membutuhkan pengorbanan, yang pada akhirnya akan berbuah pertolongan dari Allah SWT.
“Orang yang melalui proses itu akan mendapatkan pertolongan dari Allah. Setelah melewati ujian, akan muncul kekuatan dalam dirinya,” pungkasnya.
Kegiatan ini turut dihadiri KH Imam Sofwan, para alumni SMK Avicenna, wali santri, serta masyarakat sekitar.
Terpopuler
1
Sambangi PBNU, 23 PWNU Sampaikan Harapan Soal Muktamar ke-35 NU
2
5 Santri Laki-laki Jadi Korban Pelecehan Seksual, Syekh Ahmad Al Misry Jadi Tersangka
3
Innalillahi, Pengurus Muslimat NU Kemayoran Wafat dalam Kecelakaan Kereta di Bekasi
4
Stasiun Bekasi Timur Ditutup Sementara, KRL Hanya Beroperasi hingga Stasiun Bekasi
5
KA Jarak Jauh Tabrak KRL di Bekasi Timur, Gerbong Perempuan Ringsek
6
3 Orang Tewas dalam Tabrakan Kereta di Bekasi, KAI Minta Maaf Fokus Evakuasi
Terkini
Lihat Semua