Warta

Peringati 40 hari Gus Dur Galang Press Luncurkan Perpustakaan Guru Bangsa

NU Online  ·  Ahad, 7 Februari 2010 | 00:00 WIB

Yogyakarta, NU Online
Bertepatan dengan 40 hari meninggalnya presiden keempat RI Gus Dur, Galang Press meluncurkan Perpustakaan Guru Bangsa. Perpustakaan keliling ini adalah perpustakaan ketiga yang dimiliki Galang Press. Rencananya, perpustakaan yang dikelola sifatnya non profit ini akan melayani para pembaca di Jateng dan Jatim.

Dua perpustakaan keliling Galang Press sebelumnya hanya melayani permintaan di sekitar Jateng dan DIJ. Namun diakui, permintaan dari daerah di luar DIJ dan Jateng sudah cukup banyak. Karena itu, perpustakaan Guru Bangsa akan berkeliling hingga Jatim. Secara resmi, perpustakaan Guru Bangsa akan diluncurkan Selasa (2/9) oleh Gubernur DIJ HB X di pelataran Galang Press, Baciro.<>

Manager Litbang Galang Press A.A Kunto berkata, perpustakaan Guru Bangsa adalah bentuk apresiasi Galang Press terhadap kiprah Gus Dur dalam mengembangkan pluralisme dan ajaran merakyat.

"Momen sengaja kami paskan dengan 40 hari meninggalnya Gus Dur. Kami juga sudah menghubungi pihak keluarga untuk meminta izin menggunakan nama Guru Bangsa sebagai nama perpustakaan keliling kami yang ketiga. Dua perpustakaan sebelumnya belum kami beri nama khusus. Hanya perpustakaan keliling Galang Press saja," ujarnya di Kantor Galang Press, seperti dilansir Radar Yogya.

Nama Guru Bangsa diakui Kunto adalah simbol kedekatan Gus Dur dengan rakyat dan isu pluralisme. Rencananya, pada acara peluncuran perpustakaan keliling Guru Bangsa, keluarga Gus Dur akan turut hadir.

"Karena itu kami sepakat memakai namanya untuk perpustakaan kami. Kami juga menghiasi mobil perpustakaan ini dengan gambar Gus Dur. Mewakili Keluarga Gus Dur, akan hadir Hasyim Whid (Gus Im) dan putri pertama Gus Dur Alisa Wahid," paparnya.

Perpustakaan Guru Bangsa, meski dibuat untuk melanjutkan semangat pluralisme ala Gus Dur, tidak akan melulu berisi buku-buku mengenai pluralisme.

"Prinsipnya sama dengan perpustakaan sebelumnya. Yaitu, disesuaikan dengan target pembaca yang akan kita datangi. Kalau yang akan kita datangi adalah anak TK atau PAUD, tidak mungkin akan diisi buku pluralisme yang teoritis kan?" terangnya. (min)

Gabung di WhatsApp Channel NU Online untuk info dan inspirasi terbaru!
Gabung Sekarang