Said Aqil Sampaikan Ceramah di Depan Raja Maroko
NU Online · Sabtu, 28 Agustus 2010 | 12:04 WIB
Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siradj memberikan ceramah di istana Raja di kota Cassablanca dalam acara pengajian Durus Hasaniyah Kamis (26/8) kemarin. Ia tampil di hadapan raja, keluarga istana, para petinggi pemerintahan, duta besar negara sahabat dan undangan khusus lainnya.
Setelah diawali dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an oleh seorang qari’ dari Pakistan, KH Said Aqil Siradj yang duduk di atas mimbar didaulat untuk memulai ceramahnya, tepat pada pukul 17.30 waktu setempat.<>
Dalam prolognya, Said Aqil menyampaikan sekilas hubungan antara Indonesia-Maroko, terutama di tingkat masyarakat kedua negara yang sama-sama memeluk agama Islam Ahlussunnah wal Jama’ah, pecinta ahli bait dan pengamal tasawuf yang berlandaskan pada Al-Qur’an dan Sunnah Nabi.
Kontributor NU Online di Maroko Arwani Syaerozi melaporkan, sedikitnya pengajian Ketua Umum PBNU terfokus pada empat hal. Pertama, menjelaskan kebebasan berakidah dan beragama dalam perspektif Islam. Kedua, peran negara atau penguasa dalam kebebasan beragama dan menjamin para penganutnya dalam menjalankan keyakinannya.
Ketiga, pengalaman Indonesia yang majemuk dalam memelihara kerukunan antar umat bergama dan penganut kepercayaan. Keempat, antitesis terhadap statemen yang menyatakan pemisahan antara agama-negara dalam sejarah Islam.
Ceramah Said Aqil juga direlay melalui channel Televisi Maroko. Raja Mohammed VI yang duduk di depan penceramah terlihat khusyu’ dalam menyimak apa yang disampaikan oleh Said Aqil.
Dalam ceramahnya, Said Aqil juga menegaskan bahwa para tokoh agama dan pengelola negara harus sama-sama berkesinambungan dalam menciptakan kemaslahatan bagi umat manusia, sehingga dapat menciptakan iklim yang kondusif dan bisa memberikan hak-hak rakyat secara adil, baik dari kalangan minoritas maupun mayoritas.
“Demokrasi sama sekali tidak bertentangan dengan ajaran Islam, diantara pilar utamanya adalah mengakui kemajemukan” kata Said Aqil.
Pengajian Durus Hasaniyah yang memakan waktu hampir 1 jam ini diakhiri dengan pembacaan shalawat Tijaniyah oleh Raja Mohammed VI dilanjutkan dengan bersalam-salaman dan pemberian cendera mata dari beberapa undangan kepada Raja. (arw)
Terpopuler
1
Hukum Senang atas Wafatnya Muslim Lain karena Perbedaan Mazhab, Bolehkah?
2
17 Kader NU Diwisuda di Al-Ahgaff, Ketua PCINU Yaman Torehkan Terobosan Filologi
3
LF PBNU Umumkan 1 Dzulqadah 1447 H Jatuh pada Ahad 19 April
4
Mengapa Tidur setelah Subuh Sangat Berbahaya bagi Tubuh?
5
LF PBNU Rilis Data Hilal Awal Dzulqa’dah 1447 H, Berpotensi Jatuh pada 19 April
6
Bahas Konflik Iran, Ketum PBNU Lanjutkan Safari Diplomatik ke Dubes China
Terkini
Lihat Semua