Pesantren Darul Muttaqien Ajari Santri Rajin Shodaqoh
NU Online · Senin, 23 Agustus 2010 | 01:41 WIB
Pondok Pesantren Darul Muttaqien Kabupaten Bogor, Jawa Barat, menempa para santrinya berjiwa sosial tinggi dan melestarikan tradisi "sodaqoh" atau budaya memberi.
Pimpinan Pesantren Darul Muttaqien KH Mad Rodja Sukarta di Bogor, Ahad mengemukakan, santri perlu ditempa dengan jiwa sosial tinggi, karena merupakan calon pemimpin masa depan bangsa.<>
"Pesantren adalah kawah candradimuka kepemimpinan nasional. Santri memiliki tanggungjawab sebagai seorang kader penerus perjuangan umat dan bangsa," ujar KH Mad Rodja Sukarta.
Oleh karena itu, Pesantren Darul Muttaqien mengajari para santrinya berjiwa sosial tinggi. Santri diajari selalu peka terhadap lingkungan sekitar, terutama pada lingkungan di mana ia berada.
Darul Muttaqien merupakan salah satu pesantren terbesar di Kabupaten Bogor. Pesantren tersebut juga mendapatkan anugerah dari Pemprov Jawa Barat sebagai yang terbersih tingkat provinsi.
Pesantren Darul Mutttaqien berlokasi di Jalan Parung, Desa Jabonmekar, Kecamatan Parung, Kabupaten Bogor. Unit pendidikan yang dikembangkannya yaitu TK, SD, SMP, MTs dan MA, yang berdiri di atas areal sekuas 12 hektar.
Selama Ramadhan, santri Darul Muttaqien ditempa dengan berbagai kegiatan ekstra. Selain sekolah di kelas atau ngaji di asrama, para santri juga diajak belajar bermasyarakat dengan menumbuhkan kepekaan sosial.
Program yang dikembangkan untuk menempa jiwa sosial santri yaitu dengan menggalakkan budaya "sodaqoh" selama Ramadhan.
Para santri dianjurkan menyisihkan sebagian uang jajannya untuk disumbangkan kepada masyarakat lemah ekonomi yang sangat membutuhkan perhatian.
"Setiap Ramadhan para santri dianjurkan selalu menyisihkan uang jajannya untuk disumbangkan kepada masyarakat dhu'afa," ujar ulama tamatan IAIN Syarif Hidyatullah Jakarta.
Menurut Kiai Mad Rodja, dana hasil sumbangan santri biasanya dibagikan ke masyarakat menjelang akhir Ramadhan.
"Anjuran menyisihkan uang jajan santri untuk disodaqohkan sebagai upaya pembelajaran, agar saat dewasa kelak menjadi orang yang peduli pada nasib kaum dhu'afa dan memiliki kepekaan sosial tinggi," papar Mad Rodja.
Kepekaan sosial merupakan saklah satu tujuan dari diwajibkannya puasa kepada umat Islam. Dengan puasa diharapkan terbangun harmoni yang semamin baik di tengah masyarakat, yang ditandai dengan menipisnya jurang pemisah antara yang kaya dengan yang miskin, demikian kata KH Mad Rodja Sukarta. (hir)
Terpopuler
1
17 Kader NU Diwisuda di Al-Ahgaff, Ketua PCINU Yaman Torehkan Terobosan Filologi
2
Hukum Senang atas Wafatnya Muslim Lain karena Perbedaan Mazhab, Bolehkah?
3
LF PBNU Umumkan 1 Dzulqadah 1447 H Jatuh pada Ahad 19 April
4
Mengapa Tidur setelah Subuh Sangat Berbahaya bagi Tubuh?
5
LF PBNU Rilis Data Hilal Awal Dzulqa’dah 1447 H, Berpotensi Jatuh pada 19 April
6
Bahas Konflik Iran, Ketum PBNU Lanjutkan Safari Diplomatik ke Dubes China
Terkini
Lihat Semua