Internasional

Mushala Tenda di Pelabuhan Taiwan, Tempat Ibadah dan Silaturahim Para ABK

Jumat, 6 Maret 2026 | 09:08 WIB

Mushala Tenda di Pelabuhan Taiwan, Tempat Ibadah dan Silaturahim Para ABK

Mushala tenda di pelabuhan Taiwan. (Foto: dok. Zainut Tholibin)

New Taipei, NU Online

Mushala Thoriqul Hidayah yang berada di kawasan Pelabuhan Fuji Ikang, Taiwan, menjadi tempat ibadah sekaligus mempererat silaturahim para awak kapal atau ABK. Mushala ini dibangun secara sederhana menggunakan tenda seadanya dan berdiri tepat di tepi laut.


Salah satu dai dari Lembaga Dakwah (LD) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Ustadz Zainut Tholibin, melaksanakan kegiatan dakwah di mushala tersebut, pada Rabu (4/3/2026).


Menurut Ustadz Zainut, mushala yang berdiri sekitar empat hingga lima tahun terakhir ini menjadi jawaban atas kebutuhan jamaah yang sebelumnya hanya bisa melaksanakan shalat di pinggiran pelabuhan dengan kondisi terbatas.


“Dulu sebelum ada mushala, para jamaah hanya bisa shalat di pinggiran pelabuhan tanpa penutup apa pun, hanya beralaskan tikar seadanya,” ujarnya.


Seiring waktu, para jamaah secara gotong royong membangun mushala sederhana ini, yang kini menjadi tempat mereka berkumpul untuk beribadah sekaligus mempererat hubungan sosial.


Mayoritas jamaah yang hadir adalah para ABK yang bekerja di kapal penangkap ikan. Ketika tidak sedang berlayar, jumlah jamaah di mushala ini bisa mencapai sekitar 130 orang.


“Walaupun mushala ini hanya berupa tenda sederhana di tepi laut, semangat jamaahnya luar biasa. Mereka menjadikan tempat ini sebagai pusat ibadah sekaligus tempat memperkuat silaturahim,” tambahnya.


Dalam kajian yang digelar pada Rabu malam, Ustadz Zainut menyampaikan pesan tentang tiga amal yang tidak akan terputus pahalanya, yaitu sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan doa dari anak yang saleh.


Ia menjelaskan bahwa sedekah jariyah merupakan bentuk amal sosial yang berdampak jangka panjang.


“Jangan sampai kita meninggalkan sedekah. Sedekah itu bukan hanya membantu meringankan beban saudara kita, tetapi juga menjadi amal yang terus mengalir pahalanya,” jelasnya.


Selain itu, ia menekankan pentingnya mengamalkan ilmu yang dimiliki, meskipun ilmu tersebut sederhana.


“Ilmu yang bermanfaat harus diamalkan, walaupun hanya sebatas pengetahuan kecil atau pekerjaan ringan. Jika kita mengajarkan kepada orang lain, lalu orang tersebut mengajarkannya lagi kepada orang lain, maka itu menjadi amal jariyah ilmu yang terus mengalir,” katanya.


Ustadz Zainut juga mengingatkan bahwa anak yang saleh menjadi tabungan amal bagi orang tua. Oleh karena itu, pendidikan akhlak harus menjadi perhatian utama dalam keluarga.


“Anak yang saleh akan menjadi penolong bagi orang tuanya, baik dengan sikap hormat, bakti, maupun doa yang mereka panjatkan,” tuturnya.


Dalam sesi tanya jawab, salah satu jamaah menanyakan tentang hukum seseorang yang tetap menjalankan shalat dan puasa tetapi memiliki kebiasaan mabuk-mabukan setiap malam.


Menanggapi pertanyaan itu, Ustadz Zainut menjelaskan bahwa shalat, puasa, dan kebiasaan mabuk adalah dua hal yang berbeda. Menurutnya, ibadah shalat dan puasa tetap sah selama syarat dan rukunnya terpenuhi serta tidak melakukan hal yang membatalkan keduanya.


“Shalat dan puasa tetap sah selama syarat dan rukunnya terpenuhi. Tetapi jangan sampai shalat dalam keadaan mabuk atau mabuk di siang hari ketika berpuasa karena itu dapat membatalkan ibadah,” jelasnya.


Ia menambahkan bahwa kebiasaan menjalankan ibadah justru dapat menjadi sarana untuk memperbaiki diri dari perilaku keliru.


“Jangan karena merasa masih sering mabuk lalu meninggalkan shalat dan puasa. Justru ibadah itu dapat membantu membersihkan hati dan mengurangi kebiasaan buruk tersebut,” pungkasnya.