Jurnalistik Filantropi Se-Pekalongan Raya, Perkuat Kemandirian dan Syiar Organisasi Hingga ke Akar Rumput
Senin, 4 Mei 2026 | 07:00 WIB
Para peserta dan pemateri Jurnalistik Filantropi se-Karesidenan Pekalongan Raya. (Foto: NU Online Jateng/M Faiqul Himam)
Pemalang, NU Online
NU Online Jawa Tengah bekerja sama dengan NU Online Institute, Lembaga Amil Zakat, Infak, dan Sedekah Nahdlatul Ulama (LAZISNU), dan Lembaga Ta’lif wan Nasyr (LTN) NU Pemalang menggelar Workshop Jurnalistik Filantropi se-Karesidenan Pekalongan Raya. Kegiatan ini berlangsung di Aula Gedung PCNU Pemalang, Sabtu lalu.
Workshop ini menjadi bagian dari upaya memperkuat kapasitas kader Nahdlatul Ulama dalam bidang media sekaligus pengelolaan filantropi, agar dakwah dan kiprah NU semakin dirasakan hingga ke tingkat akar rumput.
Ketua PCNU Pemalang, KH Abu Joharudin Bahry, dalam sambutannya menegaskan pentingnya peran media dalam menyampaikan berbagai aktivitas dan capaian NU kepada masyarakat luas, khususnya warga di tingkat bawah.
“Selama ini banyak prestasi NU yang belum tersampaikan dengan baik. Padahal warga NU di tingkat bawah perlu mengetahui bahwa organisasi ini memiliki banyak kontribusi nyata,” ujar Gus Bahry diberitakan NU Online Jateng.
Ia membandingkan kondisi saat ini dengan masa lalu, di mana NU sering menjadi perbincangan publik. Kini, menurutnya, NU justru harus lebih aktif menyampaikan narasi sendiri melalui media yang dimiliki.
“NU adalah kekuatan besar. Kalau dulu kita harus turun ke bawah (turba) dengan waktu yang tidak sebentar, sekarang dengan media informasi bisa sampai ke mana-mana dengan cepat,” tambahnya.
Ia juga menekankan bahwa jurnalistik dan filantropi merupakan dua hal yang saling berkaitan. Jurnalistik menjadi sarana publikasi melalui NU Online, sedangkan filantropi berkaitan dengan penguatan program melalui LAZISNU.
“Ini yang perlu kita pelajari bersama, bagaimana menghubungkan keduanya agar manfaatnya semakin luas,” tegasnya.
Sementara itu, Pimpinan Redaksi NU Online, Ivan Aulia Ahsan, menyampaikan bahwa NU Online Institut dalam setahun terakhir terus mengintensifkan pelatihan jurnalistik di berbagai daerah.
Ia mengungkapkan, meskipun dengan sumber daya terbatas, NU Online kini telah berkembang menjadi media keislaman terbesar di Indonesia. Bahkan, NU Online menjadi media digital pertama yang dimiliki organisasi masyarakat Islam di Tanah Air.
“Selama 23 tahun, NU Online terus bertransformasi hingga memperoleh sertifikasi dari Dewan Pers. Kita tidak lagi sekadar media komunitas, tetapi sudah menjadi media yang diakui negara,” jelasnya.
Lebih lanjut, ia mengatakan bahwa NU Online saat ini tengah melakukan reaktivasi kontributor di setiap cabang, dengan fokus utama di wilayah Jawa dan Madura. Kegiatan workshop ini merupakan tindak lanjut dari konsolidasi sebelumnya yang telah digelar di tingkat provinsi.
“Tahun lalu kita sudah berkumpul di Jawa Tengah di Cilacap. Ini adalah lanjutan per karesidenan. Pekan lalu di Kedu Raya, dan hari ini di Pekalongan Raya,” katanya.
Ivan menekankan pentingnya keberlanjutan dari kegiatan semacam ini, agar tidak berhenti sebatas seremoni.
“Yang sering ada itu acaranya, tapi yang jarang adalah hasil akhirnya. Harapannya, minimal setiap PCNU memiliki satu orang yang siap dan aktif meliput setiap kegiatan,” tandasnya.
Workshop ini diikuti oleh perwakilan dari tujuh PCNU di wilayah Karesidenan Pekalongan Raya, yang diharapkan mampu menjadi motor penggerak penguatan media dan filantropi NU di daerah masing-masing.