Pengikut JIL Dianggap Tak Miliki Pemahaman Agama yang Utuh
NU Online Ā· Kamis, 30 Juni 2005 | 05:17 WIB
Surabaya, NU Online
Prof Dr H Hamadi B Husain yang dikukuhkan menjadi guru besar Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sunan Ampel, Surabaya, Rabu, mengkritik kelompok Jaringan Islam Liberal (JIL) dalam pidatonya.
Guru besar ke-12 dalam bidang Pemikiran Islam di Fakultas Ushuluddin IAIN Sunan Ampel, Surabaya itu menyatakan kata-kata kontroversi seperti "Selamat Datang di Wilayah Bebas Tuhan" banyak ditemui di wilayah penganut pemikiran liberal itu.
<>"Kata-kata semacam itu banyak ditemukan di wilayah Bandung, sehingga masyarakat di sekitar wilayah tersebut sempat tercengang dan bahkan tidak habis pikir," katanya dalam pidato bertajuk āDekonstruski Pemikiran Islam Liberalā itu.
Menurut dia, JIL itu merupakan virus bagi mereka yang tak memiliki pemahaman utuh, karena itu kalangan akademisi yang paham dengan ajaran-ajaran mereka harus memberikan pengertian kepada masyarakat bahwa beberapa ajaran mereka tidak sesuai dengan konsep ke-Islaman.
"Tulisan yang menyatakan āselamat datang di wilayah bebas Tuhanā menunjukkan adanya paham yang semena-mena. Seolah-olah dengan memasuki kawasan tersebut masyarakat terhindar dari penglihatan dan hukum-hukum Tuhan," katanya.
Selain itu, katanya, mereka juga sering mengeluarkan statemen yang kurang bisa dipahami, diantaranya Al Qurāan bisa diubah, nabi tetap memiliki salah, meski merupakan orang pilihan.
"Untuk mengantisipasi merebaknya paham semacam itu, masyarakat kampus hendaknya memberi pengertian yang jelas, sebab JIL secara umum menggunakan alasan yang logis untuk mendobrak dogma yang selama ini terjadi," katanya.
Tiga alasan utama yang membuat aktivis JIL berusaha mengubah cara pandang masyarakat muslim adalah adanya keterbelakangan umat Islam dengan selalu pasrah menerima apa adanya, adanya kalangan ekstrim yang dinilai JIL bukan Islam murni, dan upaya penetrasi paham dengan isu sentral mengenai sekularistik dan materialistik.
"Menurut saya, Al-Qurāan itu sudah final, bukan bisa seenaknya diubah dengan melakukan cabang-cabang seperti yang biasa dilakukan JIL. Wah, kalau seperti itu rusak agama kita nanti," katanya.(ant/mkf)
Terpopuler
1
Syuriyah PBNU Harapkan Muktamar Ke-35 Digelar di Pesantren dengan Dua Kriteria
2
Khutbah Idul Adha 2026: Menguatkan Solidaritas Melalui Semangat Berbagi
3
Khutbah Idul Adha 2026: Gotong Royong dalam Pengelolaan Kurban
4
Khutbah Jumat: Menumbuhkan Empati dan Solidaritas Sosial Melalui KurbanĀ
5
Rapat Pleno PBNU: Munas dan Konbes Digelar 20-21 Juni 2026, Lokasi Diputuskan Menyusul
6
Khutbah Jumat: Meraih Pertolongan Allah dengan Membantu Sesama
Terkini
Lihat Semua