Akhir Tahun 2025, Kondisi Pengungsi dan Dunia Pendidikan Sangat Memprihatinkan di Pidie Jaya
Kamis, 1 Januari 2026 | 12:00 WIB
Pidie Jaya, NU Online
Menjelang pergantian tahun, kondisi pengungsi banjir di Kabupaten Pidie Jaya, Aceh masih jauh dari kata pulih. Kerusakan infrastruktur, khususnya fasilitas pendidikan, serta dampak psikologis yang dialami anak-anak menjadi persoalan serius yang membutuhkan perhatian segera dari semua pihak
Mantan Ketua GP Ansor Pidie Jaya, Gus Masrur, menyoroti kondisi dunia pendidikan yang terdampak parah akibat bencana banjir. Ia menyebutkan bahwa proses belajar mengajar saat ini berjalan dalam situasi yang sangat tidak layak, bahkan di beberapa tempat nyaris lumpuh total.
“Banyak ruang kelas rusak, buku pelajaran hilang, dan ada sekolah yang hancur total sehingga siswa belum bisa memulai aktivitas belajar,” ujar Gus Masrur, Rabu, (31/122025)
Menurutnya, kondisi tersebut memperlihatkan bahwa bencana tidak hanya merusak bangunan fisik, tetapi juga menghantam masa depan generasi muda.
Ia menambahkan, di tengah kondisi pengungsian yang belum sepenuhnya tertangani, anak-anak harus menghadapi situasi yang berat. Sebagian dari mereka masih tinggal di tenda atau menumpang di rumah kerabat, dengan fasilitas terbatas dan lingkungan yang belum kondusif untuk belajar.
Hal ini, kata dia, memperparah keterlambatan pemulihan sektor pendidikan.
Selain kerusakan fisik, Gus Masrur menekankan adanya trauma psikologis yang dialami para siswa. Ketakutan, kecemasan, dan kehilangan rasa aman masih membekas, terutama bagi anak-anak yang menyaksikan langsung kedahsyatan banjir.
“Trauma ini tidak boleh diabaikan. Anak-anak membutuhkan pendampingan psikologis agar mereka bisa kembali belajar dengan tenang,” tegasnya.
Ia mendorong pemerintah daerah dan instansi terkait untuk segera mengambil langkah konkret dan terukur. Tidak hanya fokus pada perbaikan bangunan sekolah, tetapi juga menyediakan program pendampingan trauma (trauma healing) bagi siswa dan tenaga pendidik.
Menurutnya, pemulihan pendidikan harus berjalan seiring dengan pemulihan fisik pascabencana.
“Pendidikan mereka sedang terluka. Jika dibiarkan berlarut-larut, ini akan berdampak serius pada masa depan generasi muda Pidie Jaya,” kata Gus Masrur.
Ia menilai, akhir tahun seharusnya menjadi momentum evaluasi dan percepatan pemulihan, bukan justru meninggalkan persoalan mendasar yang dihadapi masyarakat terdampak.
Gus Masrur juga mengajak seluruh elemen masyarakat, termasuk organisasi kepemudaan, lembaga sosial, dan tokoh agama, untuk turut berperan aktif membantu pengungsi, khususnya anak-anak.
Menurutnya, solidaritas sosial sangat dibutuhkan agar para korban tidak merasa berjuang sendirian di tengah keterbatasan. Di tengah suasana jelang tahun baru, ia mengingatkan agar perhatian terhadap pengungsi tidak luntur oleh euforia pergantian tahun.
“Bagi mereka yang masih hidup dalam keterbatasan, tahun baru bukan tentang perayaan, tetapi tentang harapan untuk bisa kembali hidup normal,” ujarnya.
Kondisi ini menjadi pengingat bahwa pemulihan pascabencana bukan sekadar urusan waktu, melainkan soal keseriusan dan kepedulian bersama.
Bagi masyarakat Pidie Jaya, harapan itu kini bertumpu pada langkah nyata agar pendidikan, sebagai fondasi masa depan, tidak ikut hanyut bersama bencana.
============
Para dermawan bisa donasi lewat NU Online Super App dengan mengklik banner "Darurat Bencana" yang ada di halaman Beranda atau via web filantropi di tautan berikut: filantropi.nu.or.id.