Mojtaba Khamenei: Iran Tidak Akan Lupakan Pembalasan atas Darah Para Syuhada
Jumat, 13 Maret 2026 | 10:00 WIB
Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei bertekad membalas serangan AS-Iran. Ia juga akan melanjutkan pemblokiran Selat Hormuz, yang merupakan urat nadi energi dunia. (Foto: Tasnim News)
Jakarta, NU Online
Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei menyampaikan pesan pertamanya kepada rakyat Negeri Mullah bahwa Iran tidak akan berhenti membalas atas serangan AS-Israel yang telah banyak menumpahkan darah.
“Saya meyakinkan semua orang bahwa kami tidak akan mengabaikan pembalasan atas darah para syuhada anda. Pembalasan yang kami maksudkan tidak hanya terkait dengan kemartiran Pemimpin Revolusi yang agung; melainkan, setiap anggota bangsa yang gugur sebagai syuhada oleh musuh adalah subjek terpisah untuk berkas pembalasan,” kata Mojtaba dalam pesan tersebut, seperti dikutip Tasnim News, Kamis (12/2/2026).
“Kami akan sangat peka terhadap darah anak-anak kami. Oleh karena itu, kejahatan yang sengaja dilakukan oleh musuh di sekolah Shajareh Tayyebah di Minab dan insiden serupa memiliki arti khusus dalam hal ini,” imbuhnya.
Ia menyoroti serangan rudal tomahawk AS terhadap gedung SD yang menyebabkan sedikitnya 175 orang gugur dan banyak di antaranya anak-anak.
Iran mengisyaratkan akan terus bertempur habis-habisan melawan AS dan Israel.
“Kehendak massa adalah untuk melanjutkan pertahanan yang efektif dan mematikan,” ujar pria yang ayah, istri, dan saudara perempuannya dibunuh dalam agresi AS-Israel itu.
“Demikian pula, upaya memblokir Selat Hormuz tidak diragukan lagi harus terus digunakan,” tegas Mojtaba.
Akibat dari penutupan selat penting tersebut, sejauh ini, adalah mengguncang perekonomian global, termasuk menyebabkan lonjakan kenaikan harga BBM di AS.
Mojtaba menekankan, Iran akan menuntut ganti rugi atas perang kali ini. Ia mengancam akan melakukan penyitaan terhadap aset AS-Israel.
“Kita akan menuntut ganti rugi dari musuh. Jika mereka menolak, kita akan menyita aset mereka sebanyak yang kita anggap pantas, dan jika itu tidak memungkinkan, kita akan menghancurkan aset mereka dalam jumlah yang setara,” tegasnya.
Pria kelahiran 8 September 1969 itu juga memberi pesan kepada para pemimpin dan tokoh berpengaruh di beberapa negara di Kawasan.
“Dalam invasi baru-baru ini, beberapa pangkalan militer digunakan, dan tentu saja, seperti yang telah kami peringatkan secara eksplisit dan tanpa menargetkan negara-negara tersebut, kami hanya menyerang pangkalan-pangkalan tersebut,” kata Mojtaba.
Menurutnya, negara-negara Kawasan ini harus mengklarifikasi posisi mereka dengan para pembunuh rakyat kami.
“Saya merekomendasikan agar mereka menutup pangkalan-pangkalan tersebut sesegera mungkin karena mereka pasti telah memahami sekarang bahwa klaim Amerika tentang membangun keamanan dan perdamaian hanyalah kebohongan,” ujar Mojtaba.
Ia mengucapkan terima kasih kepada para pejuang perlawanan di garda terdepan yang telah membela bangsa dan tanah air Iran.
Mojtaba juga tak lupa menyampaikan belasungkawa yang mendalam kepada keluarga yang berduka atas para syuhada. Ia menyebut beberapa keluarganya juga syahid dalam agresi AS-Israel pada Ramadhan tahun ini.
“Selain ayah saya, yang kehilangannya telah menjadi duka cita publik, saya telah mempercayakan istri saya yang terkasih dan setia, yang kepadanya saya menaruh banyak harapan, saudara perempuan saya yang setia yang mengabdikan dirinya untuk melayani orang tua kami dan akhirnya menerima pahalanya, bersama dengan anak kecilnya, dan suami dari saudara perempuan saya yang lain, seorang yang terpelajar dan terhormat, kepada kafilah para martir," kata Mojtaba.
Alumnus pesantren atau Hauzah Qom itu pun mendoakan rakyat Iran, umat Islam, dan seluruh kaum tertindas.
“Saya berharap karunia Ilahi yang istimewa akan meliputi seluruh rakyat Iran, dan bahkan seluruh umat Muslim serta kaum tertindas di dunia, selama jam-jam, hari-hari, dan bulan suci Ramadhan yang berharga ini,” harap Mojtaba.
Sementara itu, Presiden AS Donald Trump mengatakan kepada wartawan bahwa peristiwa yang terjadi di Iran adalah sebuah kunjungan yang akan menjauhkan AS dari perang.
"Bagi mereka, ini adalah perang. Bagi kita, ternyata lebih mudah dari yang kita duga," ujar Trump, sebagaimana dikutip AP News.
Serangan AS-Israel terhadap Iran menuai kritik dari berbagai komunitas internasional. Di Indonesia, Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf mengutuk serangan AS-Israel atas Iran.
“Serangan AS dan Israel atas Iran adalah tindakan brutal yang kembali merusak tatanan internasional bahkan berpotensi memicu konflik global yang tidak terkendali serta menciptakan alasan bangkitnya kembali radikalisme dan ekstremisme. Saya mengutuk keras,” tegas Gus Yahya, pada 2 Maret 2026.
Gus Yahya juga mengungkapkan rasa belasungkawa dan duka cita yang mendalam atas wafatnya Ali Khamenei akibat serangan itu. Ia mengajak seluruh umat Islam dan segenap komunitas internasional untuk mendoakan Bangsa Iran agar tegar dan dikaruniai kekuatan untuk melawati kemelut ini dengan selamat.